on February 2, 2013 by admin in Risalah, Syariat, Tafsir, Comments (0)

Perumpamaan dalam Al-Qur’an : Mengenai Sedekah

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bersedekah adalah salah satu dari syariat Islam yang mengandung nilai ibadah dan berfungsi sosial (muamalah). Bersedekah, berapapun jumlah yang disanggupi oleh si pemberi sedekah apabila diniatkan untuk menolong si penerima sedekah dan ikhlas dilakukan karena ALLAH Ta’ala memiliki beberapa keutamaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan ALLAH adalah seperti menanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. ALLAH melipatgandakan bagi siapa yang IA kehendaki dan ALLAH Maha Pemurah dan Maha Mengetahui.”

Keutamaan lainnya disebutkan juga dalam ayat berikutnya:
“Orang yang menginfakkan hartanya di jalan ALLAH, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan orang yang menerima, mereka memperoleh pahala di sisi ALLAH. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula bersedih hati.”

Pada kedua ayat di atas dijelaskan tentang keutamaan yang sangat besar yang dijanjikan ALLAH bagi orang yang bersedekah dengan syarat sedekah yang ia berikan adalah ikhlas karena ALLAH Ta’ala, tidak menyebut-nyebutkan tentang sedekahnya pada orang lain dan tidak pula menyakiti hati si penerima dengan sindiran atau perkataan meskipun dimaksudkan untuk memberi nasihat dan peringatan kepada si penerima. Misalnya, sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari salah seorang karib kerabat yang kurang mampu yang datang meminta bantuan kepada kita. Meskipun dalam hati kita ikhlas memberikan bantuan atau sedekah kepadanya dan bermaksud hendak memotivasinya dengan memberikan nasihat seperti, “Makanya kamu harus kerja yang rajin, jangan hanya mengharapkan bantuan keluarga” atau “Lain kali saya tidak akan membantu apabila kamu masih malas bekerja,” maka kalimat-kalimat sedemikian sesungguhnya akan mengurangi nilai dari sedekah yang kita berikan karena tanpa kita sadari telah menyakiti hati si penerima sedekah.

Orang-orang yang berhasil mengamalkan bersedekah sesuai dengan ajaran di atas maka dalam kehidupannya tak akan pernah merasa kekurangan karena ALLAH akan selalu menambahkan rezekinya sebagaimana yang dijanjikanNYA dalam QS. Al-Baqarah ayat 261. Orang yang gemar bersedekah juga tidak akan pernah merasa cemas bahwa hartanya akan berkurang atau habis.

Perumpamaan orang yang bersedekah disebutkan dalam Al-Qur’an pada beberapa ayat berikutnya yaitu seumpama kebun yang terletak di dataran tinggi. Kebun tersebut tetap akan memberikan hasil meskipun hanya dengan hujan gerimis.
“Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha ALLAH dan untuk memperteguh jiwa mereka adalah seperti kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu akan menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, niscaya embun pun akan memadai. ALLAH Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 265)

Demikianlah ALLAH membuat perumpamaan dalam Al-Qur’an mengenai orang yang bersedekah. Sebaliknya disebutkan pula mengenai mereka yang bersedekah dengan menyebut-nyebutkan sedekahnya (berbuat riya) adalah seperti orang yang memiliki kebun dengan tanah yang subur namun kebunnya itu terkikis habis oleh tiupan angin keras yang tidak menyisakan apapun di atasnya padahal orang tersebut memiliki anak-anak yang harus dia nafkahi dari hasil kebun tersebut.
“Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dengan segala macam buah-buahan di dalamnya. Kemudian datanglah masa tuanya sedang ia memiliki anak keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api sehingga terbakarlah ia. Demikianlah ALLAH menerangkan ayat-ayatNYA kepadamu agar kamu memikirkannya.” (QS. Al-Baqarah: 266)

Betapa meruginya orang yang menyebut-nyebut pemberian sedekahnya (berbuat riya) sebagaimana yang diterangkan dalam ayat di atas. Padahal semestinya dia akan memperolehi berbagai hasil kebun yang berlimpah dengan kebun subur yang dimilikinya. Namun kerugiannya menjadi berlipat-lipat sehingga ia tak mampu untuk memberikan makan pada anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Wallaahu ‘alam bish shawab

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>