on August 8, 2011 by admin in Aqidah, Tarbiyah, Tauhid, Comments (0)

Mengenal ALLAH: Nama dan Sifat NYA

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mengucapkan “Laa Ilaaha illaa ALLAH” adalah perkara yang mudah, namun mengamalkannya dalam keseharian sangatlah berat tetapi bukan pula sesuatu yang tidak mungkin. Hal pertama yang harus kita lakukan untuk mencapainya adalah dengan mengenal ALLAH sebagai RABB dan KHALIK (Pencipta). Proses mengenal ALLAH ini (ma’rifatullah) sebagaimana dijelaskan di tulisan sebelumnya akan menjadi sangat sulit dan tak berujung apabila kita mencoba menganalogikan ALLAH dengan zat atau makhluk lain yang bersifat kebendaan. Karena analog-analog Tuhan dengan sifat kebendaan akan memiliki kelemahan dan kekurangan. Sedangkan sesuatu yang memiliki kelemahan dan kekurangan tidak mungkin menjadi RABB semesa alam.

ALLAH sebagai RABB semesta alam memiliki nama (panggilan atau sebutan) bagi hambaNYA agar dapat mengenalNYA dan lebih dekat denganNYA. ALLAH sebagai RABB memiliki sifat-sifat yang tak satupun menyerupai makhlukNYA dan jauh dari segala kekurangan dan keniscayaan duniawi. Nama dan sifat ALLAH ini dikenal dengan ‘asmaul husna’ meski demikian tidaklah 99 nama yang baik itu cukup untuk mewakili ALLAH sebagai RABB semesta alam.

Secara garis besarnya, agar lebih mudah untuk dimengerti dan dipahami, nama dan sifat ALLAH dapat dikelompokkan menjadi dua: ALLAH sebagai RABB, dan ALLAH sebagai KHALIK (Pencipta).

I. ALLAH, RABBUL ‘alamin
ALLAH sebagai RABB adalah ALLAH yang Ahad (Satu, tapi tidak ada duanya). RABB yang tidak ber-anak dan tidak pula diper-anak kan. RABB yang tidak membutuhkan bantuan/sekutu terhadap kuasaNYA atas langit, bumi dan seluruh alam, karena IA adalah satu-satunya RABB yang MAHA KUASA dengan DzatNYA yang Satu (Al-Ahad).
“Katakanlah, “Segala Puji bagi ALLAH yang tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu di dalam kekuasaanNYA.” (QS. Al-Isra: 111)

Dalam suatu negara, apabila terdapat dua kekuasaan yang memerintah, maka sudahlah pasti negara itu akan hancur dan tidak akan bertahan kesinambungannya. Misalnya di langit dan di bumi, masing-masing terdapat Tuhan yang menguasai bagiaannya. Baik Tuhan langit maupun Tuhan bumi akan merasa lebih berkuasa satu terhadap yang lain. Belum lagi kecemburuan yang bisa muncul apabila Tuhan langit melihat apa yang terbentang di bumi dan membandingkannya dengan apa yang ia punyai di langit. Sementara Tuhan bumi pun pasti memiliki hasrat untuk menguasai langit yang tinggi dan menjadi satu-satunya penguasa di dunia ini. Maka persiteruanpun akan terjadi. Tuhan langit dan Tuhan bumi dengan kekuasannya masing-masing akan berperang memperebutkan hak kuasa atas langit dan bumi. Dapat kita bayangkan apabila hal ini terjadi. Langit akan runtuh sementara bumi akan porak poranda. Kedua Tuhan yang sama kuat dan sama berkuasanya akan menjadi tangan pertama yang menghancurkan dunia, yang sejatinya mereka ciptakan sendiri untuk kesejahteraan makhluknya.

