on March 26, 2013 by admin in Tafsir, Tauhid, Tilawah, Comments (0)

Tela’ah: Surat Al-A’Raf 172-173

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kedua ayat tersebut dapat secara sederhana ditafsirkan dan dimengerti sebagai perjanjian antara manusia dan ALLAH Subhanahu wa Ta’ala yang terjadi ketika ia dalam kandungan. Ketika pertama kali ruh ditiupkan ke dalam janin anak manusia, ALLAH mengambil persaksian terhadap ruh tersebut dengan pertanyaan sedemikian:
“Bukankah AKU ini Tuhan-mu?”
Dan ruh yang baru diciptakan itupun menjawab, “Betul, ENGKAU adalah Tuhan kami dan kami mengambil saksi (mengakui) terhadap-MU (tasyhadu).
Kemudian ALLAH memerintahkan terhadap ruh tersebut, “Maka katakanlah olehmu AKU Tuhan-mu Yang Maha Tinggi.”
Dan iapun mengambil saksi sekali lagi (tasyhadu), “ALLAH, ENGKAU Tuhan kami.”

Peristiwa ruhiyah ini merupakan bentuk syahadat manusia yang pertama yang secara mutlak telah meng-islamkan setiap manusia yang terlahir di dunia. Pengakuan akan ALLAH adalah Tuhan yang menjadi landasan keislaman itu sedianya menjadi dasar seseorang kelak untuk menemukan jati dirinya sebagai seorang muslim sepanjang kehidupannya di dunia.

Peristiwa ruhiyah ini bagi setiap insan yang dilahirkan dalam keluarga muslim akan diabsahkan ketika ia baligh dan memikul tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dengan syahadat pertama yang ia ucapkan pada waktu sholat atau dzikirnya. Sejak dari saat itulah segala perbuatannya sebagai seorang manusia dewasa akan dihitung dan dicatat yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hari akhirat. Pada saat seluruh makhluk yang bernyawa dimatikan ALLAH dengan tiupan Israfil yang pertama, di situlah semua batas catatan amal selama hidup di dunia terputus dengan tiupan Israil yang kedua yang akan membangkitkan kembali dan mengumpulkan semua makhluk yang pernah hidup di dunia di padang mahsyar. Dan penghitungan pun akan dimulai. Pada saat ini ALLAH akan menagih kembali persaksian (tasyhdid) kita yang pertama dahulu pada masa kehidupan ruh di dalam kandungan.
“Apakah AKU ini Tuhan-mu?”
Dan setiap makhluk yang ditanya akan menjawab dengan jawaban yang sama, “Benar, ENGKAU adalah Tuhan kami dan kami telah mengambil saksi terhadapmu dahulu.”
ALLAH kemudian akan melihat timbangan amal kita selama di dunia, kemudian berkata:
“Engkau adalah pencuri (pemabuk, pemerkosa, pezina, pendusta agama, penyiksa anak yatim, pedagang yang curang, dll sebagaimana kelakuan seseorang di dunia) padahal engkau mengambil/mengakui AKU sebagai Tuhan-mu”
Dan pada saat itu semua saksi akan bicara.
Tangannya akan berkata, “Ya benar ya ALLAH Tuhan kami, kami dahulu telah mencuri sebanyak ini, kami mengambil begini dan begitu.”
Matanya akan berkata, “Ya benar ya ALLAH Tuhan kami, kami melihat tangan kami mencuri sebanyak ini, kami melihat ia mengambil begini dan begitu.”
Kakinya akan berkata, “Ya benar ya ALLAH Tuhan kami, kami berjalan ke arah sana dan sini untuk mengambil sebanyak ini dan kaki kami membantu mengambil ini dan itu.”
Kemudian dihadirkan pula saksi-saksi yang lain berupa binatang yang pernah melihat ia mencuri, jin yang ikut menyaksikan ia mencuri dengan persaksian mereka masing-masing.
Contoh persaksian semut, “Ya benar ya ALLAH Tuhan kami, pada waktu itu kami ada di dinding dan kami melihatnya mencuri sebanyak ini, kami melihat ia mengambil begini dan begitu.”
Dan jin yang melihat pencuri itu juga menjadi saksi, “Ya benar ya ALLAH Tuhan kami, tapi bukan kami yang menyuruhnya mencuri.” (Bantahan kaum jin akan teramat sangat banyak terhadap setiap perbuatan manusia di dunia, meskipun mereka pernah ikut membisikkan kebaikan/kejahatan di telinga manusia).

Setelah segala persaksian diperdengarkan, maka ALLAH akan memberikan kedudukan pada jiwa tadi: “Engkau adalah ahli/penghuni neraka, seret ia dari tangannya dan tahan ia di jahannam-KU selama seribu tahun.” (misalnya, bagi pencuri) atau “Engkau adalah ahli/penghuni neraka, seret ia dari kepalanya dan tahan ia di jahannam-KU selama seribu tahun.” (misalnya, bagi pengumbar aurat) atau “Engkau adalah ahli/penghuni neraka, seret ia dari wajahnya dan tahan ia di jahannam-KU selama seribu tahun.” (misalnya, bagi yang merubah ciptaan ALLAH tanpa tujuan hak).

Demikianlah ALLAH menagih dan memberikan ganjaran terhadap tiap jiwa yang telah mengambil persaksian dahulu pada masa pertama ruhnya diciptakan. Timbangan kebaikan-keburukan, amal-maksiyat, selama hidup di dunia dan bagaimana ia menjalankan persaksiannya terhadap ALLAH akan dipertanyakan, dua jalanpun akan ditentukan. Menuju syurga dengan segala nikmat dan janji ALLAH di dalamnya atau menuju neraka dengan segala azab dan janji ALLAH di dalamnya.

Kedua ayat ini juga secara tegas menjelaskan bahwa masing-masing jiwa bertanggung jawab akan dirinya sendiri (QS. Al-A’raf: 173). Sebagaimana ketika ia (ruh) itu diciptakan dan mengambil persaksian terhadap ALLAH, seperti itu pula orang tua atau anak keturunan mereka. Sehingga tidak ada alasan dan bantahan kelak oleh mereka yang ingkar terhadap ALLAH bahwa mereka dahulu dilahirkan dari orang tua yang ingkar terhadap ALLAH, orang tua yang tidak mengambil ALLAH sebagai satu-satunya Illah atau orang tua yang tidak pernah mengajarkan tauhid kepada mereka.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>