on April 1, 2013 by admin in Tafsir, Tilawah, Comments (0)

Tela’ah : Surat Huud 6

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Surat Hud dimulai dengan Kalimat “Alif-Lam-Raa”. Beberapa ahli tafsir menerjemahkan kalimat “Alif-Lam-Raa” sebagaimana awal surat AlBaqarah “Alif-Lam-Mim” yang diartikan sebagai “ilmu” dengan “Alif-Lam-Raa” sebagai ilmu yang tak ada keraguan di dalamnya.

Surat Hud terdiri dari 123 ayat. Pada ayat ke-6 sebagaimana di atas, ALLAH mengabarkan kepada setiap orang beriman bahwa tidak satupun makluk yang IA ciptakan kecuali ALLAH telah menetapkan rezeki atasnya. Dalam ayat ke-6 itu ALLAH menggunakan kalimat “binatang melata” sebagai perbandingan makhluk yang IA limpahi rezeki padahal mungkin menurut akal manusia yang sangat sederhana, akan lebih mudah memahami apabila pada ayat tersebut digunakan kalimat “binatang ternak” atau “setiap binatang” atau “binatang terkecil sekalipun” yang akan membuat redaksi ayat tersebut menjadi:

“Dan tidak ada suatu binatang ternak pun di bumi melainkan ALLAH-lah yang memberi rezekinya,” atau
“Dan setiap binatang di bumi ALLAH-lah yang memberi rezekinya,” atau
“Dan tidak ada suatu binatang terkecil sekalipun pun di bumi melainkan ALLAH-lah yang memberi rezekinya,”

Namun dalam ayat tersebut ALLAH justru menggunakan kalimat “hewan melata” yang akan menuntun akal kita kepada jenis hewan yang melata di muka bumi ini yaitu golongan ular dan yang serupa dengannya. Ular dalam konteks AlQur’an (sebagaimana kalimat ALLAH dalam surat AlBaqarah) adalah binatang yang haram baik darah maupun dagingnya. Ular dalam kalimat (ketentuan) ALLAH juga merupakan binatang yang hina karena ular adalah binatang yang hidup dari memangsa yang lain. Sehingga dalam ayat ini menjadi jelas maksud penggunaan “binatang melata” sebagaimana ditafsirkan para ulama ahli tafsir bahwa meski binatang yang hina sekalipun ALLAH akan memeberikan rezeki kepadanya dan ALLAH Maha Mengetahui keberadannya. Maha Besar ALLAH dengan kemurahan rezekiNYA.

Dalam hal ada pendapat yang mengatakan bahwa di dalam tubuh ular mengandung obat yang biasa digunakan dalam pengobatan tradisional atau pada kemajuan teknologi yang mengungkapkan bahwa ular mengandung toksin yang dapat menjadi bahan pembuatan obat, kita dapat merujuk kembali pada surat AlBaqarah yang menyatakan dengan terang dan jelas akan diharamkannya binatang melata, bangkai dan darah, serta babi untuk dimakan, kecuali tidak ada satupun lagi yang dapat dimakan dan ianya baik bagi kita.

Namun pendapat ini hanya berlaku pada hal yang sifatnya sangat darurat. Sebagai perbandingan apabila kita terdampar di suatu pulau yang tidak ada apapun di dalamnya kecuali ular atau babi, maka ia diperbolehkan untuk dimakan meskipun di setiap jengkal bumi yang ALLAH ciptakan tidak akan ada pulau atau daerah sedemikian, Maha Luas ALLAH dengan segala ciptaanNYA.

Pendapat lain juga mengungkapkan logika analitik yang sangat beralasan untuk mengharamkan ular baik daging maupun darahnya. Ular merupakan makhluk ciptaan ALLAH yang diperlengkapi dengan bisa atau racun yang apabila masuk ke dalam tubuh makhluk lain dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Ular diciptakan ALLAH dengan keadaan sedemikian karena kelemahannya baik dari struktur tubuhnya yang tidak berangka maupun kemampuannya untuk menghidupi dirinya yang hanya bisa dengan melilit mangsanya dan menularkan racunnya. Sehingga racun yang mengalir dalam darahnya, air liurnya dan tentunya juga sekian persen terdapat dalam bagian tubuhnya (dagingnya) tidak akan mungkin bisa menjadi obat bagi manusia, kecuali dalam tinjuan medis digunakan sebagai bahan penelitian antigen-antibodi untuk menciptakan penangkal/obat terhadap bisa dan racun ular sendiri.

Perihal keluasan rezeki yang ALLAH berikan pada setiap makhluknya juga banyak dijelaskan dalam surat lain dalam AlQur’an. Maknanya kita sebagai makhluk ciptaan ALLAH diberi waktu dan kesempatan yang sangat banyak, mulai dari terbit matahari hingga terbenamnya, mulai dari terbenam matahari hingga terbitnya, untuk mencari rezeki yang halal dan baik di bumi ALLAH.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>