on July 18, 2013 by admin in Hikayat, Tarbiyah, Tauhid, Comments (0)

Kisah Bilal Bin Rabah

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kisah Asy-syahid Bilal bin Rabah merupakan salah satu kisah utama dari kalangan sahabat Rasulullah karena mengandung nilai pelajaran tauhid yang sangat tinggi.

Bilal bin Rabah merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang berasal dari golongan budak dan merupakan orang pertama yang mengikuti beliau SAW dari golongan kaumnya. Bilal bin Rabah, begitu panggilan namanya, tidak diketahui nama sebenar yang diberikan oleh orang tuanya karena kebanyakan budak pada masa jahiliyah diberi gelaran Rabah seperti orang tua mereka pula yang bermakna “budak” atau “orang yang dipinjamkan”. Sehingga sebutan Rabah pada masa itu bagi kaum budak tidak dapat membedakan nasab dan silsilah keluarga mereka dan tiap mereka (budak) dikenali dengan ciri-ciri fisiknya atau tanda-tanda khusus seperti tato dari pemiliknya. Terkadang mereka juga dipanggil sesuai dengan nama pemiliknya seperti Bilal budak ‘Ubaid atau Bilal budak ‘Al-Amr.

Bilal bin Rabah berperawakan tinggi besar, hitam legam kulitnya, dan terkenal sangat kuat fisiknya. Bilal bin Rabah dimiliki oleh salah seorang pembesar Quraisy yang memiliki usaha perdagangan pada masa itu. Bilal tidak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Rasulullah SAW dalam peniagaan dan sejak dari pertemuannya yang pertama dengan beliau SAW, Bilal langsung menaruh simpati akan akhlak Rasulullah karena perlakuannya yang tidak membedakan Bilal dengan pekerja lain di pasar dari golongan bukan budak. Rasulullah SAW juga tidak merasa riskan untuk menjabat tangan dan meminta Bilal untuk berdiri sejajar dengannya ketika berbicara.

Dari pertemuan-pertemuan singkat Bilal dan Rasulullah SAW, Bilal tertarik hatinya akan pembicaraan beliau mengenai penciptaan alam dan adanya TUHAN yang Ahad (satu) yang menjadi Penciptanya. Rasulullah membacakan surat Al-Ikhlas ketika Bilal bertanya, “Wahai orang yang wajahnya putih bersih, apa itu Tuhan? Aku mengenal Tuhan adalah Tuanku yang memberiku makanan dan tempat tinggal.” Rasulullah kemudian menjawab, “TUHAN itu adalah DIA yang AHAD, ALLAH, Tempat segala sesuatu bergantung, DIA tidak ber-anak dan tidak diper-anak-kan. Dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai DIA.”

Sungguh Bilal terkesima dan sangat tersentuh hatinya mendengar penjelasan Rasulullah. Bilal pun kemudian mengucap syahadat dan menjadi salah seorang pengikut Rasulullah yang pertama dari golongan budak. Sebagai seorang budak yang muslim, Rasulullah SAW tidak pernah membedakan Bilal dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Bilal duduk pada majelis yang sama dengan beliau SAW, dan berdiri pada shaf yang sama dengan sahabat-sahabat yang lain. Di antara para sahabat Rasulullah, Bilal merupakan salah satu yang paling sering hadir dalam majelis dan paling bagus bacaan kira-ah nya, meski demikian Bilal sebagaimana kebanyakan sahabat yang lain pula masih menyembunyikan ke-islaman mereka terutama dari pemilik mereka bagi sahabat yang berasal dari golongan budak.

Suatu hari terdengar kabar mengenai ke-islam-an Bilal di telinga pemiliknya. Alangkah murka pemilik Bilal ini karena Bilal sebagai budaknya telah berdusta padanya dan meninggalkan ajaran nenek moyang mereka. Padahal pada masa sebelum Bilal memeluk Islam, ia pula tidak pernah diajak bersama-sama untuk beribadah terhadap Latta-Uzza-Manna yang menjadi sembahan pemiliknya itu. Bilal kemudian dipanggil oleh pemiliknya dan ditanyai mengenai ke-islam-annya. Bilal yang sangat takut dengan kebengisan dan kekejian tuannya pun membantah ke-islam-annya sehingga turunlah ayat yang membenarkan untuk setiap orang beriman menyembunyikan keimanannya (keislamannya) apabila ia terancam bahaya.

