on July 9, 2014 by admin in Tarbiyah, Comments (0)

Menggapai Taufik dari ALLAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-20 ini sedemikian pesat hingga menimbulkan kekaguman bagi tiap orang yang memperoleh manfaat darinya. Jika dahulu orang dapat bertukar kabar dengan perantaraan surat konvensional saat ini tanpa melihat jarak dan waktu orang dapat bertukar kabar dengan perantaraan surat elekronik. Jika dahulu para petani menghadapi kekhawatiran akan serangan hama dan hambatan musim, saat ini berbagai obat anti hama dan teknik bercocok tanam memungkinkan petani untuk bisa memperoleh hasil yang berlimpah dalam kurun waktu yang tidak begitu lama.

Segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dimulai sejak peradaban manusia ada merupakan hasil proses berfikir yang dikembangkan dengan penelitian, kerja keras dan kesungguhan hati dari para peneliti. Hingga Michael Faraday berhasil menemukan listrik, Gugleimo Marconi menemukan radio, Wright bersaudara menemukan pesawat terbang dan berbagai penemuan lain yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kemampuan berfikir merupakan pemberian ALLAH pada setiap makhluk-NYA yang memiliki akal. Sebagaimana juga kemampuan mendengar dan melihat yang merupakan fungsi dari telinga dan mata, berfikir merupakan hasil dari serangkaian proses yang terjadi di benak manusia dan tiap makhluk ciptaan ALLAH yang dibekali dengan akal. Namun sebagaimana telinga dan mata pula, akal yang diberikan ALLAH kepada makhluk-NYA tidak serta merta diberikan hanya sebagai penunjang kehidupannya. Di atas itu semua baik mata, telinga, dan akal semestinya difungsikan untuk lebih mengenal ALLAH Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya RABB dan PENCIPTA yang wajib diibadahi dan dipanjatkan syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-NYA . Firman ALLAH dalam Al-Qur’an :

“Dan ALLAH mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan DIA memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. 16 : 78)

Dalam kemampuan berfikir yang diberikan ALLAH pada manusia, dikenal satu istilah yang merupakan kelebihan setiap orang beriman. Kelebihan ini menyebabkan orang yang diberikan kemampuan kelebihan tersebuttidak hanya dapat menjadi seorang ahli di bidang tertentu namun ia juga dapat menjadi seorang cendikiawan yang mulia kedudukannya di sisi ALLAH. Kelebihan ini disebut dengan taufik.

Asal kata dari taufik adalah fikr, sebagaimana fikir, yaitu proses berfikir yang dimulai dari rangsangan syaraf-syaraf otak manusia ketika melihat, mengenali atau merencanakan sesuatu. Rangsangan ini kemudian akan diteruskan ke sel-sel otak di bagian-bagian tertentu sesuai dengan targetnya yang kemudian terwujud dalam aksi atau tindakan. Taufik adalah kemampuan berfikir di atas fikir yang di dalamnya terkandung makna yang lebih dari sekedar berfikir biasa.

Misalnya seseorang ketika melihat laut maka akan tergambar dalam benaknya kalau laut yang biru itu sangat dalam dan di dalamnya pasti banyak mengandung kekayaan alam seperti berbagai jenis ikan dan hewan laut lain yang dapat menjadi sumber makanan bagi manusia. Sedangkan seseorang yang diberi taufik oleh ALLAH dalam kemampuannya berfikir ketika melihat laut maka akan tergambar di dalam benaknya bahwa laut yang biru itu sangat dalam, di dalamnya terkandung segala jenis ciptaan ALLAH, berbagai jenis ikan dan hewan lainnya yang merupakan karunia ALLAH untuk kelangsungan hidup manusia hingga akan muncul rasa bersyukur terhadap laut yang dilihatnya itu.

Taufik adalah kemampuan berfikir di atas fikir yang di dalamnya terkandung makna yang lebih dari sekedar berfikir biasa. Sehingga setiap orang yang diberikan taufik oleh ALLAH seolah seorang pengemudi kendaraan bermotor yang memasuki jalan tol bebas hambatan yang akan mempermudahnya dalam menjalankan kedudukannya sebagai hamba ALLAH di muka bumi. Dalam setiap hal yang dilakukannya ia akan selalu ingat TUHAN-nya lah yang menjadi satu-satunya tujuan, ia akan selalu ingat bahwa ALLAH, TUHAN-nya lah yang memberikan segala nikmat dan kemudahan hidup yang ia peroleh.

Ketika nabi Syu’aib memberikan peringatan kepada kaumnya yang sering berbuat semena-mena terhadap penduduk desa yang tinggal berdekatan dengan hutan yang mereka diami, nabi Syu’aib yang telah diberi taufik oleh ALLAH, dengan kebaikan hati dan akhlaknya memperingati kaumnya dengan mengajak mereka berfikir akan kebesaran ALLAH.

