on August 25, 2013 by admin in Hikayat, Hikmah, Comments (0)

Kisah Syu’aib dan Kaum Madyan

Bismillaahirrahmaanirraahiim

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (QS. 7:85)

ALLAH menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya atas kehendak-NYA. Sebagaimana ALLAH pernah menciptakan kaum Madyan yang berukuran sangat besar sehingga mereka juga dikenal dengan sebutan raksasa Madyan.

Kaum Madyan hidup berdampingan dengan umat manusia berjuta-juta tahun yang lalu. Mereka mengadakan transaksi dengan umat manusia yang mempunyain keahlian menambang emas dan perak. Setiap satu genggaman emas atau perak seukuran tangan manusia akan dihargai dengan sebatang pohon yang besar yang dapat digunakan manusia untuk membuat pemukimannya. Namun sifat kaum Madyan yang menyukai hiburan sering menjadi penyebab mereka sering mengganggu manusia dengan sengaja menakut-nakuti mereka.

Syu’aib adalah salah seorang dari kaum Madyan yang berhati shaleh. Syu’aib di antara saudaranya adalah yang paling sering menyendiri dan bersembunyi di hutan. Suatu hari Syu’aib menemukan seekor rusa betina yang hampir ia bunuh untuk dijadikan makanannya. Rusa betina itu ketika sudah berada di genggaman Syu’aib berkata kepadanya, “Atas izin ALLAH aku berbicara padamu.”

Syu’aib pun terperangah dan hampir ia meloncat karena mendengar rusa betina itu berbicara padanya. “Di dalam tubuhku ada calon anakku yang kelak akan meneruskan keturunanku. Sesungguhnya amat zalimlah engkau apabila engkau membunuh dan memakan aku ketika aku sedang mengandung buah keturunanku.”

Syu’aib yang mendengarkan perkataan rusa betika itu menjadi tersentuh hatinya dan melepaskan rusa betina itu. Sejak itu Syu’aib yang atas izin ALLAH mendapat hidayah akan makna dari berbuat zalim terhadap makhluk lain. Ia pun sering melarang saudara-saudaranya yang suka mengganggu manusia. Saudara-saudaranya hanya menanggapi Syu’aib dengan gurauan dan menganggap ia berhati lemah. Salah seorang saudaranya yang tamak dan paling gemar mengumpulkan emas bermaksud untuk mengakali manusia agar memberikan padanya emas yang lebih banyak. Karena segenggaman emas yang mereka berikan itu seperti butiran pasir saja di hadapan matanya. Ia pun dengan sengaja mengajak saudaranya yang lain untuk bermain dan berlari-larian di dekat pemukiman manusia sehingga rubuhlah semua rumah mereka. Mereka menawarkan kayu dari pohon-pohon terbesar yang ada di hutan untuk tiap emas segenggaman tangan mereka. Ukuran tangan mereka yang besarnya berkali-kali lipat dari ukuran tubuh manusia membuat manusia tidak menyanggupi permintaan mereka. Karena untuk mengumpulkan emas segenggaman tangan manusia saja mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan, apalagi untuk mengumpulkan emas segenggaman tangan orang Madyan. Saudara Syu’aib itu kemudian mengancam akan memakan manusia apabila mereka tidak menyanggupi. Syu’aib yang mendengar kabar itu pun datang menengahi dan memperingati saudara-saudaranya untuk tidak melebihi batas dari kemampuan manusia. Saudara-saudaranya yang ingkar tidak mau mendengarkan Syu’aib dan terbit amarahnya. Mereka menginjak-injak setiap apa yang mereka lihat hingga manusia yang ada di situ tidak ada yang tersisa. Syu’aib pergi meninggalkan saudara-saudaranya dan tidak pernah kembali lagi berkumpul bersama mereka. Kekejian kaum Madyan yang telah mendapat peringatan dari Syu’aib ini pun dibalasi ALLAH seketika. ALLAH menyuruh Israil menimpakan azab kepada mereka. Dengan satu pekikan suaranya, Israil mencabut semua nyawa kaum Madyan yang ada saat itu kecuali Syu’aib yang telah pergi jauh meninggalkan saudara-saudaranya. Syu’aib berkelana dari satu tempat ke tempat lain hingga tiba ajalnya ia diwafatkan seolah seperti orang yang sedang tertidur di hutan belantara yang sangat-sangat lebatnya. Jasadnya ditemukan oleh rusa betina dan anak-anaknya yang dulu pernah dilepaskan Syu’aib. Mereka menutupi jasadnya dengan daun-daunan yang ada di hutan sehingga terlindung ia dari pandangan setiap orang yang lewat di sekitarnya.

ALLAH memberi petunjuk (hidayah) terhadap siapa yang ia kehendaki dan ALLAH tidak ada keuntungan atau kerugian sedikitpun atas sesatnya seseorang. Kerajaan ALLAH meliputi langit dan bumi hingga tidak sedikitpun IA membutuhkan makhluk untuk mempertahankan keagungan-NYA.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Syu’aib dan kaum Madyan merupakan tauladan bagi setiap orang beriman yang selalu mengharapkan petunjuk-NYA.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>