on July 21, 2013 by admin in Hikayat, Tafsir, Comments (0)

Tela’ah : QS. Al-Baqarah ayat 40 – 47, Kisah Bani Israil

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-KU yang telah AKU anugerahkan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-KU niscaya AKU penuhi janji-KU kepadamu. Dan hanya kepada-KU lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. 2 : 40)

Kisah Bani Israil sering disebutkan dalam beberapa surat dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah dalam surat Al-Baqarah. Bani Israil adalah sebutan yang diberikan kepada anak keturunan Nazrail, salah seorang nabi ALLAH yang lahir dalam kaumnya yang tidak mengakui adanya TUHAN (atheis).

Nenek moyang Nazrail pada awal kehidupan mereka terusir dari kampung halamannya karena keingkaran mereka pada Tuhan-Tuhan para pendahulu mereka. Dalam pengasingannya mereka menemukan tanah yang sangat subur di lembah Thuwa, yang mengalir di dekatnya sungai-sungai dengan segala kekayaan alam di dalamnya. Mereka pula memulai kehidupan baru mereka di sana dengan bercocok tanam dan membangun kota mereka yang baru. Sumber daya alam yang melimpah ruah menjadikan kehidupan mereka sangat makmur dan tak kurang sesuatu apapun. Ketika Nazrail lahir dan tumbuh dalam masyarakat yang serba berkecukupan, ia merasakan ada sesuatu yang kurang. Kehampaan dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, kekosongan dalam segala sendi kehidupan mereka yang aman tenteram tanpa pernah merasa khawatir akan kekurangan dan kelaparan. Nazrail sering kedapatan termenung ketika dalam acara jamuan-jamuan, sehingga muncul anggapan di antara teman-temannya kalau Nazrail kurang sehat fisiknya.

Dalam renungannya Nazrail menemukan Tuhan. Kehampaan yang selama ini ia rasakan tidak pernah terpuaskan oleh segala jenis makanan dan minuman. Kekosongan yang sering ia rasakan tidak pernah lengkap meski segala keinginannya telah ia dapatkan. Ia membutuhkan sesuatu tempat ia berkeluh kesah yang lebih dari seorang teman bahkan lebih dari saudaranya sendiri. Ia membutuhkan sesuatu tempat ia bersandar dan mencurahkan isi hati dan harapan. Nazrail membutuhkan Tuhan, Tuhan yang mungkin nenek moyangnya dahulu telah tinggalkan adalah jawaban atas pencariannya selama ini. Nazrail pun mulai membuat Tuhan. Tuhan yang ia rupakan dari tembikar, batu bahkan pahatan logam. Tapi Tuhan yang ia buat seolah Tuhan yang tidak berdaya. Dalam pencariannya, masyarakat mulai menganggap Nazrail gila dan terganggu ingatannya. Meski demikian, mereka hanya mengacuhkannya karena dianggap tidak berbahaya.

Suatu hari Nazrail pergi ke pinggir jurang, membuang segala Tuhan yang ia buat dan berteriak sekuat-kuatnya atas isi hatinya selama ini. “TUHAN! Ya TUHAN, TUHAN-ku, dimana ENGKAU?” Nazrail jatuh terduduk dan seolah ia mendengar suara seseorang berkata kepadanya. “Katakanlah, TUHAN itu Satu, TUHAN itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. TUHAN itu tempat berpulang segala sesuatu, dan tak ada satupun yang menyerupai IA.” Nazrail terhenyak dan air mata meluap dari kedua matanya. Jibril telah datang membacakan Al-Qur’an padanya dan Nazrail pula telah dipilih menjadi utusan ALLAH di antara kaumnya.