Maka itu hanya ada satu Al-Ahad, ALLAH, yang tidak ada sekutunya baik di langit maupun di bumi, baik hari ini maupun hari penghabisan (yaumul akhir/hari kiamat). Hanya ada satu Al-Ahad, ALLAH, yang tidak membutuhkan bantuan Tuhan-Tuhan atau kekuatan lain untuk membina langit, bumi dan setiap ciptaanNYA, hanya ada ALLAH yang tidak ber-anak dan tidak pula diper-anakkan.
“DIA tidak ber-anak dan tidak pula diper-anakkan, dan tak ada sesuatupun yang setara dengan DIA.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)

ALLAH sebagai RABB, adalah ALLAH yang tidak ada satupun dzat atau makhluk yang menyerupai IA, tidak ada satupun sifatNYA yang setara dengan sifat makhlukNYA, tidak berkesudahan dan tidak mati.
“Bertakwalah kepada ALLAH yang hidup kekal dan tidak mati,” (QS. Al-Furqan: 58)

ALLAH sebagai RABB adalah ALLAH yang MAHA KUASA dan MAHA BERKEHENDAK. Tidak ada satupun ketentuan di muka bumi ini selain adalah kehendakNYA. Hidup dan mati, pergantian siang dan malam, perubahan cuaca dan iklim, musibah dan bencana alam, adalah kehendak ALLAH yang tak satupun dari makhlukNYA dapat menangguhkan atau menghalangi terjadinya. Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an:
“Dan jika ALLAH berkehendak terhadap sesuatu maka IA hanya cukup mengatakan ‘kun fayakun!’ (jadilah!) maka jadilah ia.” (QS.Al-Baqarah: 117)

Proses penciptaan manusia, dari setetes nutfah (mani) yang kemudian menjadi seonggok daging yang tertanam di dalam rahim, kemudian dikuatkan dan membesar sampai ditiupkan ruh ke dalamnya adalah kehendak ALLAH terhadap manusia dan ciptaanNYA yang lain. Bukanlah suatu peristiwa yang luar biasa apabila kita mendengar ada seorang ibu yang melahirkan anak kembar atau malah sepasang suami istri yang baru dikarunia keturunan setelah belasan tahun menikah. Hal itu terjadi semata-mata karena proses penciptaan itu adalah mutlak hak dan kehendak ALLAH.
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami lah sebaik-baik yang menentukan.” (QS. Al-Mursalat: 20-23)

Penciptaan langit dan bumi serta gugusan planet dalam antariksa adalah kehendak ALLAH yang membangunnya dengan sangat mudah. Tujuh lapis langit sebagaimana yang disebutkan dalam AlQur’an, hamparan bumi dengan laut dan gunung tersusun-susun, bulan dan matahari yang muncul silih berganti, serta bintang-bintang yang muncul menghiasi malam adalah serangkaian ciptaan ALLAH yang tercipta atas kehendakNYA dan sebagai bukti MAHA Kaya ALLAH dengan keindahan dan kesempurnaan ciptaanNYA. Tidak ada kekurangan dan kecacatan pada struktur bumi tersebut, tidak pula ada yang tidak seimbang sehingga langit dan bumi tidak pernah runtuh, bulan dan matahari muncul sesuai waktunya, bintang-bintang di antariksa tidak saling bertabrakan dalam lintasan orbitnya.
“IA berkehendak menciptakan langit, lalu disempurnakanNYA tujuh langit.”(QS. Al-Baqarah: 29)
“Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang serta pemeliharaannya. Demikianlah ketentuan ALLAH Yang MAHA Berkehendak.” (QS.Al-Fushilat: 41)
“Kami menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”(QS. Al-Hijr: 19)

ALLAH, RABBUL ‘alamin, adalah RABB yang MAHA Pemurah dan MAHA Penyayang (Ar-RAHMAN, Ar-RAHIM), yang memberikan rezeki dengan menurunkan hujan, menerbangkan awan, mengatur pergantian musim, mengganti siang dengan malam, memerintahkan matahari bersinar terang, yang menjadikan sebagian bumiNYA subur dan sebagian lagi gersang (dengan kelebihan meski berkekurangan), sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an:
“Segala Puji bagi ALLAH, RABB semesta alam, yang MAHA Pemurah dan MAHA Penyayang.” (QS. Al-Fatiha: 2-3)
“ALLAH, IA lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan ALLAH membentangkannya di langit menurut yang IA kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu akan melihat hujan keluar dari celah-celahnya, demikianlah ALLAH memperlihatkan tanda kebesaranNYA.” (QS. Ar-Ruum: 48)

