Bismillaahirrahmaanirrahiim
Belajar dan mengajarkan AlQur’an adalah kewajiban setiap muslimin selama hidup di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah (SAW) dalam haditsnya: Dari Usman bin ‘Affan ra. telah berkata Rasulullah (SAW), “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari AlQur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Dengan belajar dan mengajarkan AlQur’an kita sebagai makhluk ciptaan ALLAH dapat bermakrifat terhadap DzatNya, dapat mengenal diri sendiri dan hakikat penciptaan kita sebagai hambaNya yang sedianya harus menumpukan segala harapan dan pencapaian hanya pada ALLAH ‘azza wa Jalla. AlQur’an yang diturunkan kepada Rasulullah sebagai prototype AlQur’an itu sendiri merupakan pedoman kita dalam setiap sendi kehidupan. Tidak hanya mengatur manusia sebagai individu, AlQur’an dengan kesempurnaannya mengatur manusia dalam kelompoknya, manusia dalam keluarganya, manusia dalam masyarakatnya, dan manusia dalam kesatuan yang lebih luas yaitu pemerintahannya.

Sepeninggal Rasulullah (SAW), 14abad yang lalu, Rasulullah (SAW) yang memahami dan mencemaskan tentang akan terjadinya perpecahan di dalam tubuh ummat akibat ulah kaum fasik, munafik dan musyrik yang bersembunyi di balik tubuh ummat pun berpesan agar menjadikan AlQur’an satu-satunya pegangan hidup kita. Sebagai pengikutnya pula kita berkewajiban mengikuti segala tata cara, aturan dan peraturan yang telah dicontohkan Rasulullah (SAW) yang dapat kita pelajari dari berbagai hadits.
Namun jauhnya jarak yang memisahkan kita dengan beliau (SAW), 14 abad waktu terhitung, berbagai penyimpangan yang merupakan usaha kaum fasik, munafik, dan musyrik serta musuh-musuh abadi ISLAM telah berhasil menyebar fitnah dan keragu-raguan yang memecah belah ummat dan menjadikan kita jauh bahkan melupakan ISLAM sebagai diinulHaq. Beratus kali AlQur’an direvisi demi memperindah bacaannya dan memperbaiki redaksinya. Beratus kali pula kelompok terselubung dari kaum fasik dan munafik berusaha menyesuaikan tafsir AlQur’an sebagai kalam ILLAHIyah untuk kepentingan mereka. Namun kebanyakan kita yang ‘buta AlQur’an’ tidak mengetahui dan akan semakin kehilangan nur ILLAHI ini apabila kita terlambat menyadari.
Karena itu marilah kita sesama muslim kembali belajar dan mengajarkan AlQur’an. Dengan bekal mata, telinga, dan hati yang ALLAH titipkan pada kita untuk dapat menyaring kebenaran dari kebathilan agar kemudian dapat membekali diri kita menjadi muslimin yang lebih baik sehingga selamatlah kehidupan kita di dunia dan di akhirat kelak, aamiin wa insya ALLAH.
Beberapa kaidah yang harus kita perhatikan dalam belajar dan mengajarkan AlQur’an:
I. Membaca
Iqra’ adalah wahyu pertama yang turun pada Rasulullah (SAW). Kejawiban kita untuk belajar yang dimulai dengan membaca tercermin dalam ayat tersebut. Membaca di sini tentu saja harus diiringi dengan tadabbur terhadap makna yang terkandung dalam bagian AlQur’an yang kita baca. Meski kelihatan sederhana, namun dari membaca inilah pintu pengetahuan kita terhadap AlQur’an akan dibukakan ALLAH (insya ALLAH).
II. Menggunakan akal untuk mencerna
Setelah membaca AlQur’an dan terjemahannya, sedianya kita dapat merenungi makna yang terkandung dalam bagian AlQur’an yang kita baca dengan modal akal yang telah diberikan ALLAH pada kita. Sebagai manusia yang merupakan satu-satunya makhluk ALLAH yang diberikan nikmat akal ini, sedianya kita dapat menyaring informasi yang kita baca dan memaksimalkan akal kita untuk memahami kandungan ayat tersebut.
