on September 2, 2013 by admin in Aqidah, Comments (0)

Kaidah Tauhid : Mencela makhluk adalah mencela penciptanya

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Salah satu sunnah Rasulullah adalah memanggil seseorang dengan nama yang paling disukainya. Semisal seorang anak laki-laki bernama fulan yang terkenal pandai boleh dipanggil dengan “fulan” atau “anak pandai” karena secara langsung akan menyuburkan kasih sayang dan mempererat silaturrahmi di antara keduanya.

Sebaliknya Rasulullah sangat membenci orang yang memanggil saudaranya, kerabat atau temannya dengan panggilan yang buruk. Terlebih apabila panggilan itu berhubungan dengan keadaan atau bentuk fisik orang yang bersangkutan. Misalnya anak laki-laki yang bernama fulan memiliki postur tubuh yang pendek atau hitam, tidak boleh dipanggil dengan sebutan “fulan pendek, fulan hitam, si pendek, atau si hitam”. Panggilan sedemikian akan menimbulkan rasa tidak suka dan benci di hati yang dipanggil dan secara tidak langsung juga telah mencela pencipta dari si fulan tadi yaitu ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.

Hal-hal kecil seperti ini sering tidak disadari bahkan pada beberapa bangsa kebiasaan mencela makhluk (segala ciptaan ALLAH baik yang hidup maupun yang mati) sampai sekarang masih sering dipraktekkan. Misalnya pada keadaan hujan badai yang tidak berhenti-henti, ketika seseorang mengucapkan perkataan seperti, “Hujan badai ini tidak berhenti sudah 2 hari membawa sial saja.” atau “Hujan badai begini bikin tidak bisa bekerja,” maka secara tidak langsung perkataan sedemikian adalah mencela pencipta hujan badai tersebut yaitu ALLAH yang Maha Berkehendak dan Maha Memiliki Maksud.

Demikian pula pada ciptaan ALLAH yang lain yang wujudnya abstrak seperti waktu, masa, atau hari. Perkataan-perkataan yang mencela salah satu daripadanya baik sengaja ataupun tidak adalah mencela juga penciptanya yaitu ALLAH. Perkataan mencela waktu, masa, atau hari ini sering tidak kita sadari atau bahkan hanya terbersit di dalam hati seperti, “Hari ini paling payah, tidak ada makanan dan minuman.” atau “Bulan ini rezeki kami paling sedikit.” Meskipun bentuknya hanya sekedar keluh kesah terhadap masalah yang dihadapi namun sedianya perkataan-perkataan sedemikian telah mencela ALLAH yang menjadikan hari, yang mencukupkan bilangan bulan dan yang Maha Menurunkan rezeki. Apabila pada hari ataupun bulan itu rezeki yang bersangkutan sedang sempit maka semestinya ia segera istigfar dan mengingat perbuatannya yang telah lalu karena sesungguhnya ALLAH tidak pernah menyempitkan atau memilah-milah rezeki yang IA turunkan pada hamba-NYA, hanya saja terkadang pencarian seseorang berbeda dengan pencarian yang lainnya. Sehingga apabila seseorang lebih banyak rezekinya dari orang lain bukan berarti ALLAH memberikan lebih padanya (tanpa alasan tertentu) dan mengurangkan yang lain. Alasan yang dimaksud adalah perbuatan atau amal baik orang tersebut misalnya ia gemar berinfak dan sadakah sehingga ia mendapatkan janji ALLAH akan rezeki yang berlipat ganda sesuai dengan apa yang telah ia infakkan atau sadakahkan.

Wallaahu ‘alam bish shawab

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>