on December 26, 2011 by admin in Hikayat, Comments (0)

Kisah Ali dan Fatimah

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai tokoh sahabat dari golongan pemuda yang pertama mengikuti Rasulullah (SAW). Ali yang juga menantu Rasulullah (SAW) ini di dalam sejarah Islam juga dikenal sebagai khalifah keempat yang memimpin perjuangan Islam setelah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Adanya perbedaan pendapat dan kepahaman seputar wafat dan wasiat Rasulullah terhadap Ali dan tampuk kepemimpinan umat Islam pasca Rasulullah menjadikan awal perpecahan “Sunni” dan “Syiah” yang secara implisit menyeret nama binaan Rasulullah ini menjadi sosok yang diperhitungkan namun terlupakan. Ali bin Abi Thalib, di luar segala fitnah yang mengelilingi kepemimpinannya adalah sosok mujahid yang mulia, yang kelak akan menjadi punggawa para penghuni Surga sebagaimana pesan Rasulullah (SAW), “Para pengikutku kelak akan mengikuti Ali menuju Surga,” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Ali kecil diambil Rasulullah (SAW) dari rumah Abi Thalib bin Abdul Muthallib ketika usianya menginjak 5 tahunan. Keluarga Abi Thalib yang miskin dan memiliki banyak anak menyerahkan Ali kepada Rasulullah yang pada waktu itu telah menikahi Khadijah binti Khuwailid dengan kemapanan mereka di segi materi. Meski berdasarkan garis nasab Ali masih mempunyai hubungan darah yang dekat dengan Rasulullah, namun Ali kecil memahami arti peng-adopsian dirinya oleh Rasulullah sebagai suatu pengabdian dan penyerahan diri secara mutlak atas setiap kehendak dan keinginan beliau. Dibanding menganggap Rasulullah sebagai keluarganya, Ali lebih menganggap Rasulullah sebagai tuannya, atas wujud terimakasihnya terhadap beliau atas dirinya.

Ali kecil tidak banyak bicara namun ia sangat rajin bekerja. Setiap pekerjaan yang diperintahkan oleh Rasulullah padanya ia kerjakan dengan cepat dan giat. Tak satupun pekerjaannya pernah terbengkalai, bahkan jika ia sudah selesai dengan tugas-tugasnya Ali akan mencari pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan. Sehingga Khadijah memberinya gelaran, “Anak yang tak pernah diam,” Selalu saja ia bekerja dan mencari pekerjaan, dengan tidak pernah membantah apalagi mengeluh lelah.

Setiap hari Ali selalu bangun yang paling pagi. Sebelum terbit ufuk atau sebelum muncul sinar segaris, ia sudah mulai dengan membuka semua jendela rumah, menyapu dan membersihkan rumah sambil sesekali membuat sedikit suara di depan kamar Rasulullah untuk membangunkannya. Selesai dengan pekerjaannya di dalam rumah Ali lalu akan mengangkat air, menyiapkan perlengkapan mandi tuannya dan menyediakan air untuknya di atas meja. Ali lalu akan menunggu Rasulullah meminum air itu, sambil menantikan perintah Rasulullah akan tugas yang harus ia selesaikan hari itu. Jika Rasulullah tidak membawanya ke pasar, maka sehari-harinya Ali akan bermain di kandang kuda sambil bekerja membersihkan kandang dan menyikat rambut kuda-kuda peliharaan Rasulullah, pekerjaan yang sangat ia sukai dan nikmati.

Ketika Qasim dilahirkan, betapa Ali juga merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan oleh anak-anak piara Rasulullah yang lain. Namun dalam hatinya Ali sempat merasakan kecil hati karena menganggap kasih sayang Rasulullah dan bunda Khadijah-nya tentu akan tercurah sepenuhnya pada Qasim, sehingga ia mungkin kelak tak akan mendapat perhatian dan candaan Rasulullah seperti yang biasa ia dapatkan sehari-hari. Namun Ali yang menyadari arti keberadaannya, berbesar hati dan tetap melaksanakan segala pekerjaannya seperti biasa.

Ketika Qasim meninggal karena penyakit wabah, Ali yang sudah menganggap putera Rasulullah itu sebagai adik dan juga calon tuannya pula merasakan duka yang mendalam. Terlebih ketika ia melihat kesedihan di mata Rasulullah dan duka yang tergurat jelas di wajah bunda Khadijah-nya. Ali dengan keluguannya mencoba menghibur mereka berdua dengan sesekali berbuat kelucuan-kelucuan yang membuat Rasulullah bisa tersenyum.

