on August 27, 2013 by admin in Syariat, Comments (0)

Fiqh Sunnah : Dilarang Meniru Suatu Kaum

Bismillaaahirrahmaanirraahiim

Rasulullah SAW adalah orang yang berprinsip dalam hidupnya. Mencegah lebih baik dari mengobati, demikian salah satu prinsip yang selalu beliau pegang. Karena itu dalam setiap tindakan Rasulullah beranggapan lebih baik tidak membuka peluang sama sekali untuk sesuatu hal yang ragu-ragu daripada tersesat di dalamnya.

Sabda Rasulullah SAW : “Dan janganlah engkau mengikuti kebiasaan suatu kaum karena mengikuti kebiasaan suatu kaum adalah termasuk di dalamnya.” Anjuran Rasulullah ini juga bersifat mencegah dan tidak membuka peluang sedikitpun terhadap perbuatan yang ragu-ragu lagi dapat menyesatkan.

Misalnya dalam hal berpakaian. Kebiasaan berpakaian dan berhias suatu kaum (yang bertentangan dengan syariat Islam) haram hukumnya untuk ditiru dan diikuti karena alasan di atas. Tanpa disadari, meniru dan mengikuti kebiasaan berpakaian kaum tersebut akan perlahan-lahan membuka peluang terhadap kebiasaan mereka yang lain sehingga tanpa disadari si peniru akan berbuat dan bertingkah laku sebagaimana mereka. Perlahan-lahan pula tanpa disadari si peniru akan terjerumus pada aqidah mereka

Kebiasaan merayakan ulang tahun dengan membakar lilin adalah kebiasaan kaum Yahudi yang banyak dipraktekkan sampai sekarang bahkan oleh umat Islam. Padahal dalam merayakan bertambahnya usia Rasulullah tidak pernah menganjurkan untuk mengadakan pesta sedemikian selain mengajak yang bersangkutan untuk memanjatkan doa pada ALLAH agar umur yang diberikan berkah dan bermanfaat bagi orang banyak. Kebiasaan baik lain yang boleh dilakukan semisal berinfak atau menyantuni anak yatim dengan niat sebagai bentuk rasa syukur terhadap segala yang ALLAH beri pada orang yang bersangkutan.

Demikian pula kebiasaan-kebiasaan lain yang berlaku pada kaum kafir (non muslim) saat ini terutama kebiasaan-kebiasaan bangsa Barat yang banyak ditiru oleh umat Islam saat ini. Misalnya menyenangkan hati suami dengan berdandan selayaknya pelacur atau tidak mengindahkan adab-adab Islami adalah haram hukumnya. Dengan kaidah yang pernah disampaikan Rasullullah bahwa sesuatu yang baik jalannya juga harus baik. Niat yang baik tidak membenarkan pekerjaan yang dilakukan boleh dengan segala macam cara.

Demikian pula kebiasaan-kebiasaan lain yang sifatnya meragukan sebaiknya dijauhkan dan dihindari karena akan membuka peluang terhadap kesesatan yang berujung pada penyimpangan aqidah.

Wallaahu ‘alam bish shawab

Tags:

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>