“Dan Syu’aib berkata : Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari TUHANku dan dianugerahi-NYA aku daripada rezeki-NYA yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-NYA?) Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) ALLAH. Hanya kepada ALLAH aku bertawakkal dan hanya kepada-NYA lah aku dikembalikan.” (QS. 11: 88)

Namun kaum Madyan yang ingkar dan dzhalim tidak mau mendengarkan ajakan nabi Syu’aib hingga ajakannya untuk memikirkan segala karunia dan nikmat yang diberikan ALLAH tidak mereka tanggapi meskipun nabi Syu’aib memberikan bukti-bukti yang nyata mengenai kebesaran ALLAH pada mereka. Bagi kaum Madyan segala yang ada di dalam hutan adalah milik mereka dan tidak ada kepentingan manusia untuk mengambil sedikitpun daripadanya.

Taufik sebagai kelebihan dalam berfikir yang akan mempertebal keimanan seseorang tidak serta merta diberika ALLAH terhadap setiap hamba-NYA. Untuk memperoleh hadiah ini ada beberapa hal yang dapat kita lakukan yaitu :

1. Manjaga shalat dan khusyu’ di dalamnya

Shalat adalah satu-satunya ibadah yang langsung menjadi penghubung antara seorang hamba dengan TUHAN-nya yang tidak mengenal waktu dan tempat. Tidak mengenal waktu artinya tidak ada hari atau bulan khusus untuk melaksanakan shalat sebagaimana ummat Yahudi dan Nasrani yang hanya menyempatkan diri untuk beribadah di hari Sabtu dan Minggu. Shalat tidak mengenal tempat artinya tidak ada tempat yang khusus diperuntukkan untuk dapat melaksanakan shalat sebagaimana ummat Yahudi dan Nasrani harus melaksanakan ibadah mereka di kapel dan gereja untuk dapat diterima ibadahnya. Setiap muslim yang beriman dapat melaksanakan shalat di rumah, di kantor, di gedung pertemuan, di atas kepal, dan tempat-tempat lain selagi tempat tersebut bersih dari kotoran dan layak untuk dipergunakan sebagai tempat shalat. Adapun masjid adalah tempat shalat yang dibangun untuk melaksanakan shalat berjama’ah dan kegiatan-kegitan syi’ar yang lain. Namun untuk shalat berjama’ah juga tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan di rumah, kantor, gedung pertemuan bahkan di atas kapal jika jumlah orang yang akan melaksanakan shalat berjama’ah mencukupi syarat shalat berjama’ah (yaitu dua orang, satu orang imam dan satu orang makmum) serta bersih dan layak tempat yang akan digunakan untuk melaksanakan shalat berjama’ah.

Shalat merupakan penghubung antara seorang hamba dengan TUHAN-nya, sehingga menjaga shalat akan menjaga kelanggengan dan harmonisasi hubungan yang dimaksud. Ibarat seorang pembantu terhadap majikannya, apabila pembantu tersebut selalu patuh dan ta’at terhadap majikannya, maka majikan tersebut tentunya akan memperhatikan pembantunya dan memenuhi kebutuhannya bahkan mungkin memberikan hadiah padanya. Demikian juga sebagai seorang hamba apabila selalu menjaga shalat dan khusyu’ di dalamnya, ALLAH yang MAHA PEMURAH tentu akan memberikan hadiah-hadiah kepadanya baik berupa doa yang makbul, taufik, serta hidayah kepada hamba-NYA tersebut.

2. Membaca Al-Qur’an dan mempelajari makna kadungannya

Al-Qur’an merupakan kitab yang di dalamnya terkandung pelajaran dan hikmah. Lebih dari 80% kandungan Al-Qur’an memuat pelajaran mengenai tauhid sedangkan sisanya adalah hukum-hukum syari’at dan kisah-kisah dari orang-orang terdahulu. Dari 80% pelajaran tauhid yang terdapat dalam Al-Qur’an, ketika seseorang membaca dan mempelajari maknanya maka akan semakin kenal dan dekat ia dengan RABB-nya. Semakin kenal dan dekat dengan ALLAH merupakan kunci terhadap kecintaan ALLAH terhadap hambanya. Sehingga dengan kecintaan tersebut ALLAH akan menambahkan nikmat bagi hamba-NYA yang di antaranya dapat berupa taufik yang akan mempertebal keimanannya.