Ketika Fatimah dilahirkan, Ali yang sudah berusia sekitar 9 tahunan tak henti-hentinya mengucap syukur pada ALLAH. Karena kehadiran Fatimah memang ibarat cahaya yang menerangi seisi rumah. Ali tidak lagi merasa kecil hati sebagaimana yang dulu pernah ia rasakan ketika Qasim dilahirkan. Ali bertekad akan menjaga puteri kecil Rasulullah itu sebagaimana ia menjaga barang yang paling berharga yang ada di dunia. Ali berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah membiarkan Fatimah susah, tidak akan pernah membiarkannya menangis dan ia akan memenuhi apapun yang kelak Fatimah minta pada dirinya.

Fatimah kecil yang dibesarkan dalam keadaan berkecukupan, dengan kemanjaan ibundanya Khadijah dan kasih sayang ayahananya Rasulullah (SAW), tumbuh sebagai anak yang periang, pantang menyerah dan selalu ingin tahu. Ali yang juga tumbuh besar bersamanya ditugaskan Rasulullah untuk menjaga sang putri apabila ia hendak pergi ke suatu tempat atau mencari sesuatu yang ia butuhkan. Untuk itu Ali sering dibuatnya kerepotan. Karena Fatimah memang banyak maunya, suka berlama-lama di suatu tempat untuk kemudian muncul keinginannya yang lain yang harus selalu terpenuhi. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan juga sering membuat Ali kewalahan untuk menjawabnya. Sehingga malam harinya ketika Ali melaporkan ini ke Rasulullah dan menanyakan kembali pertanyaan yang tak bisa ia jawab, Rasulullah sering tertawa dibuatnya. Namun begitulah Ali dengan sangat sabarnya menjaga dan menemani Fatimah kemanapun ia hendak bermain.

Suatu hari, Fatimah menginginkan sekuntum bunga yang kuning warnanya. Ia berkata pada Ali kalau ia melihat bunga itu di dalam mimpinya tadi malam. Ali yang sudah mengenal beberapa daerah di sekitar kota memutar keras benaknya untuk mengingat dimana ada bunga yang berwarna kuning. Lalu Ali berkata, “Apa kali ini kamu ingin ikut pergi memetik bunga itu atau hanya saya yang pergi mengambilnya,” Fatimah menjawab sambil menggoyangkan kakinya dari atas kursi, “Kakiku ini kelelahan, aku tak sanggup lagi berjalan ke sana dan ke mari untuk mencari bunga itu,” Lalu Ali pun pergi meninggalkan Fatimah di rumah dan mencari bunga yang dimaksud.

Ketika berhasil mendapatkan sekuntum bunga berwarna kuning, Ai kembali ke rumah dan menyerahkan bunga itu kepada Fatimah, namun bagaimana reaksi Fatimah ketika melihat bunga yang dibawanya, “Yahh… bukan bunga yang ini Ali, bunga yang kulihat di mimpi itu kelopaknya begini dan begini, bukan yang seperti ini,” kemudian bibirnya pun menjadi cemberut. Ali menggaruk-garuk kepalanya, “Baiklah, akan aku cari lagi,” kemudian Ali kembali menyusuri jalan kota untuk mencari bunga yang lain. Beberapa waktu kemudian, Ali kembali ke rumah untuk menyerahkan bunga kuning yang lain, kali ini ada beberapa bunga kuning yang ia bawa. Sesampainya di rumah, alangkah kagetnya Ali melihat Fatimah sudah tertidur di kursi dengan lelap sekali. Perasaan bersalah bercampur dengan rasa sayangnya pada Fatimah pun membuatnya terduduk di sana, tanpa berbuat apa-apa, menunggu sampai sang putri terbangun.


photo credit: ilmaff.blogspot.com

Ketika Fatimah terbangun, ia melihat Ali terduduk bersandar di dinding dengan tangannya memegang serangkaian bunga kuning. Betapa senang hatinya melihat bunga-bunga yang cantik itu. “Hai Ali,” katanya sambil menepuk pundak Ali. Ali pun terbangun dan melihat Fatimah yang sangat senang dengan bunga yang ia bawa. “Apakah di antara bunga-bunga ini ada bunga yang kamu lihat dalam mimpimu itu ya Fatimah?” Fatimah tertegun sebentar lalu menggeleng, “Sepertinya tidak, namun aku sekarang mengerti apa artinya bunga yang kilihat dalam mimpi itu.” “Apa itu ya putri tuanku,” “Bunga itu ya dirimu Ali,” katanya sambi berlalu meninggalkan Ali yang terperangah keheranan.