ALLAH, RABBUL ‘alamin adalah RABB yang menguasai hari kemarin, hari ini dan hari kemudian (hari akhir/hari pembalasan). ALLAH yang menguasai hari akhir dan menentukan penghisaban makhluk pada hari itu, yang kepadaNYA pula segala sesuatu akan dikembalikan. Hari dimana masing-masing jiwa mempertanggungjawabkan apa yang pernah dikerjakannya di dunia, baik dan buruk akan ditimbang, kebaikan dan kejahatan sama-sama akan mendapat ganjaran.
“ALLAH yang menguasai hari pembalasan,” (QS. Al-Fatiha: 4)
“Sungguh Kami akan menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan di dunia, dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauhul Mahfudzh).” (QS. 36: 12)
“ALLAH, IA lah yang menghidupkan dan mematikan, dan hanya kepadaNYA lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Yunus: 56)

Maha Suci ALLAH dengan segala ciptaan NYA

II. ALLAH, KHALIK
ALLAH sebagai KHALIK adalah MAHA Pencipta semesta alam beserta isinya, yang memiliki kekuasaan penuh terhadap ciptaanNYA, mengaturnya dalam qalam (ketentuan) NYA, menentukan takdirnya dan mengabulkan doanya apabila dia meminta. Ciptaan ALLAH selalu dan tidak pernah tidak sempurna, meliputi semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, dan semua yang ada di antaranya (QS. Thahaa: 6)
“Kamu sekali-kali tidak akan melihat ciptaan ALLAH yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, apakah kamu melihat ada yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk: 1-3)

ALLAH sebagai KHALIK Ar-RAHMAN Ar-RAHIM, MAHA Melihat, MAHA Mendengar, MAHA Mengetahui segala sesuatu baik yang nyata maupun ghaib, baik yang lahir maupun tersembunyi. ALLAH sebagai KHALIK adalah ALLAH yang MAHA Berkehendak terhadap ciptaanNya. Kehendak ALLAH ini (disebut takdir) meliputi kehendakNYA atas kejadian alam beserta isinya, keberlangsungannya dan kesudahannya. Kehendak ALLAH atas kejadian alam berupa proses penciptaannya, masa berdiri dan diteguhkannya, serta masa kejatuhan atau runtuhnya. Sebutlah penciptaan gunung, apakah itu di muka bumi atau di dasar laut, atas kehendakNYA gunung itu dikokohkan berdirinya pada satu hitungan masa, lalu atas kehendakNYA pula gunung itu akan rubuh, semata-mata sebagai tanda kebesaran ALLAH dan pula sebagai peringatan kepada manusia serta makhluk lain yang bersemayam di muka bumi. Sebutlah bagaimana air laut dikumpulkan atas kehendak ALLAH dan dipeliharaNYA agar tidak tumpah. Atas kehendakNYA pula pada suatu masa air laut itu akan serempak bergerak sebagaimana jutaan tentara menyapu permukaan bumi yang dimurkai ALLAH, yang tiada daya manusia untuk menghentikan atau mencegahnya, kecuali atas kehendak ALLAH jua.

Kehendak ALLAH atas angin, awan, dan hujan adalah mengaturnya sebagai pembawa rezeki dan pembawa peringatan bagi makhlukNYA. Dengan hembusan angin yang pelan dapat menerbangkan serbuk bunga yang akan menyuburkan kebun dan ladang, namun hembusan angin taufan sebaliknya dapat meluluh lantakkan bagian bumi yang dimurkai ALLAH sebagai peringatan terhadap makhlukNYA. Dengan pergerakan awan yang menggumpal akan menghadirkan hujan. Hujan yang turun membasahi permukaan bumi pula akan menyuburkan sawah ladang, namun hujan yang turun tiada henti akan menyebabkan banjir dan kerusakan di bagian bumi yang dimurkai ALLAH sebagai peringatan bagi makhlukNYA.

