on September 30, 2012 by admin in Tafsir, Comments (0)

Telaah: Surat Al-Hadid 4

Bismillaahirrahmaanirrahiim

ALLAH berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat 4:

Artinya:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan ALLAH Maha Melihat Apa yang Kamu kerjakan.”

Al-Hadid yang merupakan bagian dari rangkaian surat Makkiyah sejatinya mengandung ajaran tauhid yang menjelaskan tentang keberadaan ALLAH sebagai satu-satunya RABB semesta alam. Dalam ayat ini IA menjelaskan tentang kekuasaanya akan penciptaannya terhadap alam semesta dan bagaimana IA mengisyaratkan pada ummat manusia zat yang terkandung secara menyeluruh di dalam alam semesta itu.

Berbagai ulama tafsir dalam berbagai kitab menerangkan akan makna yang dikandung dalam ayat ini adalah proses penciptaan alam semesta yang diyakini sebagaimana disebutkan di atas secara harfiyah adalah enam hari. Namun terdapat beberapa perbedaan pendapat yang berpendapat bahwa enam hari yang dimaksud dalam ayat itu bukanlah hitungan hari untuk ukuran manusia di dunia namun merupakan hitungan hari untuk ukuran malaikat yaitu seribu tahun untuk tiap hitungan satu harinya sehingga enam hari yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah setara dengan enam ribu tahun atau 60 abad dalam hitungan manusia.

Pendapat ini juga didukung kuat oleh berbagai penelitian geologis dan ilmu bumi yang berkesimpulan bahwa usia bumi ini sudah sangatlah tua dan besar kemungkinan jika dilihat dari jenis batu dan lapisan terdalam bumi yang pernah diteliti, bumi saat ini sudah berusia lebih dari 60 abad.

Subhanallah yang telah melengkapi manusia dengan akal, daya dan karsa sehingga dengan kelebihan ini para ilmuan tadi pula dapat menyuguhkan berbagai informasi yang santa berguna bagi kita untuk dapat melihat lebih lagi pada keagungan dan kesempurnaan ciptaan ALLAH pada isi bumi.

Namun demikian, sebenarnya jika kita mengamini berbagai pendapat dari ulama tentang proses penciptaan alam semesta yang adalah 60 abad, ditambahkan dengan usia bumi menurut hasil penelitian para geologis tadi pula 60 abad, maka sejatinya usia bumi saat ini sudah lebih dari 100 abad atau tepatnya 120 abad?

Wallaahu ‘alam, hanya milik ALLAH lah segala ilmu yang ada di langit dan bumi, hanya ALLAH pula yang Maha mengetahui salah atau benarnya perkiraan kita sebagai makhluk yang hanya mencoba-coba menelusuri untuk lebih mengenal dan mendekatkan diri pada zat ALLAH ‘azza wa jalla.

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan ALLAH Maha Melihat Apa yang Kamu kerjakan.

Dalam beberapa surat lain di dalam Al-Qur’an (3 surat lainnya), terdapat kesamaan redaksi dan susunan kata. Bahwa ALLAH menciptakan langit (as-samawat) dan bumi (al-ardh) dalam enam (sittah) masa/hari (ay-yama). Dan ratusan ayat lainnya dalam surat yang berbeda-beda pula mempertegas hal yang sama yaitu “ALLAH menciptakan langit (as-samawat) dan bumi (al-ardh)” Sehingga apabila kita melihat konteks ayat ini dan beberapa ayat serupa, ada beberapa hal yang dapat kita ambil pelajaran:

  1. ALLAH menciptakan langit kemudian bumi
  2. ALLAH menciptakan langit kemudian bumi dan keseluruhan prosesnya mencakup enam masa/hari
  3. ALLAH menciptakan langit kemudian bumi dan keseluruhan prosesnya mencakup enam masa/hari, kemudian ALLAH memperlengkapi apa yang ada di dalam bumi hingga keluar daripadanya dan memperlengkapi apa yang turun dari langit dan naik kepadanya.

ad. 1 ALLAH menciptakan langit kemudian bumi
ALLAH menciptakan langit sebagai penciptaannya yang pertama. Di dalam Al-Qur’an tidak ada satupun ayat yang menyebutkan dengan pasti kalau “ALLAH menciptakan langit dahulu baru kemudian menciptakan bumi” Hal ini memang dimaklumi karena Al-Qur’an bukanlah koran atau buku bacaan biasa yang memuat segala sesuatunya dengan kata-kata yang jelas, deskriptif dan terperinci. Al-Qur’an dengan bahasa wahyu yang tinggi dan unik membutuhkan analisa dan bantuan para ulama tafsir yang memang mempelajari akan hal ini. ALLAH menciptakan langit sebagai penciptaannya yang pertama. Sebagaimana dapat kita baca berulang-ulang di hampir setiap surat yang ada dalam Al-Qur’an, bahwa kalimat “ALLAH menciptakan langit dan bumi,” selalu memiliki rangkaian “langit dan bumi” (samawat wal ardh) dan tidak pernah “bumi dan langit” (al-ardh wassamawat). Sehingga sebagaimana dalam ayat ini pula menyebutkan demikian, menjadi dalil aqli dan naqli yang hakkiranya jika kita pula berkesimpulan yang sama.

