on July 28, 2013 by admin in Syariat, Tarbiyah, Comments (0)

Sebaik-baik Pakaian adalah Pakaian Taqwa

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah dan berhiaslah. Namun pakaian taqwa adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan ALLAH (agar kamu beriman), mudah-mudahan mereka selalu mengingatnya.” (QS. Al-A’raf : 26)

Malu adalah salah satu fitrah yang ALLAH tetapkan pada manusia. Perasaan malu akan membuat manusia enggan untuk tidak menutupi aurat atau bagian tubuhnya. Berbeda dengan binatang yang ALLAH tidak tetapkan rasa malu pada mereka sehingga tak satupun binatang yang merasa risih dengan tidak berpakaian.

ALLAH juga menciptakan manusia dengan rasa suka terhadap keindahan dan perhiasan terutama dari kaum perempuan. Berkah rasa suka terhadap keindahan ini salah satu faidahnya dalam fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah sebagai penyeimbang segala pekerjaan mereka yang suatu waktu dapat merusak dan bukan memelihara keseimbangan alam sebagaimana mestinya. Misalnya dalam pembukaan lahan untuk membangun perkampungan, apabila pembangunan perkampungan ini tidak memperhatikan estetika atau sisi keindahan maka pembangunan yang dihasilkan akan berujung pada penebangan hutan liar dan kerusakan keseimbangan dari alam itu sendiri.

Kesukaan manusia terutama kaum perempuan terhadap sesuatu yang indah dan juga perhiasan dibenarkan oleh ALLAH dalam hal berpakaian (untuk menjaga malu). Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-A’raf di atas:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah dan berhiaslah. Namun pakaian taqwa adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan ALLAH (agar kamu beriman)”

ALLAH telah menetapkan malu sebagai fitrah manusia dan telah menurunkan pakaian untuk menutupinya. ALLAH pula membenarkan manusia untuk memperindah dirinya (pakaiannya) dan diperbolehkan pula berhias untuk melengkapi keindahannya. Namun sebagaimana dijelaskan berikutnya dalam ayat di atas, sebaik-baik pakaian yang dianjurkan dan disukai ALLAH adalah pakaian taqwa.

Pakaian taqwa adalah pakaian yang sesuai dengan syariat yang dimuat aturan-aturannya dalam beberapa surat lain dalam Al-Qur’an dan dijelaskan pula oleh Rasulullah dalam beberapa haditsnya.

Adapun kriteria pakaian taqwa ini adalah :

1. Menutup dada dan aurat lain kecuali yang biasa nampak daripadanya.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, .. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada ALLAH hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Kriteria pakaian taqwa menurut ayat di atas adalah menutupkan kain ke dada selain daripada pakaian yang dipakai oleh seorang wanita pada umumnya dan tidak memperlihatkan perhiasan yang biasa nampak daripadanya. Kata perhiasan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan qiyas untuk bagian-bagian tubuh wanita yang mempercantik penampilannya mulai dari rambutnya, lengannya, betisnya dan atau bagian dari kakinya yang lain seperti telapak kakinya. Pada keadaan tertentu bahkan telapak kaki wanita dapat menimbulkan syahwat dan perasaan suka pada sebagian laki-laki. Perhiasan yang dimaksud di atas pada masa jahiliyah dan sebelum turunnya ayat untuk menutupinya adalah bagian-bagian tubuh kaum perempuan yang biasa tampak dan terbuka. Wanita bangsa Arab zaman dahulu sangat suka menghias rambut mereka dan menggunakan pakaian yang tipis dengan berbagai aksesioris yang akan menarik perhatian orang ketika mereka berjalan atau hadir di suatu pertemuan. Kebiasaan berpakaian dan berhias yang sedemikian secara tidak langsung disebabkan karena rendahnya martabat dan kedudukan seorang perempuan di dalam tatanan masyarakat. Sehingga muncul anggapan bahwa memiliki anak perempuan hanya akan membawa aib dan kerugian pada sebuah keluarga. Mereka yang memiliki anak perempuan lebih dari satu tidak akan sungkan untuk memberikannya bahkan menjual anaknya kepada orang lain untuk dijadikan budak, pembantu bahkan istri-istri simpanan para pembesar Arab pada waktu itu.

