on August 2, 2013 by admin in Aqidah, Comments (0)

Kalam-ALLAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kalam-ALLAH (KalamALLAH) adalah setiap perkataan ALLAH yang menjadi kehendak, ketentuan dan ketetapan-NYA. KalamALLAH berlaku untuk setiap ciptaan-NYA dan yang di luar dari itu (setiap hal yang hanya menjadi rahasia ALLAH, Maha Suci dan Maha Tinggi ALLAH atas kesempurnaan ilmu-NYA).

Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat KalamALLAH baik yang berisi perkataan-NYA tentang IA, ketentuan-NYA akan ciptaan-NYA, dan ketetapan-NYA akan ciptaan-NYA itu. Di antaranya adalah :

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [QS. 20 : 14]

Dalam ayat di atas ALLAH menyatakan diri-NYA sebagai TUHAN yang hak (benar) dan ALLAH memberikan ketentuan shalat sebagai jalan untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada-NYA.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. 2 : 186]

Dalam ayat di atas KalamALLAH meliputi perkataan-NYA tentang keberadaan-NYA yang dekat dengan hamba-NYA. IA mengabulkan doa setiap yang meminta selagi hamba-NYA tersebut taat pada segala perintah-NYA dan selalu mengimani-NYA sebagai satu-satunya TUHAN yang wajib diibadahi. Dalam kutipan ayat yang lain menyebutkan:

“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.” [QS. 29 : 56]




Kandungan ayat di atas memuat KalamALLAH yang tersirat dalam bentuk kekuasaan-NYA terhadap segala ciptaan-NYA (dalam hal ini bumi yang sangat luas yang tak satupun makhluk dapat menjelajahinya tanpa seizin ALLAH karena luasnya bumi itu). ALLAH dengan Kalam-NYA menunjukkan kekuasaan dan kekuatan-NYA dalam penciptaan bumi, IA pula yang menguasai setiap jengkal darinya dan tak satupun yang bisa menandingi IA atas ciptaan dan kekuasaan-NYA, ALLAHU AKBAR.

KalamALLAH yang lain juga dapat dibaca pada :

“Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS. 2 : 160]

ALLAH menerangkan bahwa IA Maha menerima taubat setiap hamba-NYA yang memohon taubat. ALLAH juga menerangkan sifatnya sebagai AR-RAHIM (Yang Maha penyayang) yang sangat Penyayangnya terhadap hamba-NYA yang bertaubat dan ingin kembali kepada jalan-NYA, lebih dari sifatnya sebagainAR-RAHMAN ( Yang Maha Pengasih) untuk hal ini. Maha Suci ALLAH dengan Rahim-NYA.

Adapun KalamALLAH yang berisi ketetapan-NYA terhadap ciptaan-NYA termuat dalam ayat berikut:

“Manusia dahulunya hanyalah satu ummat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. “[QS. 10 : 19]

ALLAH yang Maha Berkehendak menetapkan fitrah ummat yang pada mulanya adalah satu bagian namun akan selalu berselisih sehingga mereka akan terpecah belah. Dalam ketetapan ALLAH ini akan terlihat siapa yang benar iman-NYA dan siapa yang berpaling dari jalan yang telah ALLAH ridhai atasnya (Islam).

Dalam haditsnya Rasulullah SAW juga memperjelas ketetapan ALLAh ini yaitu, “Pada akhir zaman ummatku akan terbagi menjadi 78 golongan, dan yang selamat di antara mereka hanyalah ulama.”

Ulama yang dimaksudkan Rasulullah di sini bukanlah ulama atau ustadz yang terkenal atau berasal dari mazhab-mazhab tertentu melainkan langsung menunjuk kepada siapa saja yang dengan ilmunya (ulama = orang yang berilmu) dapat istiqomah di jalan yang benar meski ia terkucil dan sendiri (tidak dalam jama’ah).

Namun harus dapat dipahami bahwa yang terpecah-pecah itu adalah ummat dan bukan ajaran tauhid (Islam) yang juga menjadi fitrah setiap makhluk ciptaan ALLAH karena ketetapan ALLAH akan agama-NYA pula sudah dijamin dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 92:

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” [QS. 21 : 92]

Ketetapan ALLAH yang lain yang memperlihatkan kekuasaan-NYA sebagai Yang Maha Berkehendak termuat dalam ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. [QS. 15 : 28]

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat. [QS. 2 : 122]

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. [QS. 2 : 124]

Sehingga ketetapan ALLAH dalam Kalam-NYA pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang menjadi kehendak-NYA dan berlaku pada satu kejadian. Misalnya ketetapan ALLAH pada Bani Israil, ketetapan ALLAH pada Ibrahim dan ketetapan ALLAH ketika hendak menciptakan manusia. Segala yang menjadi kehendak ALLAH yang memperlihatkan kekuasaan-NYA sebagai KHALIK (Maha Pencipta) terangkum dalam ketetapan KalamALLAH ini.

Sedangkan ketentuan ALLAH dalam Kalam-NYA meliputi segala perintah-NYA terhadap hamba-NYA yang berisi aturan dan cara seorang hamba untuk dapat mengibadahi-NYA sebagai RABB semesta alam. KalamALLAH yang berisi ketentuan-NYA ini di antaranya perintah shalat, perintah zakat, perintah menutup aurat, perintah berperang apabila diperangi dan aturan-aturan lain yang terangkum dalam syariat Islam.

KalamALLAH yang memuat ketentuan-NYA ini dapat dilihat pada :

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” [QS. 2 : 40]

ALLAH menentukan jalan
ketaqwaan (takut dan tunduk) terhadap Bani Israil sebagai bukti keimanan mereka. Takut dan tunduk diwujudkan dalam ibadah dan perbuatan amal shalih seorang hamba demi mengharap keridhaan RABB-nya.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”. [QS. 3 : 195]

Pada ayat di atas memuat ketentuan ALLAH yang berisi janji-NYA akan balasan yang baik (syurga) terhadap orang beriman dari kaum muhajirin yang karena keimanan-NYA pada ALLAH terusir dari kampung halaman mereka (Makkah). ALLAH juga menetapkan terhadap mereka penghapusan dosa dan segala kesalahan mereka sebelum berhijrah. Maha Suci ALLAH dengan Kemurahan dan Kasih Sayang-NYA.

KalamALLAH dapat berupa perkataan-NYA tentang IA, ketentuan-NYA akan ciptaan-NYA, dan atau ketetapan-NYA akan ciptaan-NYA. Ketiga bagian dari itu merupakan salah satu ajaran tauhid yang harus dipelajari dan dipahami oleh setiap muslim sehingga dapat bertambah keimanannya terhadap ALLAH, RABBUL ‘ALAMIIN.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Photo credit: commons.m.wikimedia.com

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>