Nazrail mulai membacakan apa yang ia dengar di setiap orang yang ia temui. Hampir benar-benar seperti orang gila. Nazrail pergi menemui keluarganya dan membacakan ayat-ayat yang sama. Keluarganya yang sedari dulu menganggap ia sakit hanya mengurungnya di kamar. Namun hari-hari berikutnya Nazrail tetap membacakan ayat-ayat yang ia dengar itu pada keluarga, saudara, teman dan siapa saja yang ia temui yang mau mendengarkannya atau yang tidak mau mendengarkannya. Nazrail mencoba meyakinkan mereka tentang kehampaaan dalam kehidupan mereka selama ini obatnya hanyalah kembali kepada TUHAN. Dalam perjalanannya Nazrail memiliki beberapa pengikut yang juga kemudian dianggap gila oleh penduduk kota. Namun jumlah mereka yang semakin bertambah membuat masyarakat mulai terusik karena Nazrail dan pengikutnya kerap berkumpul membacakan ayat-ayat yang diajarkannya selama ini. Setelah bertahun-tahun menyebarkan ajarannya, Nazrail dan beberapa pengikutnya mengasingkan diri dari masyarakat kota karena putus asa melihat masyarakatnya yang tidak mau menerima kebenaran dan mengikuti ajarannya. Beberapa pengikutnya yang masih memilih tinggal menjadi cikal bakal terbentuknya ‘anak keturunan’ Nazrail yang dikenal dengan sebutan Bani Israil (Israiliyat).

Dalam penyebaran agama Nazrail, pemahaman para pengikutnya yang tidak sama keimanannya menyebabkan munculnya penyelewengan dan aliran-aliran baru. Sebagian tetap menganggap Nazrail adalah utusan Tuhan, sebagian yang lain mengkultuskannya, sebagian yang lain bahkan menganggap Nazrail adalah anak TUHAN karena kemuliaan ajarannya. Pemahaman yang terakhir ini dikenal dengan aqidah Nazrane yang menjadi cikal bakal munculnya agama Nashoro (nasrani) sebagai agama paling baru dan paling mulia bagi keturunan Bani Israil.

Ayat ke-40 dari surat Al-Baqarah berisi peringatan ALLAH kepada Bani Israil dengan penekanan ayat pada perjanjian ALLAH dan kaum Bani Israil: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-KU yang telah AKU anugerahkan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-KU niscaya AKU penuhi janji-KU kepadamu. Dan hanya kepada-KU lah kamu harus takut (tunduk).”

ALLAH telah memberikan keamanan bagi mereka (Bani Israil) dalam menjalankan agama mereka di tengah kekafiran masyarakat mereka sendiri, yang telah ALLAH berkahi pula segala kelebihan dan kemakmuran alam yang menjamin kehidupan mereka.

ALLAH telah melebihkan Bani Israil (pengikut pertama Nazrail) atas sebagian ummat (masyarakat kota Nazrail) yang ingkar kepada ALLAH. ALLAH telah memberikan petunjuk terhadap agamanya yang menjadi petunjuk kepada jalan yang lurus yang termuat dalam ayat-ayat berikutnya:

“Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah AKU turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu (Thuraat-Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat KU dengan harga yang murah, dan hanya kepada-KU lah kamu harus bertaqwa.” (QS. 2 : 41)

“Dan janganlah kamu samakan yang hak dengan yang bathil, dan janganlan kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.” (QS. 2 : 42)

“Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan sedang kamu melupakan dirimu sendiri? Padahal kamu membaca Taurat? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. 2 : 44)

“Dan mintalah pertolongan ALLAH dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'” (QS. 2 : 45)

“Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui TUHAN-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-NYA.” (QS. 2 : 46)

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-KU yang telah AKU anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya AKU telah melebihkan kamu atas sebagian ummat.” (QS. 2 : 47)

“Dan jagalah dirimu dari adzab hari kiamat yang pada hari itu seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan dari padanya, dan tidak akan ada penolong.” (QS. 2 : 48)

Namun ajaran Nazrail ini hanya membekas pada pengikutnya sementara hati masyarakat di sekelilingnya yang telah tertutup terhadap cahaya agama ALLAH menjadikan mereka benar-benar buta, tuli dan tidak dapat memikirkan tentang segala nikmat yang telah ALLAH berikan.

“Mereka bisu, tuli, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar.” (QS. 2 : 18)

Demikian pula sebagian dari Bani Israil yang telah mendapat hidayah ALLAH kembali kepada kekafiran setelah keimanan mereka. Mereka kembali membuat tandingan-tandingan terhadap ALLAH dengan berhala dan mempertuhankan sebagian dari mereka (Nazrail sebagai anak Tuhan). Hingga sekarang penyelewengan dan berbagai perbedaan pemahaman ajaran Nazrail masih tersisa membentuk beratus bahkan beribu sekte dengan agama Nasrani dan Yahudi sebagai puncak penyelewengannya.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>