on May 14, 2013 by admin in Tafsir, Comments (0)

Tela’ah : Pelajaran dari Ar-Ra’du ayat 19-24

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Dalam perjalanan manusia menempuhi kehidupan dunia, ada dua jalan yang akan menentukan kehidupannya kelak di akhirat. Jalan yang baik dengan akhir yang baik atau jalan yang buruk dengan akhir yang buruk. Jalan yang baik adalah jalan yang lurus dengan Islam sebagai penandanya sedang jalan yang buruk adalah jalan syaithan dengan nafsu sebagai penandanya.

Jalan yang baik dengan akhir yang baik akan mengantarkan manusia pada kehidupan akhirat dengan syurga beserta segala kenikmatan di dalamnya yang telah dijanjikan ALLAH bagi setiap hambanya yang beriman. Janji ALLAH akan syurga dan segala kenikmatan di dalamnya sangat banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana pula ancaman akan siksa dan adzab neraka yang juga sama banyaknya disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal ini mencerminkan dua jalan pilihan yang kelak di akhirat nanti akan kita tempuhi sesuai dengan amal perbuatannya di dunia.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ar-Ra’du ayat 19 dan beberapa ayat berikutnya terkandung pelajaran, perintah dan peringatan yang baik mengenai jalan yang baik yang akan mengantarkan kita pada kesudahan yang baik (jalan yang baik, syurga).

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari TUHAN-mu itu benar sama dengan orang yang buta?” Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”

“Yaitu orang-orang yang memenuhi janji dan tidak merusak perjanjian.”

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan TUHAN-nya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan yang baik.”

“Yaitu syurga ‘Adni yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan “Salamun ‘alaikum bima shabartum” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. 13: 19-24)

Dalam rangkaian ayat di atas disebutkan bahwa ada dua golongan manusia dalam kehidupan, yaitu manusia yang benar dan manusia yang buta akan perintah TUHAN-nya. Manusia yang dikatakan buta dalam ayat tersebut bukanlah mereka yang buta secara fisiknya, namun mereka yang matanya dapat melihat dengan baik namun tidak dapat melihat kekuasaan TUHAN-nya dan mengaminkan apa yang dilihatnya itu dalam hati dan amal perbuatannya. Manusia yang termasuk dalam golongan ini adalah salah satu dari mereka yang akan menuai kerugian di hari akhiratnya.

Manusia yang dikatakan benar, yang di jelaskan dalam ayat-ayat berikutnya, adalah mereka yang berakal. Mereka yang benar dan berakal yang dimaksudkan adalah mereka yang memenuhi janji dan tidak merusak janjinya, mereka yang shabar baik dalam senang maupun susah, mereka yang mendirikan shalat, mereka yang menafkahkan rezekinya baik secara sembunyi maupun terang-terangan, dan mereka yang menolak setiap kejahatan yang ditujukan padanya dengan kebaikan.

Golongan manusia yang benar ini kelak akan mendapati syurga ‘Adni sebagai balasan yang baik dari TUHAN-nya yang Maha Pemurah. Golongan manusia inilah mereka yang paling beruntung di hari akhiratnya.

Golongan manusia yang benar, mereka yang berakal.
Akal adalah yang menjadikan pembeda antara manusia dan makhluk lainnya. Manusia dengan jasadnya, sebagaimana juga makhluk lain seperti hewan dan binatang ternak yang juga memiliki jasad, dengan otak dan volumenya serta bagaimana ALLAH menempatkan otak itu dalam jasadnya menjadi modal dalam ia menjalani kehidupannya sebagai makhluk ciptaan ALLAH selama di dunia. Akal yang benar adalah akal yang senantiasa digunakan untuk mencari keridhaan ALLAH baik dalam hal bermuamalah dan mencari rezeki, ber-siyasah dan berkelompok, serta dalam setiap sisi dan sendi kehidupannya. Bagaimana ALLAH menjadikan otak manusia letaknya lebih tinggi dari batang otaknya, dan bagaimana ALLAH meletakkan otak pada kerangka kepala manusia yang letaknya paling tinggi dari jasadnya, yang menjadi pembeda manusia dengan hewan dan binatang ternak yang otaknya sejajar dengan rangka tubuhnya juga semestinya menjadi pelajaran bagi kita agar tidak berlaku dan bertindak hewani (tidak buang hajat di jalan, tidak bercumbu di depan khalayak, dan berbagai contoh perilaku hewani lainnya).

Golongan manusia yang benar, memenuhi janji dan tidak merusak janjinya.
Rasulullah SAW adalah contoh yang paling tepat dalam perihal memegang janji. Sehingga sebelum masa kerasulannya beliau bahkan sudah dikenal dengan gelaran “al-amin” atau orang yang terpercaya karena setiap diberi amanah beliau akan menjaga dan menjalankannya, setiap berjanji beliau akan menepati dan memegang teguh janjinya. Sehingga tepatlah kiranya di antara sekian banyak sunnahnya, memenuhi dan tidak merusak janji adalah salah satu sunnah utama yang beliau pesankan pada ummatnya.

Golongan manusia yang benar, shabar dalam senang maupun susah demi mencari keridhaan TUHAN-nya.
Shabar ketika ditimpa musibah adalah shabar ketika dalam kesusahan yang merupakan salah satu ciri orang yang memiliki iman dalam hatinya, namun shabar dalam kesenangan misalnya shabar ketika diberikan rezeki berlimpah dan tidak menghamburkannya di jalan yang sia-sia juga merupakan salah satu dari ciri orang beriman yang mencari keridhaan dari TUHAN-nya.

Golongan manusia yang benar, mereka yang mendirikan shalat.
Shalat adalah bukti penghambaan makhluk terhadap RABB-nya. Shalat juga akan senantiasa menjaga kita untuk tetap berada di jalan yang benar, di jalan yang lurus sebagaimana salah satu isi do’a dalam surat Al-Fatiha yang selalu kita baca dalam tiap raka’at shalat.

Golongan manusia yang benar, mereka yang menafkahkan hartanya baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Rasulullah SAW berkata dalam salah satu hadits shahih: Memberi lebih baik dari menerima, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan memberi dengan tangan kanan yang tangan kirinya tidak mengetahui adalah yang terbaik dari setiap pemberian.

Golongan manusia yang benar, menolak setiap kejahatan yang ditujukan kepadanya dengan kebaikan.
Menolak kejahatan dengan kebaikan adalah hal yang sangat sukar. Karena dalam setiap diri manusia pasti akan ada penolakan terhadap kejahatan dengan kejahatan atau perlakuan yang sama. Misalnya ketika kita dipukul orang maka dorongan untuk memukul balik orang yang memukul akan timbul, namun membalas pukulan atau kejahatan yang dilakukan orang tersebut dengan bershabar dan mendoakan kebaikan untuknya adalah cermin dari shabar dan iman itu sendiri.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>