on January 2, 2014 by admin in Risalah, Tafsir, Tilawah, Comments (0)

Keunikan bahasa Al-Qur’an dalam surat At-Tiin

Bismillaahirrahmaanirrahiim

1. Demi Tiin dan Zaitun
2. Demi bukit Sinai
3. Demi kota yang aman ini

Tiga ayat yang menjadi pembuka surat At-Tiin menunjukkan salah satu keunikan lain dari bahasa Al-Qur’an dan perbedaannya dari bahasa yang dipergunakan manusia sehari-hari. Sebagaimana Al-Qur’an merupakan bahasa wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah dengan perantaraan malaikat Jibril, dalam pembukaan surat At-Tiin ini diperlihatkan bagaimana tinggi dan luasnya ilmu yang terkandung di dalamnya.

Dalam berbagai kitab tafsir yang sebagian besar ulama sependapat terhadapnya, tiga ayat pembuka surat At-Tiin yang menggunakan kata ‘Tiin’, ‘Zaituun’, ‘Thursiniin’ (bukit sinai), dan ‘Baladil amiin’ (kota yang aman) merupakan perwakilan dari beberapa tempat yang merujuk pada rasul-rasul ALLAH yang berasal dari tempat tersebut.

At-Tiin pada ayat pertama.
Meskipun ada beberapa ulama tafsir yang menafsirkan at-tiin sebagai buah tiin yang merupakan buah dengan struktur yang lembek dan berair, kebanyakan ulama tafsir sependapat bahwa At-Tiin yang dimaksud pada ayat tersebut adalah menunjuk pada bukin At-Tiin yang ada di negeri Siria yang merupakan bukit tempat Nabi Nuh a.s merakit perahunya sebelum ALLAH mendatangkan murkanya pada ummat nabi Nuh a.s.

Az-Zaituun pada ayat pertama.
Hampir sebagian besar ulama tafsir sependapat kalau yang dimaksudkan dengan az-zaituun ini adalah bukit yang banyak ditumbuhi pohon zaitun yang mengarah pada bukit tempat berdirinya Baitul Maqdis di negeri Palestina dengan nabi Isa a.s sebagai pembawa ajaran tauhid pada ummatnya yang terkenal sebagai kaum hedon.

Thursiniin (bukit Sinai) pada ayat kedua.
Di dalam Al-Qur’an perihal bukit Sinai (Thursina) disebutkan beberapa kali dalam surat yang berbeda. Di antaranya adalah :
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berkata) : Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (QS. 7 : 171)

“Dan tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan dan TUHAN berfirman kepadanya, berkatalah Musa : Ya Tuhanku, nampakkanlah Engkau kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau. TUHAN berfirman : kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-KU tapi lihatlah ke bukit itu (Thursina), maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-KU.” (QS. 7 :143)
Thursina (bukit Sinai) sebagaimana diriwayatkan dalam Al-Qur’an merupakan tempat dimana nabi Musa a.a menerima kalimat dari TUHAN-nya, beratnya kalimat yang diterima oleh beliau a.s sampai-sampai bukit itu pun rubuh sehingga membuat nabi Musa a.s jatuh pingsan.

Kota yang aman (Makkah) pada ayat ketiga.
Baladil amiin atau kota yang aman yang dimaksudkan pada ayat ketiga ini adalah kota Makkah, karena telah dijanjikan oleh ALLAH sedari zaman nabi Ibrahim a.s kalau kelak daerah tandus tersebut akan berubah menjadi negeri yang ramai dan banyak didatangi oleh orang yang akan melaksanakan ibadah (haji) ke Baitullah.

Ketiga ayat yang mengungkapan kembali sejarah nabi-nabi ALLAH terdahulu mulai dari nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Isa merupakan gambaran dari kebenaran ajaran yang mereka bawa yang merupakan satu hal yang satu.

Adapun asbabun nuzhul dari turunnya ketiga ayat ini, dalam sebuah riwayat disebutkan kalau malaikat Jibril datang kepada Rasulullah yang sangat susah hatinya demi mendapatkan perlakuan dan hinaan dari kafir Quraisy yang sebagian besar juga anggota keluarganya. Malaikat Jibril pula membacakan ayat tersebur.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Wattiin.
Wazzaituun.
Wathurisiniin.
Wa hazal baladil amiin.

Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.
Telah datang sebelum kamu (Muhammad) rasul-rasul yang membawakan kitab, petunjuk ke jalan yang lurus, yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatn mungkar, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

Rasulullah yang mendengarkan perkataan Jibril menangis dan menjadi kuat hatinya. Karena Jibril mengingatkan pada beliau SAW akan perjuangan nabi-nabi ALLAH yang lain yang mungkin lebih berat dan sulit dari apa yang beliau alami. Rasulullah SAW juga semakin kuat imannya akan ajaran yang ia bawa adalah ajaran yang haq karena sumbernya adalah satu, ALLAH Ta’ala sebagaimana yang diterima dan diajarkan Nuh, Ibrahim, Isa dan Musa kepada ummat-ummat terdahulu.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>