on December 25, 2013 by admin in Tafsir, Tilawah, Comments (0)

Tela’ah : Pelajaran dari surat Al-Baqarah ayat 106

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ayat (*) mana saja yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya ALLAH Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS. 2 : 106)

Dalam kitab terjemahan Al-Qur’an terdapat penandaan (*) baik dengan simbol maupun angka pada kata “ayat” yang merupakan terjemahan langsung dari kata aslinya “ayati” dalam surat ke-106. Para mufassirin berlainan pendapat mengenai arti “ayat” ini, ada yang mengartikannya sebagai ayat Al-Qur’an dan ada yang mengartikan sebagai mukjizat.

Penggunaan kata “ayat” dalam Al-Qur’an dapat mengandung berbagai makna di antaranya :

Ayat yang bermakna ayat secara literal, seperti : “Dan kamu sekali-kali tidak dapat memalingkan orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri. (QS. 27 : 81)
Ayat yang bermakna kehendak, seperti : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (QS. 3 : 190)
Ayat yang berarti ketentuan atau perkara, seperti : “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas, dan tak ada yang ingkar kepadanya melainkan orang-orang yang fasik.” (QS. 2: 99)

Penggunaan kata “ayat” pada surat Al-Baqarah ayat ke-106 bermakna perkara atau ketentuan yang telah ditetapkan oleh ALLAH. Sehingga ayat tersebut dapat diterjemahkan secara lebih sempurna menjadi, “Perkara mana saja yang Kami hapuskan atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya ALLAH Maha Kuasa atas segala sesuatu?”

Ketentuan atau perkara yang dimaksud dalam ayat ini mencakup tiga hal di antara berkah, rahmah, dan rezeki. Sehingga pada perjalananya atas kehendak ALLAH baik berkah, rahmah, atau rezeki itu dapat tetap terjadi, tertunda, atau tidak terjadi sama sekali. Misalnya ALLAH menetapkan terhadap hambanya Fulan akan mendapatkan rezeki 2 kali lipat banyaknya pada hari Senin. Namun atas kehendak-NYA ALLAH menunda rezeki tersebut hingga Fulan mendapatkannya di hari Jumat. Ketentuan ALLAH terhadap rezeki Fulan dapat pula terhapus sehingga ia tidak terjadi di hari Senin, Jumat, atau hari-hari yang lain.

Ayat ke-106 ini sesungguhnya menerangkan tentang ketentuan ALLAH terhadap hamba-NYA terhadap salah satu dari tiga perkara tadi terutama mengenai rezeki yang dapat diambil langsung contohnya dalam kehidupan sehari-hari.

ALLAH atas kehendak-NYA menurunkan rezeki pada seseorang. Atas kehendak-NYA pula ALLAH dapat menghapuskan rezekinya. ALLAH dapat pula membuat seseorang itu lupa akan rezekinya. ALLAH kemudian atas kemurahan-NYA dapat menggantinya dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengan itu.

ALLAH dapat membuat seseorang lupa akan rezekinya, maknanya adalah ALLAH dapat membuat ia lupa dan kehilangan rezekinya misalnya seseorang dapat lupa menaruh uangnya yang kemudian ditemukan orang lain dan menjadi rezeki baginya. Pada kesempatan yang lain orang yang lupa dan kehilangan tadi akan mendapat ganti yang lebih baik atau sebanding dengan jumlah yang telah hilang darinya sebagaimana yang dijanjikan ALLAH dalam ayat ke-106 ini, “Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya ALLAH Maha Kuasa atas segala sesuatu?”

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>