on December 21, 2013 by admin in Hikayat, Hikmah, Comments (0)

Kisah Pemuda Gua

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kisah pemuda gua dalam surat Al-Kahfi mengandung berbagai hikmah dan pelajaran bagi setiap orang beriman. Dalam riwayatnya, enam orang pemuda bersama seekor anjing melarikan diri dari kejaran penguasa yang lalim pada masa itu dan menemukan sebuah gua untuk bersembunyi. Dengan perasaan takut akan ditemukan tentara yang mengejar mereka dan cemas akan bahaya binatang buas yang mungkin ada di dalam gua keenam pemuda bersama anjingnya tadi masuk ke dalam gua. Karena lelah dan lapar, keenam pemuda itu pun akhirnya tertidur. Anjingnya tadi menjaga di dekat mulut gua dan ia pula tertidur.

Setengah hari berlalu, salah seorang dari keenam pemuda tadi terbangun karena perutnya yang lapar. Ia mencoba membangunkan kelima temannya yang lain namun mereka tidur seibarat orang yang sudah mati. Pemuda itupun memutuskan untuk pergi sendiri namun pada mulanya ia ragu. Bagaimana jika para tentara yang mengejar mereka masih ada di luar dan nanti menangkapnya. Ia tak kuasa menahan siksa yang telah diperintahkan oleh sang penguasa terhadap diri mereka atas keyaninan mereka terhadap ALLAH. Namun dorongan perutnya yang kelaparan memaksanya berjalan mengendap-endap ke luar mulut gua. Anjingnya yang terbangun pula mengikuti tuannya. Sesampainya di luar gua alangkah terkejut ia mendapati hutan belantara yang sangat lebat yang hampir menutupi jalan yang tadi mereka lewati. Ia pun menyuruh anjingnya untuk waspada sembari mencari jalan menuju perkampungan.

Beberapa jam kemudian ketika ia mendapati sebuah kampung yang ia kenali tanda-tandanya, ia pun menjadi terheran-heran. Kampung itu sangat berbeda dari apa yang ia lihat pada hari sebelum ia bersembunyi di dalam gua. Rumah-rumah penduduk lebih rapat dan lebih banyak jumlahnya, jalan-jalan tertata lebih rapi dan bersih dari semak belukar. Bahkan cara orang berpakaian yang ia temui di sepanjang jalan juga terlihat berbeda. Ia menyapa salah seorang di antara mereka dan menanyakan nama kampung itu, mereka menjawab dengan nama kampung yang ia yakin tidak sedemikian keadaannya. Orang yang ia tanya pula sedikit keheranan mendengar logat bahasa pemuda itu dan melihat cara berpakaiannya yang sangat lusuh dan kuno. Pemuda itu bertanya arah ke pasar. Orang yang ditanya pula memberikan petunjuk arah dan kebetulan pula hari itu adalah hari pertemuan pasar. Tentu akan ramai orang dan penjual di sana.

Pemuda dan anjingnya segera berjalan menuju pasar. Sesampainya di pasar ia segera mencari kedai makanan yang menjual roti atau buah-buahan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Ketika ia menemukan sebuah kedai roti ia pun mengambil beberapa potong roti yang akan dibawanya serta untuk kelima temannya di dalam gua. Si penjualpun menyebutkan harga. Pemuda tadi mengeluarkan beberapa koin perak dari sakunya. Raut wajah si penjual berubah seketika, ia pun langsung menarik roti yang ada di tangan pemuda itu sambil marah dan memaki-maki. “Bagaimana bisa membeli dengan uang yang tidak laku? Ingin makanan gratis kenapa tidak mengemis?” Demikian ia mengumpat si pemuda dan mengusirnya dari kedainya. Pemuda tadi tidak kalah heran dan terkejutnya. Ia memberikan harga yang pantas untuk roti tadi tapi kenapa ia diperlakukan sangat kasar? Ia pun melihat ke sekelilingnya. Tanpa sengaja matanya menangkap dua orang bertransaksi di depannya dan mereka mengeluarkan uang koin yang berbeda. Bentuk dan warnanya berbeda. Pemuda itu menjadi semakin bingung. Perutnya sudah sangat lapar dan ia pun mulai merasa pusing. Ia lalu menemui seorang penjual mainan dan bertanya beberapa hal padanya.


“Pak kampung ini apa namanya?” Ternyata nama kampungnya sama.
“Sekarang ini hari apa?” Harinya pun sama.
“Bulan apa ini?” Bulannya pula sama.
“Tahun apa?” Dan ia pun langsung terbelalak matanya ketika mendengar jawaban tahun yang berlangsung tidaklah sama dengan tahun yang ia alami sebelum masuk ke dalam gua. Tiga ratus tahun lebih bedanya. Mungkin ia sudah mulai gila, pikirnya. Sangat mustahil ia tidur di dalam gua tiga ratus tahun lebih lamanya dengan tidak satupun hal yang berubah dari dirinya. Demikian pula anjingnya. Anjingnya pun tidak berubah. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

Dengan perut yang semakin lapar, ia berjalan mendekati penjual makanan yang paling ramai pembelinya. Akalnya sudah mulai tumpul karena kelaparan. Ia berniat hendak mencuri. Anjingnya yang setia membaca gelagat yang tidak baik dari tuannya. Ia menarik-narik kaki celana tuannya hendak melarangnya. Namun pemuda itu mengacuhkannya dan ketika ada kesempatan ia langsung menarik beberapa potong roti lalu berlari sekuat tenaga. Sang penjual berteriak keras, “Pencuri! Pencuri!” Beberapa orang yang melihat kejadian itu langsung berlari mengejar pemuda tadi. Sangat ketakutan ia sampai ia melepaskan semua roti yang ada di tangannya. Namun para pengejar terus berlari ke arahnya. Pemuda tadi lari sekuat tenaga dan masuk kembali ke dalam hutan, saat itu baru para pengejar menyerah dan kembali ke arah pasar. Pemuda tadi, dengan bercucuran air mata kembali mencari gua. Anjingnya menyusul dari belakang dan sungguh ia sangat sedih melihat tuannya. Ia pun memanjatkan doa, “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-MU dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk-MU yang lurus dalam urusan kami ini.”

Setelah mencari ke dalam hutan, pemuda dan anjing tadi tidak berhasil menemukan gua persembunyian mereka. Ia pun bersama anjingnya berkelana ke negeri-negeri lain dan menyebarkan hikmah dari apa yang telah ia alami di kampung halamannya.

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>