ad.2 ALLAH menciptakan langit kemudian bumi dan keseluruhan prosesnya mencakup enam masa/hari
ALLAH menciptakan langit kemudian bumi dan keseluruhan prosesnya mencakup enam masa/hari. Enam hari tentunya akan berbeda dengan enam masa, jika kita sebagai manusia bicara dengan hitungan manusia. Meski ada pendapat beberapa ulama yang dengan dalil hadits marfu’nya menyebutkan kalau antara Rasulullah dan Jibril as. pernah bercerita tentang hitungan hari di dunia dan di akhirat adalah berbeda seribu tahun, namun sekiranya kita kembali pada asal-usul Al-Qur’an yang diciptakan untuk manusia (bukan untuk malaikat) tentulah ALLAH akan mempermudah hitungan ini untuk kita agar kita pula lebih mudah untuk mengambil pelajaran. Jadi apakah itu enam hari atau enam masa (karena kata ay-yama bermakna hari, masa, era) terpulang pada pemahaman kita masing-masing untuk mempercayai redaksi yang mana. Jika kemudian kita meyakini ianya adalah enam hari, kebanyakan yang terjadi adalah akan muncul pertanyaan lebih jauh, “Kenapa enam hari? kenapa angka enam? bukankah angka tujuh sering banyak digunakan dalam analogi Al-Qur’an?” wallaahu ‘alam. Sebaliknya abila kita meyakini ianya adalah enam masa, masa yang bagaimana yang dimaksud susungguhnya tinjauan dari ahli geologis dan ilmu bumi yang menyebutkan bahwa masa itu bisa mencakup masa megalitikum, neolitikum, paleolantelikum, dan lain-lain tidak pula dapat kita benarkan karena era-era yang mereka kelompokkan itu hanya berlaku untuk keadaan bumi pada masa prasejarah. Sementara penelusuran kita akan kandungan dan makna ayat ini adalah proses dari penciptaan langit dan bumi, tidak hanya bumi dengan makhluk prasejarahnya ketika pertama kali ditemukan.

3. ALLAH menciptakan langit kemudian bumi dan keseluruhan prosesnya mencakup enam masa/hari, kemudian ALLAH memperlengkapi apa yang ada di dalam bumi hingga keluar daripadanya dan memperlengkapi apa yang turun dari langit dan naik kepadanya.
Setelah langit dan bumi yang diciptakan ALLAH berdiri dengan teguh, dengan tidak satupun pasak langit terlihat dan sandaran bumi tergoyang, ALLAH memperlengkapi isinya dari dalam hingga keluar daripadanya segala sesuatu yang hidup dan memiliki ruh. Dalam hal ini kita bisa melihat penjelasan Al-Qur’an di ayat berikutnya (masih surat yang Al-Hadid)
“Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya ALLAH menghidupkan bumi sesudah matinya. Kami menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran Kami supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Hadid ayat 17)

Pada ayat tersebut ALLAH menerangkan bahwa IA menghidupkan bumi setelah matinya. Seolah mempertegas makna yang tersirat dari ayat sebelumnya bahwa ALLAH mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Sehingga kemudian langit dan bumi menjadi satu paduan yang sangat kuat dan kokoh yang dapat ditinggali oleh berbagai makhluknya.

Dalam sebuah hadits hasan diriwayatkan dari Rasulullah (SAW) bahwasanya ketika membaca surat Al-Hadid ini selain Rasulullah sering menjelaskan mengenai hakikat diri manusia yang diumpamakan seperti sepotong besi, Ia (SAW) juga menyebutkan bahwasanya enam masa yang dikandung dalam ayat ke empat surat ini adalah enam masa yang terjadi sepanjang perguliran sejarah langit dan bumi, yang mencakup:
1. Masa penciptaan yang pertama
2. Masa kehidupan
3. Masa peradaban
4. Masa kejayaan
5. Masa kehampaan
6. Masa kehancuran (yaumul qiyamah)

Keenam masa ini memiliki ciri dan karakteristiknya sendiri-sendiri. Tidak pasti berapa lama berlangsungnya untuk tiap-tiap masa, tidak pasti pula apakah Islam sampai kepada masa yang terakhir (yaumul qiyamah) akan tetap ada atau tidak. Islam datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali kepada menjadi asing. Islam keluar ibarat ular yang menyergap kerumunan namun akan kembali diam-diam ke sarangnya tanpa seorangpun menyadari akan keberadaannya.

Wallaahu ‘alam bish shawab

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>