on October 10, 2013 by admin in Tafsir, Tilawah, Comments (0)

Tela’ah : QS. Ar-Ra’du ayat 2-4

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Ayat-ayat dalam surat Ar-Ra’du adalah sebagian dari ayat-ayat Makkiyah yang banyak menjelaskan mengenai tauhid. Permulaan surat dimulai dengan rangkaian “Alif-Lam-Mim-Ra” menyerupai beberapa surat lain dalam Al-Qur’an seperti Al-Baqarah, Al-Imran, Yunus, Hud, dan lainnya.

“ALLAH, DIA lah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang engkau lihat kemudian DIA bersemayam di atas Al-‘Arsy. DIA menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. ALLAH mengatur urusan makhluk-NYA dan menjelaskan tanda-tanda kebesaran-NYA, supaya engkau meyakini pertemuan dengan TUHAN-mu.” (QS. 13:2)

Ayat tersebut di atas menerangkan tentang ALLAH sebagai KHALIK yang dengan kesempurnaan ciptaan-NYA menjadikan langit menyangga bumi tanpa tiang namun tidak pula ia rubuh. ALLAH menciptakan langit berlapis-lapis dan di lapisan teratas (Al-‘Arsy) lah IA berada, tidak ada satupun makhluk yang mampu mencapainya tanpa seizin ALLAH. ALLAH sebagai KHALIK menciptakan matahari dan bulan, dan kedua ciptaan-NYA ini tunduk semata-mata pada kehendak-NYA, ALLAH Maha Berkuasa untuk mengaturnya, mengatur peredarannya dan kesempurnaan ciptaan dan ilmu ALLAH menjadikan kedua ciptaan-NYA ini (matahari dan bulan) beredar sesuai waktu yang telah ALLAH tentukan, matahari mengisi siang dan bulan melengkapi malam. Matahari menjadi sumber cahaya dan energi bagi semesta alam di siang hari, sementara bulan menjadi penunjuk waktu dan perhitungan musim ketika muncul di malam hari.

“Dan DIA-lah TUHAN yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan IA menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan. ALLAH menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran ALLAH) bagi kaum yang memikirkan.”

ALLAH menciptakan bumi dan memperlengkapi segala isi di atasnya. Gunung-gunung yang menyangga bumi dan sungai yang menyuburkan tanah serta menjadi sumber kehidupan. Di atas bumi ALLAH menciptakan tanaman, tumbuhan, dan buah-buahan.

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. ALLAH melebihkan sebagian tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran ALLAH) bagi kamum yang berfikir.” (QS. 13:3-4)

Al-Qur’an sebagai bahasa wahyu sering memuat perumpamaan-perumpamaan yang mengandung pelajaran. Sebagaimana kedua ayat di atas, ALLAH menyebutkan tentang buah-buahan yang IA ciptakan secara berpasangan. Pada ayat berikutnya disebutkan pula bahwa di bumi yang IA ciptakan ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan serupa kebun-kebun anggur dengan tanaman-tanaman dan pohon-pohon korma baik yang bercabang atau tidak bercabang. Dari kesemuanya itu ALLAH melebihkan sebagian tanaman atau sebagian lainnya mengenai rasanya, meskipun disirami air yang sama.

Jika ditilik dari makna yang terkandung di dalamnya, penggunaan buah-buahan yang berpasang-pasangan menjadi suatu pemikiran tersendiri, mengapa ALLAH menggunakan kata buah-buahan yang berpasang-pasangan terhadap sekian banyak makhluk-NYA yang diciptakan berpasangan. Bahkan mungkin akan lebih mudah untuk memahami binatang yang berpasangan (jantan dan betina) karena dapat dibedakan dari ciri dan bentuk tubuhnya. Buah-buahan merupakan karunia ALLAH yang wujudnya hampir sama untuk setiap jenisnya, meskipun ia ternyata ada yang jantan dan ada yang betina yang menjadikannya berpasangan. Sehingga dalam proses penyerbukan pula dibutuhkan dua jenis bibit dari tanaman yang jantan dan tanaman yang betina untuk menjadikan ia berbuah. Buah-buahan merupakan karunia dari ciptaan ALLAH yang wujudnya hampir sama untuk setiap jenisnya, misalnya buah apel akan hampir sama bentuk dan warnanya meski ternyata ada yang jantan dan ada yang betina. Buah-buahan merupakan benda yang lezat namun kebanyakan rapuh dan memiliki batas waktu yang menjadikan ia dapat membusuk. Rapuh untuk sebagian jenisnya karena apabila ia terjatuh, dipegang, diadu atau dilemparkan ke benda yang lain ia akan rusak dan malah hancur. Sedemikian juga makhluk ciptaan ALLAH yang lain, seumpama manusia. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang lemah, membutuhkan orang lain, hidup berdampingan, dan memiliki batas waktu. Apabila manusia sendiri, ia akan kesusahan. Apabila manusia jatuh, ia dapat cidera. Apabila manusia bertambah umurnya, ia akan menjadi tua dan ajal adalah sesuatu hal yang mutlak akan terjadi.

Di bumi yang ALLAH ciptakan ini selalu ada bagian-bagian yang berdampingan. Demikian juga manusia hidup berdampingan di alam dengan makhluk ALLAH yang lain, baik yang wujud maupun yang ghaib. Sebagaimana dicontohkan dengan kebun-kebun anggur dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon korma baik yang bercabang maupun tidak bercabang. Pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang dapat pula bermakna mereka yang diberi keturunan ataupun tidak diberi keturunan, semuanya berada dalam sistem sunnatullah yang sama, hidup berdampingan satu sama lain. Dari kesemuanya itu ALLAH melebihkan sebagian tanaman atas sebagian lainnya mengenai rasanya, meskipun disirami air yang sama. Beberapa mufassir menyimpulkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah para Rasul dan utusan ALLAH yang berada di antara makhluk ciptaan-NYA. Meskipun sama jenisnya, seibarat tanam-tanaman tadi yang tumbuh berdampingan dengan tanaman yang lain (anggur, korma yang bercabang dan tidak bercabang), namun memiliki keistimewaan tersendiri. ALLAH melebihkan sebagian dari yang lain yang dimaksud dalam ayat ini, yaitu para rasul dan utusan-NYA, adalah sebagai penyampai kebenaran tentang ALLAH itu sendiri (ilmu tauhid) sehingga sebagian yang lain yang tidak memiliki kelebihan sebagaimana para rasul memperoleh kesempatan dan haknya sebagai makhluk untuk lebih mengenal dan dekat kepada RABB-nya.

“Dan pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran ALLAH bagi kaum yang berfikir.” (QS. 13:4)

Wallahu ‘alam bish shawab

Tags: ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>