“Barangsiapa mengingkari Allah sesudah mengimaniNya (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali dia yang terpaksa untuk melakukan itu sedang hatinya masih tenteram dalam keimanan; akan tetapi barang siapa yang membuka dadanya untuk kekafiran, maka laknat Allah menimpa mereka, dan bagi mereka azab yang dahsyat.” (QS. 16 : 106)

Bilal kemudian menghadap Rasulullah SAW dan Rasulullah yang pada hari itu menerima wahyu tersebut, menyambut Bilal dengan suka cita. Bilal pula khawatir Rasulullah SAW akan membencinya namun sebaliknya Rasulullah membenarkan tindakan Bilal dan menjelaskan tentang ayat yang telah diturunkan padanya atas kejadian yang dialami Bilal.

Setelah kejadian itu Bilal semakin berhati-hati untuk dapat hadir dalam majelis Rasulullah SAW. Seringkali ia menyelinap di malam hari ketika siangnya ia disibukkan oleh pekerjaan yang semakin banyak diberikan oleh Tuannya sejak kecurigaannya terhadap Bilal. Hingga akhirnya Tuannya itu menyuruh seorang mata-mata, salah seorang budaknya untuk mengawasi Bilal dan mengikuti gerak geriknya kemanapun juga. Malang sungguh Bilal, pada suatu siang di hari Jumat ia tiba-tiba ditangkap oleh Tuannya dan diseret ke tengah keramaian. Bilal yang sangat ketakutan dipaksa mengaku di depan khalayak akan keyakinannya yang baru. Bahwa selama ini ia telah mengikuti Muhammad secara diam-diam dan telah berdusta pada Tuannya. Cacian, makian dan keberangan penduduk Makkah waktu itu bertumpah luah, Bilal dilempari dengan kotoran dan batu. Rasulullah yang pada waktu itu sedang dalam perniagaannya di luar kota Makkah, ketika mendapat kabar mengenai Bilal segera memacu kudanya menuju Makkah.

Bilal yang tersudut dan sedari awal tidak memberi jawaban kecuali menggeleng, dengan tubuh dan wajah yang kotor dan berlumuran darah tiba-tiba mengangkat kepalanya, mendongak pada Tuannya yang pada saat itu berada di atas untanya. “Wahai engkau Tuan-ku yang keji, benar, selama ini aku telah mengikuti Muhammad. Benar bahwa aku telah mengambil Tuhan Muhammad sebagai Tuhanku dan aku bersaksi bahwa Laa Ilaa Ha Illa ALLAH, Tiada Tuhan selain IA dan Muhammad adalah utusannya.” Tak bergetar sedikitpun suara Bilal waktu itu sehingga membuat pemiliknya dan khalayak semakin geram dan murka padanya. Salah seorang budak pemiliknya pun mengambil batu yang sangat besar dan memukulkannya di kepala Bilal. Darah bercucuran membasahi tanah, darah seorang syuhada yang mempertahankan keimanannya pada ALLAH sang KHALIK, Bilal pun mati perlahan setelah tubuhnya pula diinjak-injak oleh penduduk Makkah.

Sesampainya Rasulullah di Makkah, ia mendapati mayat Bilal yang terbiar di tanah, kotor dan basah berlumuran darah. Abu Bakar r.a yang mendampingi beliau pada waktu itu pun ikut meneteskan air mata. Rasulullah dengan parau suaranya berkata, “Bilal telah menemui RABB nya, dan aku telah mendengar terompahnya di syurga.” Rasulullah dan Abu Bakar kemudian yang mengurusi dan menanam mayat Bilal jauh dari kota Makkah karena tak ada satupun orang yang mau tanah di daerah rumahnya dikotori oleh mayat Bilal. Sungguh jasad nya yang rusak binasa tidak sebanding dengan harumnya Bilal ketika ditanam jasadnya oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Duka Rasulullah akan kepergian Bilal sangatlah dalam namun dalam kesedihan beliau, selalu beliau merindukan Bilal bin Rabah dan selalu menyebut sang syuhada dalam setiap majelisnya.

Wallaahu ‘alam bish shabab.

Tags:

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>