Cerita bunga kuning ini pun kemudian Ali sampaikan kepada Rasulullah. Dengan cara berceritanya yang jenaka, Ali menirukan bagaimana Fatimah dengan santainya mengatakan kalau ia adalah si bunga kuning yang Fatimah lihat dalam mimpinya. Rasulullah yang mendengarkan setiap penuturan cerita Ali hanya tersenyum.

Ketika Ali memasuki usia remaja, yang terpaut jarak sekian tahun dengan Fatimah, Ali mulai menjaga jaraknya terhadap Fatimah. Fatimah mungkin pada saat itu masih anak-anak yang tidak mengenal batas dan rasa. Lain halnya dengan Ali yang sedari awal menyadari posisinya sebagai anak angkat dan pembantu di keluarga itu. Ali juga menyadari kalau ia sudah mulai tumbuh sebagai laki-laki dewasa yang suatu saat akan menyukai wanita, jatuh cinta dan menikah. Sementara rasa sayangnya pada Fatimah sampai saat itu tidak pernah berkurang dan juga tidak bertambah, rasa sayang yang tidak ia mengerti dan tidak bisa ia defenisi kecuali rasa sayangnya terhadap adiknya yang juga majikannya. Sehingganya, setiap Ali diminta menemani Fatimah, ia tak lagi mau berjalan beriringan dengan sang putri, ia akan menjaga jarak di belakangnya atau ia yang akan berjalan di depannya. Ali mulai menahan pandangannya untuk tidak terlalu sering melihat Fatimah. Ali juga mulai menjaga bicaranya dan memilih tidak banyak bicara kecuali ia ditanya.

Perubahan sikap Ali ini tentu saja mengherankan Fatimah. Pernah ia bertanya langsung pada Ali, “Ali apakah kamu membenciku? Kenapa kamu tak mau melihat wajahku setiap aku bicara sekarang?” Ali yang mendapati pertanyaan itu pun menjawab singkat, “Tidak Fatimah, demi ALLAH, mataku hanya terasa silau,”

Suatu hari Fatimah menemui ayahandanya dan mengadukan perkara perubahan Ali. Rasulullah mendengarkan tiap pemaparan lugas Fatimah dan tampak tidak terkejut mendapati pertanyaan puterinya itu. Ia pun berkata, “Setiap manusia akan mengalami tahap perubahan dalam hidunya. Dari anak-anak menjadi remaja dan lalu dewasa. Engkau pun nanti demikian,” Fatimah lalu berkata lagi, “Jadi apa nanti aku akan menundukkan wajahku setiap bicara? Atau apakah aku nanti akan berjalan di depan dan di belakang orang ketimbang berjalan di sebelahnya dengan bersahabat?” Kontan Rasulullah tersenyum dibuatnya, namun suara lain yang menjawab, “Kamu nanti akan lebih lagi dari itu, putri cantikku yang bawel,” sahut Khadijah sambil mengelus kepala puterinya.

Selang masa berlalu, ketika Fatimah akhirnya tumbuh menjadi gadis remaja, Fatimah menyadari ada beberapa perubahan pada dirinya. Ketika itu ia ingat bagaimana dulu Ali terhadap dirinya dan bagaimana penjelasan ayahandanya dahulu mengenai tahap perubahan anak manusia dalam hidupnya. Ali yang terpaut sekian tahun darinya juga sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, yang hampir tidak mau lagi tidur di dalam rumah, yang lebih senang mengikuti ayahandanya kemanapun beliau pergi dan hampir tidak pernah mau berlama-lama bicara padanya. Pada kala itu, Fatimah pada suatu hari melihat sosok salah satu sahabat ayahandanya yang entah kenapa ia kagumi. Laki-laki itu tampak gagah di atas kudanya dan salah satu pembesar Quraisy yang masuk kepada Islam setelah kejahiliyahannya yang teramat sangat. Kehanifannya yang membuat Fatimah tergugah. Laki-laki itu adalah Umar bin Khattab.