Ketika ayat yang berisi perintah untuk menutupi aurat bagi kaum perempuan diturunkan pada Rasulullah (dalam periode Makkah kerasulan) setiap perempuan muslim yang beriman dengan segera mentaati beliau dan meraih apapun kain yang mereka punya untuk menutupi kepala hingga dada mereka. Jumlah pengikut Rasulullah dari kaum perempuan yang masih sangat sedikit berbanding terbalik dengan ketaatan dan kekuatan iman mereka yang sangat teruji pada saat itu. Sehingga apapun yang Rasulullah katakan mereka akan dengan tanpa bertanya akan langsung mengikuti beliau dengan perkataan mereka pada waktu itu, “sami’na wa atho’na ya Rasulullah.” (kami dengar dan kami ta’at ya Rasulullah). Ketaatan mereka pula atas perintah ALLAH yang disampaikan melalui Rasulullah ini yang perlahan-lahan menaikkan derajat kaum muslimin dari golongan perempuan.

Cara mereka berpakaian menjadi berbeda dengan wanita Arab yang belum memeluk Islam. Cara mereka berjalan dan mengenakan perhiasan juga berbeda dengan kebiasaan merek dahulu. Sehingga sebagian dari wanita Arab yang belum memeluk Islam mencemooh mereka dengan mengatakan mereka ketinggalan zaman dan terlihat bodoh (bahlul) dengan cara berpakaian mereka yang baru. Namun bagi wanita muslimin yang sudah mengerti dan memahami konsep berpakaian sesuai syariat ini dan dapat menjelaskan dalil-dalil keutamaannya justru menarik simpati sebagian kaum perempuan Arab yang juga menyadari kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah mengenai cara berpakaian mereka selam ini yang justru membuat kedudukan mereka semakin rendah dan terhina di tengah masyarakat Arab jahiliyah.

Dalam surat An-nur ayat 31 di atas juga dijelaskan secara terperinci ahli-ahli keluarga yang diperbolehkan untuknya melihat sebagian aurat wanita kecuali yang benar-benar harus terjaga daripadanya.

2. Menutupi seluruh tubuh

“Hai Nabi katakanlah kepada istrimu dan anak-anak perempuanmu serta istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh. Yang demikian itu supaya mereka lebih di kenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59)

Surat Al-Ahzab ayat ke-59 ini merupakan ayat atau perintah yang pertama turun mengenai kewajiban untuk menutup aurat bagi kaum perempuan, mendahului surat An-Nur ayat 31 yang menjelaskan batasan aurat yang harus menutupi dada dan pihak ahli keluarga yang diperbolehkan melihat sebagian aurat yang biasa nampak daripadanya. Pada ayat ini kriteria pakaian taqwa adalah mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh. Jilbab yang dimaksud dalam ayat ini tidak sama pengertiannya dengan jilbab yang digunakan sehari-hari pada saat ini di Indonesia yang berupa kain segi empat atau sejenisnya yang digunakan sedemikian rupa untuk menutupi rambut dan kepala seorang perempuan. Jilbab yang dimaksud dalam ayat ini adalah kain panjang dan lebar yang digunakan untuk menutupi seluruh bagian tubuh dari kepala hingga ujung kaki. Meskipun tidak dijelaskan secara terperinci dalam ayat ini, beberapa hadits shahih memuat keterangan lebih jauh mengenai jilbab ini yaitu:
– Pakaian yang menutupi aurat dari kepala hingga ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan atau sebagian daripadanya.
– Pakaian yang menjaga kehormatan perempuan beriman ketika menggunakannya.
– Pakaian yang tidak tipis dan memperlihatkan bagian atau lekukan tubuh sehingga menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki ketika memandangnya.
– Pakaian yang tidak menyerupai segolongan kaum (seperti nasrani, yahudi).

Kriteria terakhir dimuat sangat banyak dalam berbagai hadits Rasulullah di antaranya:

“Diharamkan bagimu berpakaian sebagaimana mereka berpakaian, yang demikian agar kamu tidak diganggu.”

“Dan janganlah kamu menirukan suatu kaum agar kamu tidak termasuk di dalamnya, barangsiapa yang menirukan suatu kaum baik maka ia adalah bagian dari kaum itu.”

“Pakaian laki-laki untuk laki-laki dan pakaian perempuan untuk perempuan. Yang demikian itu agar kamu berbeda.”

Jilbab merupakan kain panjang dan lebar yang dapat menutupi seluruh tubuh. Pada saat ini perbedaan mahzab yang diperumit oleh perkembangan fashion dan mode menjadikan pemahaman masing-masing golongan berbeda mengenai jilbab. Sebagian golongan mendefenisikan jilbab sebagai gamis tanpa jahitan yang memisahkan bagian atas dan bawah pakaian, sebagian yang lain memperbolehkan pakaian yang terpisah bagian atas dan bawah nya asal tidak menggunakan bentuk celana yang menjadi ciri khas laki-laki (sebagai mana dimaksud dalam salah satu hadits di atas), sebagian yang lain pula memperbolehkan apapun jenis pakaiannya asal memenuhi kriteria dua ayat di atas.