Contohnya:
AlQur’an surah AlGhaasiyah (QS. 88) yang merupakan berita mengenai hari kiyamat.
- Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari kiyamat?
- Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk
- Karena bekerja keas lagi kepayahan
- Namun mereka memasuki api yang sangat panas (neraka)
- Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas
- Tidak ada makanan bagi mereka selain dari onak yang berduri
- Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar
- Pada hari itu banyak pula wajah yang berseri-seri
- Mereka senang dengan usahanya sendiri
- Dan mereka beada dalam surga yang tinggi
- Di sana kamu tidak mendengar perkataan yang tidak berguna
- Di sana ada mata air yang mengalir
- Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan
- Dan gelas-gelas yang tersedia di dekatnya
- Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun
- Dan permadani yang terhampar
- Maka tidakkah mereka memperhatikan UNTA bagaimana dia diciptakan?
- Dan langit bagaimana ia ditinggikan?
- 19. ..
Pada ayat ke 17 dari berita hari kiyamat dan janji ALLAH terhadap orang yang berbuat kemunkaran dan orang yang berbuat kebaikan muncullah ayat tersebut, “Maka tidakkah mereka memperhatikan UNTA bagaimana dia diciptakan?” Akal yang berfikir dan mentadabburi kandungan surah AlGhaasiyah sedianya akan menyaring informasi tersebut kemudian akan muncul berbagai pertanyaan:
- Kenapa dari rangkaian ayat 1-16 tiba-tiba kita disuruh memperhatikan UNTA? Sementara surah-surah pendek dalam AlQur’an (terkumpul dalam juz’amma) biasanya merupakan satu kesatuan yang menyeluruh?
- Kenapa ayat itu menggunakan binatang UNTA? Apa kelebihan unta dari makhluk ciptaan ALLAH yang lain? Sementara berbagai ayat bahkan salah satu surah dalam AlQur’an menggunakan sapi betina (baqarah)?
- Apakah benar kata ilal ibli (unta) sedianya memang kata yang asli ketika ayat itu diturunkan ataukah ada yang khilaf dalam penulisannya? Coba kita perhatikan redaksionalnya apabila tulisan tersebut ditambahkan satu huruf ‘syin’ menjadi ilal iblisa (iblis) yang artinya akan berubah menjadi: “Maka tidakkah mereka memperhatikan IBLIS bagaimana dia diciptakan?”
III. Membandingkan dan mengambil saripati ilmu
Setelah kita membaca, men-tadabburi, kemudian men-tafakkuri bagian AlQur’an yang kita baca maka untuk dapat menyaring mana yang haq dan yang tidak, kita dapat membaca literatur lain berupa tafsir-tafsir ulama yang sekarang banyak sekali beredar di pasaran. Meskipun akan sedikit membingungkan mengingat kepercayaan kita pada ulama sebagai ahli agama, insya ALLAH atas kehendak ALLAH dan dengan hidayahnya kita dapat menyaring kebenaran dan mengambil saripati ilmu dari AlQur’an yang telah kita baca dan pelajari.
IV. Mengamalkan kemudian menyampaikan
Belajar dan mengajarkan AlQur’an adalah kewajiban kita sebagai muslimin selama hidup di dunia. Meski yang kita baca sedikit dan yang kita pahami lebih sedikit dari yang kita baca, pengamalan terhadap kandungan AlQur’an yang kita baca adalah suatu kemestian. Sebagai orang beriman, tidaklah sempurna iman kita apabila hanya lisan kita yang membaca dan tidak dibarengi dengan pengamalan dalam perbuatan yang secara otomatis akan mematri bagian AlQur’an tersebut dalam hati kita sebagai bentuk keyakinan dalam berISLAM.
Belajar dan mengajarkan AlQur’an adalah kewajiban kita sebagai muslimin selama hidup di dunia. Sabda Rasulullah (SAW), “Sampaikanlah meski hanya satu ayat” (HR. Muslim) menjadi acuan kita untuk dapar mengajarkan AlQur’an dari apa-apa yang telah kita pelajari.
Wallaahu ‘alam bisshawaab.
Alhaq miRRabbikum, falaa takuunannaa minal mumtariin.
Leave a Reply