on August 3, 2011 by admin in Tauhid, Comments (0)

Mengenal ALLAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mengucapkan “Laa Ilaaha illaa ALLAH” adalah perkara yang mudah, namun mengamalkannya dalam keseharian sangatlah berat tetapi bukan pula sesuatu yang tidak mungkin. Hal pertama yang harus kita lakukan untuk mencapainya adalah dengan mengenal sebagai RABB dan KHALIK (Pencipta). Proses mengenal ini (ma’rifatullah) sebagaimana dijelaskan di tulisan sebelumnya akan menjadi sangat sulit dan tak berujung apabila kita mencoba menganalogikan dengan zat atau makhluk lain yang bersifat kebendaan. Karena analog-analog Tuhan dengan sifat kebendaan akan memiliki kelemahan dan kekurangan. Sedangkan sesuatu yang memiliki kelemahan dan kekurangan tidak mungkin menjadi RABB semesa alam.

Pada agama nasrani dengan konsep trinitasnya mempercayai adanya Tuhan Bapa, Tuhan Anak (Jesus Kristus), dan Roh Kudus. Jesus dipercayai sebagai roh kudus yang ditiupkan Tuhan Bapa ke rahim bunda Maria yang kelak akan menyelamatkan manusia di hari kiamat. Jesus naik ke langit ketika disalib sebagai penebus dosa kaumnya pada masa itu dan dipercayai akan kembali lagi menyelamatkan manusia kelak. Konsep Tuhan Bapa yang meniupkan roh kudus sehingga lahirlah Tuhan Anak merupakan konsep ketuhanan yang memiliki sifat kemanusiaan (Tuhan yang memiliki anak/Tuhan Bapa, dan Tuhan yang diper-anakkan/Tuhan Anak).

Tuhan Bapa sebagai sumber roh kudus dan asal muasal lahirnya Tuhan Anak selaiknya mendapatkan pengabdian dari hambaNYA lebih daripada pemujaan yang dipraktikkan penganut nasrani terhadap Tuhan Anak. Sementara Tuhan Anak, dengan sifat manusiawinya (dalam wujud manusianya) sangat lemah dan tidak mampu membela diri sendiri ketika disiksa dan disalib oleh kaumnya. Padahal sifat keTuhanan yang mutlak adalah Maha Kuasa, Maha Sempurna dan tak ada yang dapat menandinginya apalagi menyiksa bahkan membunuhnya. Tuhan yang dapat disiksa atau Tuhan yang dapat disalib adalah Tuhan yang bersifat kemanusiaan dan Tuhan yang sedemikian adalah Tuhan tiruan alias BUKAN TUHAN.

Pada agama-agama lain, yang menyembah Tuhan yang menjelma dalam sosok makhluk (pada kebanyakan penganut animisme) juga dapat kita lihat kelemahan dan keniscayaan Tuhan-Tuhan ini. Misalnya salah satu kepercayaan di India yang meyakini Tuhan mereka dahulu pernah menitis pada seekor sapi sehingga sampai sekarang mensakralkan sapi (tidak boleh dibunuh dan memiliki hari sembahyang tersendiri) atau agama budha/hindu yang mempercayai dewa-dewa sebagai Tuhan yang menitis di manusia/makhluk lain seperti gajah atau ular sehingga membuat rupaan Tuhan berbentuk gajah atau ular atau agama Konghuchu yang mempercayai tokoh Konghuchu ini juga titisan Tuhan, sangat jauh dari kebenaran karena Tuhan-Tuhan sedemikian adalah makhluk ciptaan, meyerupai makhluk dan memiliki sifat makhluk. Padahal Tuhan bukanlah makhluk dan Tuhan yang meyerupai makhluk serta memiliki sifat makhluk sudah pasti BUKAN TUHAN.

adalah RABB yang tidak ada satupun yang menyerupai IA dan tidak satupun sifatNYA yang setara dengan sifat makhlukNYA. sebagai RABB adalah yang MAHA KUASA DAN MAHA BERKEHENDAK. Tidak ada satupun ketentuan di muka bumi ini selain adalah kehendakNYA. “Kun fa yakun!” (Jadilah maka jadilah ia). Tidak ada yang menandingi IA dan tidak ada satupun yang menyerupai IA. sebagai KHALIK adalah Pencipta makhluk yang memiliki kekuasaan penuh terhadap makhluk ciptaannya. Mengaturnya dalam qalamNYA, menentukan takdirnya dan mengabulkan doanya apabila dia meminta. Ciptaan selalu dan tidak pernah tidak sempurna. Sebutlah saja penciptaannya terhadap kita manusia. Bagaimana menciptakan manusia dengan sebaik-baik rupa, dengan keseimbangan tungkai yang menyangga berdirinya, dengan kesempurnaan susunan organ dalam rongga badannya, dengan tiap sel dari bagian tubuhnya memiliki fungsi. Sebutlah langit yang ciptakan menyangga bumi. Bagaimana meninggikannya dan membuat penyangganya agar bumi ini tidak rubuh. Sebutlah matahari, bulan dan untaian planet yang ada di antariksa yang berjalan sesuai orbitnya. Bagaimana menjadikan matahari sempurna penciptaannya untuk muncul sebagai penanda pagi, dan menjadikan bulan sempurna kehadirannya untuk menandai malam. SUBHANALLAH, sepintar-pintar apapun manusia di muka bumi tak ada yang sempurna ciptaannya dan tak ada satupun yang dapat menandingi ciptaan yang MAHA sempurna.

