on October 29, 2013 by admin in Aqidah, Tauhid, Comments (0)

Mengapa Manusia Menyembah Berhala

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Dalam sejarah kehidupan manusia sejak penciptaan Adam a.s hingga sekarang, manusia yang tidak mengenal TUHAN yang sebenarnya (ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA) akan selalu terjebak pada me-nuhankan benda atau sesuatu yang dinggap berkuasa atas dirinya. Benda atau sesuatu yang dianggap berkuasa itu dapat berupa berhala (rupaan-rupaan yang dibentuk seperti patung, ukiran, lukisan), pohon-pohon besar, binatang, matahari, bulan, bintang, atau makhluk ghaib (jin) yang dinyatakan dengan simbol-simbol.

Dari sekian banyak penanding ALLAH ini yang paling banyak diyakini sebagai TUHAN adalah berhala atau rupaan-rupaan patung yang dibentuk dengan berbagai rupa dan ukuran. Bagi para penyembahnya berhala dapat dibentuk sedemikian rupa sesuai wujud yang dianggap mewakili TUHAN yang mereka hormati dan takuti. Berhala dianggap lebih kokoh dan dapat digantikan wujudnya apabila suatu saat rusak dibandingkan binatang yang dapat mati, bulan atau matahari yang muncul silih berganti atau pohon-pohon besar yang juga dapat tumbang dan binasa. Berhala juga dianggap lebih dapat memusatkan konsentrasi keimanan penyembahnya karena nyata wujudnya dan ukuran serta bentuknya pula dapat diingat oleh akal.

Pada hakikatnya perbuatan manusia-manusia penyembah berhala ini bukan karena tidak mempercayai adanya TUHAN (ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA) namun pencarian mereka akan wujud ALLAH dan keberadaannya yang tidak pernah menemui hasil yang mengarahkan mereka pada menciptakan wujud-wujud ALLAH yang dapat senantiasa mereka lihat atau bayangkan (berhala), hingga sejatinya pengakuan mereka terhadap ALLAH dalam bentuk ini jauh dari keadaan kafir (menafikan keberadaan ALLAH) dalam beberapa keadaan. Keadaan yang dimaksud adalah :

  • Para penyembah berhala dikatakan kafir apabila ia hanya meyakini sembahannya sebagai satu-satunya TUHAN yang berkuasa di muka bumi.
  • Para penyembah berhala dikatakan kafir apabila ia mengajak orang lain untuk mengikuti keyakinannya.
  • Para penyembah berhala dikatakan kafir apabila ia menyerang dan menyakiti (terlebih membunuh) orang yang tidak mengimani sembahannya (memiliki aqidah yang lain).


  • Sehingga dengan ketiga keadaan di atas, setiap penyembah berhala tunggal atau setiap penyembah berhala yang memaksa orang lain untuk mengikuti sembahannya baik dengan cara yang baik atau sampai menyakiti (bahkan membunuh) adalah hampir sama kedudukannya dengan seorang kafir mutlak yang sama sekali tidak mengakui adanya TUHAN (ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA) sebagai satu-satunya ILAH yang wajib disembah dan diibadahi.

    Perbuatan manusia menyembah berhala terjadi karena keterbatasan akal manusia dalam mencari wujud ALLAH dan keberadaannya yang tidak pernah menemui hasil karena akal manusia tidak akan pernah bisa melampaui batas dari apa yang bisa dicapainya dengan indera (penglihatan, pendengaran) nya.Sehingga apabila manusia mencari wujud TUHAN yang dapat dilihat, ia tidak akan pernah bisa melihatnya. Apabila manusia mencari wujud TUHAN yang dapat didengar, ia pula tidak akan pernah bisa mendengarnya.

    Dalam aqidah tauhid, pemahaman akan wujud dan keberadaan ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA dimulai dengan pengamatan terhadap apa-apa yang bisa dilihat atau didengar dari alam sekitar. Baik pengamatan terhadap langit, bumi dan segala yang ada membentang di atasnya. Seluas apa langit dan bumi serta segala isinya akan lebih luas dan lebih kuasa lagi PENCIPTA-nya, ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA, dan keyakinan sedemikianlah yang akan mengarahkan pada manusia untuk mengenal ALLAH hingga dengan tanpa melihat wujud-NYA, manusia akan dapat melihat betapa besar kuasa-NYA dan betapa hanya satu-satunya IA TUHAN yang Maha Berkuasa dan paling berhak disembah.

    Wallaahu ‘alam bish shawab.

    Tags: , , ,

    No Comments

    Leave a comment

    XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>