on June 24, 2013 by admin in Aqidah, Syariat, Comments (0)

Gerakan Shalat dan Keistewaannya

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Shalat merupakan tiang agama yang wajib hukumnya untuk dikerjakan oleh setiap muslimin. Merupakan amalan yang pertama dihitung kelak di akhirat dan sedianya juga menjadi cerminan ketaatan seorang hamba terhadap RABB-nya.

Perintah shalat banyak sekali dimuat dalam Al-Qur’an, kebanyakan daripadanya perintah shalat selalu dirangkai dengan perintah yang lain seperti, “Dan dirikaah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk,” Meski demikian, sebagaimana perintah shalat selalu disebutkan pertama, maka mendirikan shalat adalah amalan yang paling pertama dan utama dikerjakan oleh seorang muslim setelah syahadatnya.

Berbagai penelitian di bidang ilmu kedokteran dan rehabilitasi medis banyak mengungkapkan keutamaan-keutamaan gerakan shalat. Mulai dari pengaruh waktu mengerjakannya (dari shalat shubuh hingga qiyamul lail) sampai manfaat dari masing-masing gerakan shalat untuk kesehatan anggota tubuh dan organ di dalam tubuh itu sendiri.


Gerakan shalat dalam kajian tauhid mencakup makna yang satu, yaitu ‘ubudiyah seorang hamba terhadap RABB-nya. Sehingga setiap gerakan dalam shalat mengandung makna penghambaan terhadap ALLAH sebagai satu-satunya TUHAN yang wajib untuk di-ibadahi. Gerakan-gerakan shalat dalam analisa lebih jauh, baik dimulai dari takbir hingga diakhiri salam mengandung makna sebagai berikut:

Takbir, mengangkat kedua tangan setinggi daun telinga bagian bawah dengan makna “dengarkan” ALLAHU AKBAR. ALLAH Maha Besar, sehingga jalan menuju ‘ubudiyah dalam shalat dimulai dengan mendengar dan mengingat perkataan ALLAHU AKBAR yang berujung pada pengagungan kita akan ALLAHU AKBAR (ALLAH sebagai RABB, ALLAH sebagai KHALIK, ALLAH sebagai penguasa semesta alam).

Bersidekap kedua tangan setinggi dada. Gerakan ini mencerminkan ketenangan dan kedamaian hati dan jiwa seseorang dalam kehidupannya yang dimaknai dengan kandungan surat Al-Fatiha sebagai pembuka yang wajib rukunnya dibaca dalam setiap rakaat shalat. Kandungan surat Al-Fatiha sendiri juga sarat makna Ilahiyah dan ‘ubudiyah yang dapat dilengkapi dengan bacaan surat pendek lain dengan fokus makna ma’rifatullah (surat-surat yang mengingatkan akan keagungan ALLAH, kekuasaan ALLAH, keberadaan ALLAH).

Rukuk dengan takbir ALLAHU AKBAR menuju rukuk. Gerakan rukuk mengandung makna ketundukan hati seorang hamba kepada RABB-nya (tawadhu’). Dan sedianya gerakan takbir sebelum rukuk mengandung makna implisif bahwa setiap hal yang kita kerjakan selama hidup di dunia (yang keseluruhan cerminannya dirangkum dalam gerakan shalat) harus senantiasa mengingat dan mengamalkan ALLAHU AKBAR.

Bangkit dari rukuk dengan kalimat pengagungan terhadap zat ALLAH sebagaimana di atas.

Sujud dan menuju sujud dengan kalimat ALLAHU AKBAR, mengandung makna implisif serupa di atas namun penekanannya pada gerakan sujud yang bermakna penyerahan diri secara keseluruhan sebagai hamba kepada RABB-nya (tawakkal) dan menyerahkan pula segala urusan hanya kepada IA.

Duduk di antara dua sujud dan duduk tahyat. Merupakan gerakan akhir dari shalat sebelum salam yang mencerminkan bagian dari aktivitas harian seorang muslimin yang dibimbing oleh syariat dan dengan panutan Rasulullah sebagai utusan-NYA sehingga syahadat hingga shalawat yang menjadi inti bacaan dalam gerakan ini sedianya harus dapat diamalkan.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags:

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>