on July 23, 2013 by admin in Hikayat, Tafsir, Uncategorized, Comments (0)

Tela’ah : Kisah Ibrahim dan Baitullah dalam surat Al-Baqarah ayat 125 -128

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a) : Ya TUHAN kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya ENGKAU-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

“Ya TUHAN kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada ENGKAU dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada ENGKAU dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat ibadah kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya ENGKAU-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

 

Ketika Ibrahim mendapat perintah untuk membangun sebuah kubah di tengah-tengah kabilah yang baru terbina beberapa tahun setelah sumber air zam-zam ditemukan, beberapa orang dari anggota kabilah itu mempertanyakannya. Ibrahim dan keluarganya telah memiliki tempat tinggal mereka namun kenapa Ibrahim bersama anaknya Ismail membangun sebentuk rumah pula di tengah-tengah kabilah mereka. Ibrahim menjawab dengan keimanannya, “Aku mendapat perintah oleh TUHAN-ku untuk membangun rumah-NYA (Baitullah) dan aku mengerjakannya bersama putraku Ismail.”

Setelah kubah itu selesai didirikan, Ibrahim pun berjalan mengelilingi kubah itu diikuti oleh Ismail sambil mengucapkan asma “ALLAH, ALLAH, ALLAHU AKBAR” berulang-ulang dan merekapun mengelilingi kubah itu beberapa kali. Ibrahim kemudian mengangkat tangannya dan berdoa sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah di atas: Ya TUHAN kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya ENGKAU-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Ya TUHAN kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada ENGKAU dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada ENGKAU dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat ibadah kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya ENGKAU-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Tempat Ibrahim mengangkat tangannya sembari berdoa itu kemudian dikenal sebagai maqam Ibrahim (pijakan Ibrahim).

Setelah selesai berdoa Ibrahim dan Ismail masuk ke dalam kubah dan shalat dua rakaat banyaknya. Mereka mengangkat kedua tangannya setinggi kepala dan mengucapkan “ALLAHU AKBAR” Ismail pula mengikuti setiap gerakan ayahandanya. Ibrahim mengangkat kedua tangannya lagi sambil mengucapkan “ALLAHU AKBAR” dan ia pun bersujud di atas kedua lututnya dengan tangan diletakkan di tanah setinggi kepalanya. Pada rakaat kedua setelah selesai sujud, ia pun duduk tahyat (duduk sebentar) dan memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil mengucap “Salaamun ‘alaikum” Setelah salam Ibrahim mengangkat tangannya lagi dan berdo’a “Ya TUHAN kami, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentausa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada kami.” Rangkaian ibadah yang dilakukan Ibrahim dan Ismail ini menjawab doa beliau a.s yang kemudian terangkum dalam ibadah haji.

Setelah Baitullah berdiri, Ibrahim dan keluarganya selalu beribadah di tempat itu. Setiap hari mereka datang dan memulai rangkaian ibadah mereka dengan thawaf dan kemudian shalat di dalamnya. Anggota kabilah yang lain yang menyaksikan tingkah laku Ibrahim dan keluarganya tidak habis herannya hingga suatu hari mereka bertanya kepada Ibrahim. Ibrahim pula menjawab, “Aku beribadah kepada TUHAN-ku demikian pula anak dan istriku.” Beberapa di antara anggota kabilah mulai menganggap Ibrahim gila akan kehadiran TUHAN-nya.

Suatu hari seorang musafir datang ke daerah tersebut dan berhenti di kubah yang dibangun Ibrahim. Musafir itu mengucapkan “Salaamun ‘alaikum,” dan kemudian mulai berjalan mengelilingi kubah tersebut sambil mulutnya membaca semacam doa berulang-ulang. Ia melakukannya beberapa kali sebagaimana Ibrahim dan keluarganya. Selesai ia berkeliling kubah itu ia pun masuk ke dalamnya dan shalat dua rakaat banyaknya. Salah seorang anggota kabilah yang penasaran akan kehadiran musafir tersebut menghampirinya ketika ia selesai shalat dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku musafir, apa yang telah kamu lakukan barusan,” Musafir itu pun menjawab, “Aku telah mengibadahi TUHAN-ku dan aku mengagungkannya di rumahnya (Baitullah).” Anggota kabilah tadi kemudian bertanya lagi, “Tapi engkau berbuat sebagaimana Ibrahim sedangkan ia adalah seorang yang gila?” Musafir itu pun tersenyum dan menjawab, “Tidak, demi ALLAH ia adalah orang yang benar” Musafir itu pun berlalu meninggalkan anggota kabilah tadi.

Keesokan harinya datang lagi musafir yang lain dan begitu seterusnya silih berganti. Semakin hari semakin banyak yang datang ke Baitullah yang dibina Ibrahim. Entah darimana kabar yang menyebar, kabilah yang kecil di sekitar Baitullah semakin ramai didatangi para musafir dari negeri-negeri yang jauh. Entah darimana mereka berasal, tujuan mereka datang hanya untuk beribadah di Baitullah dan memanjatkan doanya di sana. Di antara dari mereka adalah malaikat yang menyamar yang diutus ALLAH untuk membantu Ibrahim dalam menyebarkan agamanya, di antaranya adalah mereka yang mendengar berita tentang Baitullah dan telah terbuka hatinya terhadap cahaya Islam. Sementara anggota kabilah Ibrahim sendiri sangat sedikit yang mengambil pelajaran dan bahkan hanya menyaksikan saja setiap orang yang berthawaf dan shalat di Baitullah itu sebagai pekerjaan yang membuang waktu dan sia-sia.

Dalam Al-Qur’an peristiwa ini pula dituliskan dalam ayat ke-125sebagai berikut:
“Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.”

Wallaahu ‘alam bish shawab

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>