3. Menjauhkan diri dari dosa besar dan bersegera dalam bertaubat ketika terperosok ke dalamnya

Dosa-dosa besar adalah pintu terhadap kemurkaan ALLAH terhadap hamba-NYA. Hingga apabila seorang hamba terperosok di dalamnya dan tidak bersegera dalam bertaubat, ALLAH akan segera menutup pintu ma’rifat-NYA, hingga orang tersebut akan menjadi buta matanya, tuli pendengarannya dan kelam hatinya untuk dapat melihat cahaya ALLAH. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an setiap orang yang kafir dan ingkar pada ALLAH, adalah sebagaimana orang yang buta, tuli, dan berada dalam kegelapan yang nyata. Di antara dosa-dosa besar yang sangat dibenci ALLAH dan dilaknati oleh seluruh malaikat serta seluruh isi langit dan bumi adalah :

  • Mengambil atau mengadakan tandingan TUHAN selain ALLAH
  • Memohon pertolongan kepada selain ALLAH
  • Mengambil sekutu dari golongan jin dan manusia terhadap urusan dunia
  • Mengikuti langkah syaithan sehingga terperosok dalam perbuatan zina, membunuh, mengambil hak orang lain
  • Memusuhi dan menyakiti utusan ALLAH

4. Membersihkan diri dari dosa-dosa kecil

Dosa-dosa kecil adalah peretas jalan terhadap dosa besar. Meskipun kelihatannya sangat kecil dan sepele, tiap dosa kecil yang dilakukan akan membuat seorang hamba semakin lalai dalam mengingat RABB-nya. Tiap dosa kecil akan membuka peluang syaitan untuk mengambil alih keta’atan dalam diri seorang hamba dan menggantinya dengan kemalasan dan perbuatan-perbuatan yang tidak disukai ALLAH. Tiap dosa kecil akan menambah satu titik hitam dalam hati seseorang sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Hingga apabila semakin banyak dosa kecil yang dilakukan, semakin banyak pula titik-titik hitam dalam hatinya dan semakin kelam ia untuk melihat cahaya ALLAH.

5. Menambah ilmu dan pengetahuan mengenai Islam

Setiap orang dilahirkan dengan Islam sebagai fitrahnya. Hingga apabila ada seorang anak yang terlahir dari orang tua yahudi, nasrani atau majusi, orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi. Artinya, pendidikan anak dalam keluarga sangatlah memegang peranan penting dalam pembinaan karakter dan jati diri seorang anak meskipun ia dilahirkan dari keluarga yahudi, nasrani, atau majusi. Nilai-nilai kebaikan yang bersifat universal seperti menolong orang yang membutuhkan, menghormati orang yang lebih tua, menyantuni orang yang dalam perjalanan, dan lain sebagainya merupakan nilai dasar yang sama-sama terdapat di setiap ajaran baik dalam Islam, yahudi, nasrani, majusi bahkan kong hu chu sekalipun. Pengenalan, penanaman dan pengenalan nilai-nilai kebaikan ini lah yang kelak akan membimbing seorang anak meski darimana pun ia keluarganya berasal untuk kembali pada fitrahnya yaitu Islam. Sebagai seorang muslim yang berasal dari keluarga muslim, dengan keadaan ummat yang terpisah jauh dari Rasulullah selama 1.400 tahun, adalah tidak mustahil jika ada ajarannya yang sudah mengalami pergeseran nilai atau bahkan dilupakan. Sementara Rasulullah adalah orang yang membawa dan menyempurnakan risalah (Islam) yang di dalamnya terkandung nilai-nilai Illahiyah yang akan mendekatkan seorang hamba pada RABB-nya. Untuk itu menambah ilmu dan pengetahuan mengenai Islam merupakan suatu hal yang seharusnya menjadi kewajiban setiap muslim pada abad ini. Dengannya seorang muslim dapat lebih sempurna dalam melaksanakan ibadahnya dan tidak terjebak pada praktek-praktek ibadah yang justru akan menimbulkan murkan ALLAH padanya sebagai seorang hamba. Demikian pula bagi mereka yang baru mengenal Islam dan mengambil kesaksian (bersyahadat) akan menjalankan syariat Islam dengan kesempurnaannya, mempelajari dan menambah ilmu pengetahuan mengenai Islam menjadi suatu kemestian yang tidak bisa lagi ditinggalkan.

6. Rihlah

Rihlah atau berwisata adalah salah satu cara untuk lebih mendekatkan diri pada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Ketika melakukan perjalanan wisata (rihlah) baik itu ke pantai, pegunungan atau sekedar berwisata ke daerah lain yang sebelumnya tidak pernah didatangi, akan terlihat bagaimana besar dan luasnya bumi ALLAH yang bahkan dengan perjalanan udara untuk dari satu tempat ke tempat lain memakan waktu beberapa puluh menit atau bahkan berjam-jam. Dalam pemandangan wisata yang dinikmati juga akan memancing daya fikir kita, yang tidak hanya mengharap hiburan, untuk merenungi betapa sempurna, lengkap, dan seimbang setiap ciptaan ALLAH. Hingga dengan renungan-renungan akan alam dan penciptaannya ini diharapkan seorang hamba akan kembali ingat pada satu-satunya TUHAN yang menciptakan itu semua yaitu ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Tafakkur sedemikian pula yang akan lebih mendekatkan seorang hamba dengan RABB nya yang akan menghadiahinya dengan taufik untuk mempertebal keimananya.

Wallaahu ‘alam bish shawab

Tags: , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>