Kehendak ALLAH atas manusia setelah penciptaan dan lahirnya adalah jodoh, maut dan pertemuannya. Ketiga hal tersebut yang membentuk rantai perjalanan hidup manusia. Setelah lahirnya, tumbuh besar dan berkembang, manusia akan menemukan jodohnya yang dengannya mereka akan menjalani kehidupan dunia sebagai sepasang suami istri yang mengemban misi Illahiyah yaitu sebagai hamba ALLAH yang hanya menyembah ALLAH sebagai satu-satunya RABB, dan membina generasi penerus Rabbaniyah yang akan menghidupkan syariah Islam di muka bumi sampai tibanya hari penghabisan (yaumul akhir). Kehendak ALLAH atas manusia terhadap mautnya adalah kuasa mutlak ALLAH yang tidak dapat ditangguhkan dan tidak diketahui kapan masa terjadinya. Maut bisa menjemput anak manusia ketika sedang beribadah atau ketika sedang bermaksiat terhadap ALLAH. Sungguh sangat merugilah apabila kita termasuk golongan yang kedua (su’ul khotimah). Kehendak ALLAH terhadap pertemuan adalah dipertemukannya kembali seluruh ummat manusia di padang Mahsyar setelah ditiup sangkakala sebagai penanda berakhirnya kehidupan di dunia. Dimana masing-masing diri membawa apa yang telah dikumpulkannya di dunia dan menunggu untuk dihisab (dihitung) segala perkara yang pernah dikerjakannya, baik dan buruk akan ditimbang, setiap perbuatan akan mendapat ganjaran meski sekecil dzarrah pun semuanya akan diperlihatkan (dzarrah, sebesar biji padi atau lebih kecil dari itu). Surga dan neraka adalah dua tempat kembali yang telah disediakan, dan nereka adalah seburuk-buruk tempat kembali.
“Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua makhluk dikumpulkan untuk menghadapinya, pada hari itu semuanya akan bersaksi, dan kami tidak mengundurkannya melainkan sampai waktu yang sudah ditentukan.” (QS. Hud: 103-104)
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan ALLAH semuanya lalu diberitakanNYA kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. ALLAH mengumpulkan amal perbuatan itu, padahal mereka sudah melupakannya. Dan ALLAH MAHA Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 6)

ALLAH sebagai KHALIK adalah ALLAH yang Ar-Rahman Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. ALLAH melimpahkan rahmatnya berupa rezeki yang tiada habis di tiap bentangan bumiNYA, baik di darat maupun di laut. Tugas manusia (makhluk) hanya mencari dan berusaha terhadap rezeki itu, dan tidak lah pernah ALLAH menjadikan bagian bumi manapun kosong tanpa rezeki yang diciptakanNYA untuk kesejahteraan makhlukNYA. Sebutlah Saudi Arabia, negeri tandus gersang yang bahkan untuk mencari semangkuk air pun dahulu Siti Hajar harus berlari-lari berkeliling bukit Shafa dan Marwa. Namun negeri dimana asal mula anak manusia berkembang itu dirahmati ALLAH dengan sumber daya alam, minyak dan gas bumi, tanpa batas. Dan berjuta kelebihan lain yang sekarang menjadikan negeri dan penduduknya kaya raya. Sebutlah Indonesia, negeri pribumi yang saat ini menjadi pusat perkembangan peradaban Islam di Asia, merupakan negeri kecil dengan ratusan pulau membentang. Dengan keterbatasan jangkauan satu pulau ke pulau yang lain, Indonesia dirahmati ALLAH dengan hasil laut yang melimpah, dengan kekayaan alam tanpa batas, dengan hutan yang subur dan basah, dengan sawah ladang dan perkebunan yang membentang. Masing-masing hamparan bumi Indonesia memiliki hasil bumi melimpah dari minyak bumi sampai gas murni, dari nikel sampai emas. Semuanya merupakan rahmat ALLAH yang tak pernah terputus sebagai wujud Ar-Rahman Ar-Rahimnya bagi ummat manusia di negeri Indonesia.