“Apabila air laut diambil menjadi tinta dan seluruh permukaan bumi menjadi kertasnya, maka tak kan habis dituliskan ilmu dan tiap ciptaannya di atas dunia.” (HR. Bukhari)

Proses mengenal ini (ma’rifatullah) akan menjadi sangat sulit dan tak berujung apabila kita mencoba menganalogikan dengan zat atau makhluk lain yang bersifat kebendaan. Karena itu untuk mengenal RABBUL ‘ALAMIN hal yang paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah mengenal ciptaannya (‘alam) apatah itu manusia, alam sekitar, binatang ternak, benda yang hidup maupun yang mati. Dengan melihat perputaran dunia, bulan dan matahari, bintang-bintang dan planet di tata surya, akal kita akan mencari tau dan bagaimana semua itu diciptakan sehingga akal kita pun akan menemukan kalau ada yang menciptakannya dan penciptanya tentulah bukan manusia, makhluk, atau yang menyerupai makhluk yang tidak memiliki daya upaya apapun dibandingkan alam semesta.


Ibrahim (A.S) dalam pencariannya terhadap Tuhan, sering merenung di pinggir laut. Ketika Ibrahim (A.S) melihat laut yang sedemikian luas dan berpikir untuk mencari penciptanya kemudian muncul lah matahari. Ibrahim (A.S) pun kala itu berpikir kalau pasti benda besar yang bercahaya itulah yang menciptakan laut. Namun ketika sorenya matahari menghilang Ibrahim (A.S) sampai pada satu pemikiran kalau benda yang tidak konstan kehadirannya di muka bumi tidak mungkin menciptakan laut. Demikian pula ketika bulan muncul menandai gelapnya malam. Ibrahim (A.S) melihat keindahan bulan dan tingginya bulan yang dapat meneropong seluruh alam. Ibrahim (A.S) pun berpikir kalau bulan lah yang lebih berkuasa dan dari matahari. Namun ketika pagi tiba dan bulan menghilang, Ibrahim (A.S) pun menemukan kekecewaan pada bulan dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa baik matahari ataupun bulan bukanlah pencipta semesta alam. Pencipta semesta alam mestilah sesuatu yang kekal, meliputi seluruh isi alam itu sendiri, dan tidak ada penandingnya di semesta alam.

Pencarian Ibrahim (A.S) inilah yang semestinya dapat kita jadikan pelajaran. Terlebih dengan segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah terbuka luas bagi manusia, untuk melihat betapa setiap sisi kehidupan dan tiap bagian isi alam ini diciptakan dengan sangat sempurna tanpa cacat dan kurang sedikitpun. Betapa ciptaan manusia selalu sarat kelemahan dan kekurangan. Lihat saja kejadian tsunami di Jepang bulan Mei 2011 kemarin. Betapa segala kemajuan teknologi telah dikuasai Jepang selama ini, namun tak ada yang dapat mereka lakukan ketika reaktor-reaktor nuklir mereka rusak dan menyebabkan paparan radioaktif tersebarluas, selain pasrah dan meminimalisir jumlah ledakan dengan menyiramkan berton-ton air dari pesawat udara mereka. Sungguh Maha Suci dengan segala kesempurnaan ciptaanNYA.

Mengenal akan menjadi sangat sulit dan tak berujung apabila kita mencoba menganalogikan dengan zat atau makhluk lain yang bersifat kebendaan. Namun mengenal juga bukan suatu hal yang tidak mungkin. Dengan bekal yang berikan pada tiap-tiap kita berupa akal, penglihatan, pendengaran dan hati. Sebagaimana yang dituliskan dalam AlQur’an:

“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur” (QS. AlMulk: 23)

Melihat, mendengar, memikirkan. Tiga hal sederhana yang dengan mudah dapat kita lakukan untuk mengenal . Karenanya mengenal (ma’rifatullah) bukan suatu hal yang tidak mungkin.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>