on August 8, 2013 by admin in Syariat, Comments (0)

Sunnah Idul Fitri

Bismillaahirrahmaanirrahiim

1 Syawal adalah akhir dari Ramadhan dan permulaan sesuatu yang baru. Ibarat membuka lembaran buku yang masih putih, 1 Syawal dapat menjadi permulaan yang baik setelah pendidikan diri selama bulan Ramadhan.

Kegembiraan yang dirasakan di 1 Syawal dapat meliputi suka cita terhadap apa yang telah dicapai selama Ramadhan. Baik itu amalan-amalan tersembunyi seperti menjaga puasa itu sendiri atau infak tanpa diketahui oleh orang lain, dan amalan-amalan yang terlihat seperti sedekah yang jauh dari riya, shalat tarwih berjama’ah, tadarus dan tadabbur Qur’an dan lain-lain. Kepuasan diri dalam mencapai kedua hal tersebut dapat berbuah pada Idul Fitri yang marak suka cita.

Kegembiraan dan suka cita dalam merayakan 1 Syawal sangat terlihat pada sebagian besar umat Islam saat ini. Dengan persiapan-persiapan sandang dan pangan untuk menyambut keluarga dan karib kerabat yang datang bertandang. Meski demikian sering tanpa disadari persiapan dan cara menyambut kegembiraan Idul Fitri cenderung berlebihan dan jauh dari sikap tawadhu’ yang diharapkan menjadi salah satu hasil pendidikan selama bulan Ramadhan.

Rasulullah dan para pengikutnya yang setia juga merayakan 1 Syawal, namun kegembiraan dan suka cita yang beliau SAW rasakan tidak lebih besar dari kesedihan dan kekecewaan beliau sepeninggal Ramadhan. Sehingga suka cita yang Rasulullah rayakan hanya sebatas suka cita terhadap silaturrahmi yang terjalin dalam 1 Syawal. Adapun tata cara Rasulullah (sunnah) dalam menyambut 1 Syawal adalah :

1. Menyudahi Ramadhan menyambut syawal dengan shalat 2 rakaat, memohon do’a untuk dipanjangkan umur agar dapat kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya.

2. Shalat sunnah Idul Fitri 2 rakaat, boleh dilakukan sendiri atau dalam jama’ah.

Shalat sunnah Idul Fitri dikerjakan pada pagi hari Syawal, tidak mutlak harus dikerjakan pada tanggal 1 Syawal karena pada beberapa keadaan 1 Syawal turun tidak bertepatan dengan pagi hari (bisa sore atau setelah maghrib). Karena itu sunnah dilakukan pada pagi pertama yang didapati di bulan Syawal.

Shalat sunnah Idul Fitri berbeda dengan shalat sunnah lainnya karena dikerjakan dengan didahului melafadzkan takbir dan tahrim. Rakaat pertama terdiri dari 7 takbir demikian pula berikutnya. Namun ada yang berpendapat rakaat pertama 7 takbir dan 5 takbir berikutnya. Pendapat yang kedua ini adalah yang lemah karena Rasulullah tidak pernah mengerjakan yang sedemikian.

Shalat sunnah Idul Fitri dapat dikerjakan sendiri namun dianjurkan dikerjakan dalam jama’ah bagi kaum laki-laki. Hal ini untuk memperkuat syi’ar dan menyuburkan silaturrahmi di antara kaum muslimin. Bagi kaum perempuan tidak ada pengharaman namun tidak dianjurkan untuk ikut berbondong-bondong menuju tempat shalat Idul Fitri karena dikhawatirkan fitnah yang akan ditimbulkannya lebih besar dari manfaatnya.

Di antara fitnah yang dapat muncul akibat kaum perempuan ikut shalat Idul Fitri berjama’ah adalah :
1. Bermewah-mewahan dalam berpakaian dan berhias demi memperlihatkan kecantikan dan harta yang dipunyai.

2. Meninggalkan kewajiban menjaga anak dan keluarga, terlebih jika anak-anak dibawa maka akan mengganggu shalat yang lainnya.

Sehingga lebih besar keutamaannya bagi kaum perempuan untuk shalat di rumah daripada berbondong-bondong keluar rumah meskipun untuk shalat berjama’ah di hari raya.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>