ALLAH, Ar-RAHMAN Ar-RAHIM, sangatlah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Seburuk-buruk apapun makhlukNYA dengan segala kemaksiyatan yang mereka perbuat, tidak lah ALLAH akan langsung murka dan menjatuhkan adzabNYA. ALLAH memberikan peringatan-peringatan dengan KekuasanNYA terhadap alam, menjadikanNYA sebagai tanda untuk manusia (makhluk) mengambil pelajaran dan membuat perbaikan. Sampai satu masa dimana tidak ada lagi di antara makhlukNYA yang beriman dan membuat perbaikan, maka ALLAH baru akan menurunkan adzab berupa bencana alam, kelaparan atau kemiskinan yang dapat menjadi pelajaran bagi makhlukNYA yang lain apabila mereka berfikir dan mengambil pelajaran.
“Tak ada satu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Lauhul Mahfudz.” (QS. Al-Israa: 58)

ALLAH sebagai KHALIK adalah ALLAH yang MAHA Melihat, MAHA Mendengar, MAHA Mengetahui segala sesuatu baik yang nyata maupun ghaib, baik yang lahir maupun tersembunyi. ALLAH adalah KHALIK yang MAHA Melihat, yang PenglihatanNYA mencakup seluruh isi alam baik di atasnya, di bawahnya atau di antaranya, baik yang wujud maupun yang ghaib. Dengan PenglihatanNYA tak satupun makhluk dapat bersembunyi dari NYA. Dengan PenglihatanNYA ALLAH memperhatikan tiap gerak gerik makhlukNYA. Dengan PenglihatanNYA ALLAH mengetahui apa yang akan direncanakan makhluknya meski cuma pikiran yang terbersit dalam benaknya.
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
“Ketahuilah ALLAH mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepadaNYA, dan ketahuilah ALLAH MAHA Pengampun lagi MAHA Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 235)
“Dan Kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi ALLAH. Sesungguhnya ALLAH MAHA Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Baqarah: 110)

ALLAH adalah KHALIK yang MAHA Mendengar. Dengan PendengaranNYA ALLAH mendengar tiap perkataan makhlukNYA baik yang terucap dengan lisan maupun yang masih tersimpan di dalam hati baik berupa keluhan, keresahan, kesyukuran, dan permintaan (doa). Dengan PendengaranNYA ALLAH kemudian mengabulkan permintaan (doa) apabila makhlukNYA meminta, ALLAH memberikan jalan terhadap keresahan makhlukNYA apabila dalam keresahanNYA ia bertakwa, dan ALLAH menjawab kesyukuran makhlukNYA dengan memberikannya nikmat yang berlimpah-limpah lebih dari semula.
“Apabila hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah) sesungguhnya AKU adalah dekat. AKU memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
“Dan kepunyaan ALLAH lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan DIALAH yang MAHA Mendengar lagi MAHA Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 13)

ALLAH adalah KHALIK yang MAHA Mengetahui. Sebagai KHALIK yang menciptakan, ALLAH MAHA Luas PengetahuanNYA terhadap apa-apa yang IA ciptakan, baik yang wujud maupun yang ghaib. Sehingga seringkali malaikat bertanya terhadap kehendak ALLAH dalam penciptaan langit, bumi beserta segala isinya, termasuk ketika mula pertama ALLAH hendak menciptakan manusia. Dalam AlQur’an surat Al-Baqarah para malaikat bertanya pada ALLAH, “Mengapa ENGKAU hendak menjadikan makhluk yang nantinya hanya akan membuat kerusakan di muka bumi?” Dan ketika Adam berhasil menyebutkan nama benda-benda yang tak bisa disebutkan oleh para malaikat, ALLAH berkata pada para malaikatNYA “Bukankah sudah KU katakan kepadamu bahwa AKU Mengetahui rahasia langit dan bumi dan Mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS. Al-Baqarah: 30-33)

Sifat dan nama-nama ALLAH di atas hanya sebagian besar yang wajib kita ketahui karena paling dekat hubungannya dengan kedudukan kita sebagai makhluk ciptaanNYA. Masih banyak lagi sifat dan nama-nama ALLAH yang apabila dipaparkan dan dijelaskan satu persatu akan memakan masa yang panjang karena tak kan pernah cukupnya waktu untuk mengkaji dzat ALLAH. ALLAH RABBUL ‘alamin, DIA lah ALLAH, tiada Tuhan selain ALLAH.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>