on August 18, 2011 by admin in Tauhid, Comments (0)

Mengenal ALLAH: Yang dibenci dan disukai NYA

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mengenal ALLAH (ma’rifatullah) akan menjadi sangat sulit dan tak berujung apabila kita mencoba menganalogikan ALLAH dengan zat atau makhluk lain yang bersifat kebendaan. Karena analog-analog Tuhan dengan sifat kebendaan akan memiliki kelemahan dan kekurangan. Sedangkan sesuatu yang memiliki kelemahan dan kekurangan tidak mungkin menjadi RABB semesa alam. ALLAH sebagai RABB dan KHALIK memiliki nama (sebutan) dan sifat yang telah dibahas ditulisan yang lalu. Pemahaman yang baik dan benar mengenai nama (sebutan) bagi ALLAH (RABBUL ‘alamin, Ar-RAHMAN Ar-RAHIM, KHALIK, MALIK) dan sifat-sifatNYA merupakan pondasi dasar dalam pembentukan akar tauhid dalam diri seseorang, yang tidak akan goyang dan lekang dimakan waktu atau zaman.

ALLAH sebagai satu-satunya PENCIPTA dan PENGUASA seluruh alam memiliki hal-hal yang IA benci atau sukai yang wajib kita ketahui, agar secara sengaja atau tidak, kita tidak terperosok di dalamnya dan menjadi orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Hal yang dibenci ALLAH, satu-satunya hal yang IA benci adalah menyekutukan IA dengan ‘ilah’ yang lain. ALLAH adalah Al-AHAD, satu-satunya RABB yang menciptakan dan menguasai alam semesta. Menyekutukan ALLAH dengan ‘ilah’ yang lain adalah perbuatan syirik yang tidak ada ampunan bagi pelakunya di sisi ALLAH kecuali dia bertaubat dengan sebenar-benar taubat dan berikrar untuk tidak kembali pada kesyirikannya. ‘Ilah’ yang dimaksudkan di sini adalah seseorang atau sesuatu (baik wujud maupun ghaib) yang dijadikan sembahan, yang dijadikan tempat meminta atau memohon pertolongan, yang dijadikan tempat berlindung, yang dijadikan tumpuan pengharapan dan tidak ada yang lain selain ia (ilah ini). Misalnya patung-patung emas Fir’aun yang menjadi ‘ilah’ bagi Fir’aun dan kaumnya, Jesus dan patung rupaannya yang dijadikan ‘ilah’ bagi ummat Nasrani, Jin yang dianggap dewa-dewa sembahan ummat hindu/budha yang dirupakan wujudnya dalam patung, pohon kayu besar yang dikeramatkan oleh aliran animisme (sebagaimana dikisahkan pada ummat nabi Nuh A.S), dan ‘ilah-ilah’ lain yang diadakan dan ditemukan oleh manusia untuk menempati posisi yang di-TUHAN-kan yang semestinya hanya ALLAH, RABBUL ‘alamin.

Dalam kelompok tarbiyah tertentu mengenal istilah ‘ilah’ manusia berupa orang tua, anak, kekasih, istri atau suami yang pada kehidupan sehari-hari sering menjadi tumpuan harapan, lebih diutamakan dari apapun, sangat disayangi/dicintai, sangat diimpi-impikan kehadirannya siang dan malam, sangat diperhatikan dan sangat diutamakan. Namun pada pemahaman tauhid yang benar, hal seperti ini bukanlah termasuk ‘ilah’ karena tidak tergolong pada men-TUHAN-kan orang tua, anak, kekasih, istri atau suami tadi. Kecintaan makhluk terhadap makhluk lainnya adalah fitrah , apakah itu kecintaan suami terhadap istrinya, atau ibu terhadap anaknya, orang tua terhadap anaknya, dan seseorang terhadap idaman hatinya. ‘Ilah’ yang sebenarnya adalah sekutu ALLAH yang menyetarakan atau menyerupakan atau menggantikan posisi ALLAH sebagai Al-AHAD, satu-satunya RABB semesta alam.

Adapun hal yang disukai ALLAH, melebihi hal-hal lain yang IA sukai adalah apabila seorang hambanya mencari jalan untuk lebih mendekatkan diri pada-NYA. Apakah itu di dalam sholat, di dalam tilawah AlQur’an, atau di dalam amalannya sehari-hari. Sampai-sampai Jibril pernah membuat perandaian yang disampaikannya pada Rasulullah (SAW), “Apabila seorang hambaKU datang kepadaKU dengan berjalan maka AKU akan datang padanya dengan ‘berlari’!” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Walaahu ‘alam bish shawab

Tags: , , , , , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>