Pada keadaan ini yang menjadi dalil hukum yang hak adalah kedua ayat di atas (surat An-Nur dan Al-Ahzab) dan berlaku faktor kelaziman atau kebiasaan yang ada pada masyarakat tersebut. Misalnya bagi bangsa Arab pakaian putih untuk laki-laki dan pakaian hitam untuk perempuan. Aturan ini hanya berlaku untuk muslimin bangsa Arab sehingga di luar lingkungannya adalah boleh hukumnya bagi laki-laki atau perempuan Arab menggunakan warna yang lain sesuai dengan aturan dasar kedua ayat di atas. Demikian pula dengan bangsa Indonesia yang memiliki keragaman cara berpakaian. Di Indonesia aturan hitam dan putih tidak berlaku bagi muslim perempuan dan musim laki-laki karena tidak lazim dan tidak biasa digunakan sebagaimana kebiasaan bangsa Arab. Di Indonesia muslimin perempuan biasa menggunakan rok, gamis terusan, celana longgar, baju tunik dan sejenisnya dengan berbagai warna karena itu adalah kebiasaan yang ada di masyarakat. Sehingga tidak menjadi haram hukumnya dan dikatakan meniru laki-laki apabila ada perempuan muslim yang menggunakan celana longgar atau pakaian lain sejenis dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam kedua ayat dan hadits di atas, yaitu:
– Menutupi seluruh tubuh
– Menutupi dada
– Tidak tipis dan tidak memperlihatkan lekukan tubuh

Mengenai Berhias (Tabarruj)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah dan berhiaslah. Namun pakaian taqwa adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan ALLAH (agar kamu beriman), ” (QS. Al-A’raf : 26)

Salah satu perkara yang masih sering diperdebatkan di antara golongan ulama adalah mengenai diperbolehkannya berhias (tabarruj) pada ayat di atas. Perdebatan ini disebabkan adanya larangan berhias pada surat Al-Ahzab ayat 33 yaitu:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”

Jika ditilik lebih jauh sebenarnya ayat tersebut tidak bertentangan dengan ayat ke-67 surat Al-A’raf yang memperbolehkan berhias karena ayat ke-33 surat Al-Ahzab itu turun mendahului ayat ke-67 surat Al-A’raf sebagai rambu-rambu bagi perempuan muslimah terhadap keadaan kaum perempuan Arab pada masa jahiliyah. Ayat ke-59 dari surat yang sama (Al-Ahzab) kemudian mempertegas dan memberi batasan langsung yang membedakan perempuan muslimah dan perempuan jahiliyah yaitu dengan mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka. Ayat ke-59 surat Al-Ahzab ini merupakan jawaban langsung dari ALLAH terhadap kegelisahan Rasulullah akan keadaan perempuan terutama perempuan muslimah pada waktu itu karena beliau SAW pula memiliki anak perempuan dan pengikut setia dari golongan Anshar yang sering dilecehkan oleh kaum kafir Quraisy karena kasta mereka yang rendah dalam tatanan kemasyarakatan bangsa Arab pada waktu itu.

Sedangkan ayat ke-67 surat Al-A’raf turun kemudian yang memberikan janji ALLAH kepada setiap muslimin perempuan bahwa pakaian yang mereka pilih sebagai bukti ketaatan dan keimanan mereka itu adalah pakaian yang terbaik hingga ia disebut dengan pakaian taqwa. ALLAH pula memperbolehkan mereka (muslimin perempuan) untuk berhias sesuai dengan fitrah mereka sebagai perempuan dengan tidak meninggalkan ciri khas dari pakaian taqwa mereka yang dijelaskan Rasulullah dalam beberapa haditsnya. Berhias yang diperbolehkan bagi setiap wanita beriman adalah:
– Berhias untuk menyenangkan suaminya.
– Berhias yang tidak berlebih-lebihan.
– Berhias dengan tidak meninggalkan perkara yang dilarang dalam surat sebelumnya seperti tidak menggunakan perhiasan di kaki yang mengeluarkan bunyi-bunyian sehingga menarik perhatian dan menimbulkan fitnah terhadap sebagian laki-laki yang memandangnya.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah dan berhiaslah. Namun pakaian taqwa adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan ALLAH (agar kamu beriman)” (QS. Al-A’raf : 67)

Pakaian taqwa adalah sebaik-baik pakaian yang disukai ALLAH dan adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-NYA terhadap penciptaan manusia sebagai makhluk ciptaan-NYA. ALLAH yang menciptakan dan ALLAH pula yang Maha Mengetahui kekurangan hamba-NYA. Maha Suci ALLAH dengan kesempurnaan ilmu-NYA.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , , , , , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>