on January 26, 2014 by admin in Tafsir, Comments (0)

Penjelasan QS. At-Takwir ayat 15 – 29

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Permulaan surat At-Takwir menjelaskan tentang beberapa kejadian di hari kiamat, sebagaimana kebanyakan surat-surat (ayat) Makkiyah yang lain yang kebanayakan memuat tentang ketauhidan ALLAH dan pembalasan untuk perbuatan baik dan buruk (syurga dan neraka).

Bagian akhir surat At-Takwir menceritakan tentang kerasulan Muhammad SAW terhadap karibnya Abu Bakar, yang merupakan orang pertama yang memeluk Islam dari golongan bangsa Quraisy. Ayat-ayat tersebut disampaikan kepada beliau oleh Jibril melalui perantaraan mimpi yang menguatkan Abu Bakar untuk menerima kebenaran tentang kerasulan beliau SAW dan terhadap setiap perkataannya. Hal ini merupakan salah satu cara ALLAH dalam mempermudah Rasulullah pada masa awal kerasulannya.

“Sungguh aku bersumpah dengan bintang-bintang,” (QS. 81 : 15)
Salah satu cara penyampaian Jibril terhadap berita atau perkataan ALLAH adalah dengan mengambil sumpah atas ciptaan-ciptaan-NYA. Pada ayat ini Jibril mengambil sumpah terhadap bintang-bintang yang menunjukkan waktu turunnya ayat ini adalah ketika malam hari.

“Yang beredar dan terbenam,” (QS. 81 : 16)
“Demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. 81 : 17)
“Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. 81 : 18)
Dalam kedua ayat di atas menjelaskan lebih terperinci kapan ayat ini diturunkan yaitu ketika malam hampir berakhir dan fajar akan terbit yaitu sepertiga malam terakhir. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa waktu-waktu terbaik untuk mendekatkan diri pada ALLAH adalah di sepertiga malam terakhir, sebagaimana pula mimpi yang didapat padawaktu itu adalah kebenaran dan jauh dari godaan syaithan.

“Sesungguhnya ini adalah perkataan dari utusan ALLAH yang mulia.” (QS. 81 : 19)
Beberapa mufassir langsung menunjuk pada Al-Qur’an terhadap makna kata “hu” pada “innahu”. Namun sebagian yang lain berpendapat kalau “hu” pada ayat ini hanya melengkapi makna “innahu” terhadap “sesungguhnya”. Pada ayat ini Jibril menegaskan bahwa ia adalah utusan ALLAH yang membawa berita yang mulia.

“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan yang tinggi di sisi ALLAH yang memiliki ’Arsy” (QS. 81 : 20)
Pada ayat Jibril menerangkan bahwa ia adalah utusan ALLAH yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi sebagai pimpinan dari segala Malaikat ALLAH yang memiliki ‘Arsy (tempat yang paling tinggi).

“Maka taati dan percayailah.” (QS. 81 : 21)
“Dan sahabatmu (Muhammad) bukanlah orang gila.” (QS. 81 : 22)
Ayat ini merupakan inti berita yang ingin disampaikan Jibril kepada Abu Bakar mengenai kerasulan Muhammad SAW yang merupakan temannya. Pada saat Rasulullah menerima wahyu”iqra`” di gua Hira dan beliau menyampaikan hal ini pada keluarga dan sebagaian temannya, banyak sekali yang menganggap Muhammad telah gila dan kurang waras ingatannya. Meskipun pada masa sebelum turunnya wahyu beliau sangat terkenal dengan gelaran “al-amin” (orang yang terpercaya) karena kejujuran dan kemuliaan akhlaknya. Beberapa penentang yang sangat keras terhadap apa yang disampaikan Muhammad mengenai peristiwa “iqra`” adalah paman-pamannya sendiri yang merupakan orang-orang ternama dari pemuka suku Quraisy. Karena itu ALLAH mempermudah Rasulullah dengan bantuannya dengan dukungan Abu Bakar setelah mendapatkan mimpi ini yang menagaskan bahwa Muhammad bukanlah orang gila.

“Dan ia telah melihatku (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. 81 : 23)
Jibril menjelaskan pula bahwa Muhammad telah melihat langsung dirinya pada ufuk yang terang. Hampir semua mufassir sepakat bahwa ufuk yang terang yang dimaksudkan ini adalah gua Hira ketika menjelang terbit fajar.

“Dan dia bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan hal yang ghaib.” (QS. 81 : 24)
Ayat ini menerangkan sekali lagi bahwa Muhammad adalah orang yang selama ini terpercaya dan terkenal jujur dengan setiap perkataannya. Sehingga beliau SAW bukanlah orang bakhil yang mengarang-ngarang berita ghaib mengenai ALLAH dan pertemuannya dengan Jibril di gua Hira.

“Dan perkataannya bukan berasal dari syaithan yang terkutuk.” (QS. 81 : 25)
Dengan kemuliaan akhlak dan sifat jujur serta terpercayanya, perkataan yang disampaikan Muhammad SAW bukan pula berasal dari syaithan atau nafsu belaka.

“Maka kemanakah kamu akan pergi?” (QS. 81 : 26)
Ketika Abu Bakar terbangun dari mimpinya, ia mendapati seluruh tubuhnya berkeringat dingin dan sangat takut ia terhadap apa yang ia lihat dalam mimpinya. Keesokan harinya Abu Bakar menemui Rasulullah dan menceritakan perihal mimpinya. Rasulullah segera memeluk sahabatnya dan meyakinkan kalau berita yang ia lihat dalam mimi itu benar adanya dan berasal dari Jibril, malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu dari ALLAH, TUHAN yang Ahad (Satu). Rasulullah pula berkata dengan ayat ini, “Kemanakah kamu akan pergi?” yaitu mempertanyakan kepada Abu Bakar apa yang akan ia pilih setelah mendapatkan berita dalam bentuk mimpi tersebut.

“Sesungguhnya itu tidak lain adalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. 81 : 27)
“Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus,” (QS. 81 : 28)
“Dan kamu tidak akan mendapatinya (menempuh jalan yang lurus) kecuali atas kehendak ALLAH, TUHAN semesta alam.” (QS. 81 :29)
Dalam beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa dua ayat terakhir merupakan perkataan Rasulullah terhadap Abu Jahal ketika menerima berita mengenai kerasulannya yang juga disampaikan oleh Abu Bakar setelah ia mendapat mimpinya. Namun Abu Jahal mengelak dengan perkataan jahilnya bahwa jika jalan itu merupakan pilihan ia tidak akan memilih jalan yang lurus itu. Karena Abu Jahal pula hanya menganggap perkataan Muhammad sebagai perkataan seorang bakhil yang iseng dan ngawur. Namun pada ayat berikutnya Rasulullah membantah Abu Jahal dengan perkataannya yang tegas bahwa Abu Jahal sekalipun tidak akan dapat menempuh jalan yang lurus tersebut kecuali ALLAH, TUHAN semesta alam, menghendakinya. Dari kejadian inilah bermula permusuhan Abu Jahal terhadap Rasulullah yang pada beberapa keadaan ia selalu berusaha menjatuhkan Rasulullah dengan mencemooh setiap perkataannya bahkan tidak segan-segan menghardiknya sebagai seorang gila yang kurang waras ingatannya. Namun pertolongan ALLAH dengan bantuan Abu Bakar yang selau meyakini setiap perkataan Rasulullah juga menjadi cermin bagi bangsa Quraisy untuk mulai mempercayai Muhammad SAW.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>