Kekaguman Fatimah terhadap Umar bin Khattab suatu hari terbaca oleh Ali. Ketika Fatimah menjadi sangat tertarik mendengar cerita ayahandanya yang baru pulang safar bersama Umar dan juga Ali (Ali selalu menyertai Rasulullah kemanapun beliau pergi). Fatimah juga terlihat senang ketika beberapa kali Umar datang berkunjung ke rumah mereka. Meski demikian, Ali yang telah tumbuh sebagai laki-laki dewasa memahami hal ini sebagai bagian dari pertumbuhan Fatimah yang akan menjadi dewasa, menyukai laki-laki dan kemudian menikah.

Sikap yang enggan antara Ali dan Fatimah setelah mereka mencapai baligh ini sebenarnya selalu menjadi perhatian Rasulullah. Ali dengan jarak yang diciptakannya terhadap Fatimah memang tidak pernah berkurang perhatiannya terhadap Fatimah. Meski jarang bercengkrama sebagaimana dahulu ketika mereka kanak-kanak, Ali tetap memenuhi segala permintaan Fatimah dan mencarikan apa-apa yang ia butuhkan. Meski tidak dengan kata-kata, rasa sayang Ali terhadap Fatimah memang tidak pernah berkurang, sebagai adik dan juga majikan yang harus ia jaga dan lindungi, sebagaimana dahulu ia pernah bertekad di dalam hati.

Suatu hari, Abu Bakar datang menemui Rasulullah dan meminta Fatimah untuk dirinya, demikian juga Umar yang datang meminta Fatimah untuk dirinya, Rasulullah dengan tegas menolak kedua sahabatnya ini dengan jawaban sederhana, “Fatimah telah aku ikatkan dengan yang lain,” Selang beberapa hari setelah itu, Rasulullah memanggil Ali ke dalam kamarnya dan berkata, “Ali, engkau telah bersama aku sekian lama, engkau lebih mengenal aku daripada diriku sendiri. Engkau adalah keluarga dan sahabatku yang paling aku percayai. Bersediakah engkau apabila aku titipkan sesuatu kepunyaannku yang paling berharga bagiku dan almarhum ibundamu Khadijah?” Mendengar itu, Ali kuat tekad dan hatinya, selaiknya diberikan tugas-tugas lain yang selalu ia penuhi selama mengikuti Rasulullah, “Insya ALLAH, saya akan sanggupi ya Rasulullah.” Rasulullah pun merasa tenang hatinya dan berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang Fatimah?” Alangkah kagetnya Ali mendengar pertanyaan Rasulullah, pandangannya yang kokoh menjadi seolah bergeming karenanya, “Fatimah ya Rasulullah?” tanyanya seakan tak percaya. “Ya, putriku Fatimah,” Ali kembali diam, lalu mencoba menjawab, tapi tak kuasa ia dan akhirnya Ali berkata, “Ia cantik ya Rasulullah, sebagaimana ibundanya.” Rasulullah membaca keraguan di mata Ali dan berkata lagi, “Kenapa engkau berpaling setelah engkau berkata akan menjaga kepunyaanku, harta yang paling berharga bagiku ya Ali?” Mendengar itu, tak kuasa Ali langsung bersimpuh di hadapan Rasulullah, “Ya Rasul ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Tahu apa yang ada dalam hatiku,” Bergetar suara Ali waktu itu. Rasulullah pula berkata, “Kalau begitu, siapkanlah olehmu apa yang menjadi hak nya atas dirimu,” Ali masih tak kuasa mengangkat kepalanya, “Sesungguhnya engkau yang lebih mengetahui ya Rasulullah betapa miskin nya aku,” Rasulullah berkata lagi, “Kalau begitu jual baju besimu, lalu uangnya belilah sesuatu yang menjadi permintaannya.”

Setelah selesai berbicara kepada Ali, Rasulullah pun memanggil Fatimah. Kali ini, dengan senyuman dan tatapan kasih nya Rasulullah berkata pada putrinya, “Wahai pelita hatiku, penyejuk jiwaku, ayahmu ini sekarang sudah tua, sebagai orang tua yang sudah tua bolehkah aku meminta sesuatu padamu ya Fatimahku?” Fatimah menanggapi ayahnya dengan candaan serupa, “Bagaimana mungkin seorang anak menolak permintaan orang tua yang sudah semakin tua? Katakan saja ayahanda,” Rasulullah pun kemudian berkata, “Aku ingin menikahkanmu dengan Ali,” Mendengar itu Fatimah terperanjat, “Ali ayah? Laki-laki itu bahkan tidak menyukaiku, bagaimana mungkin aku bisa serumah dengan dia?” Mendengar jawaban Fatimah Rasulullah pula kontan tertawa, lalu berkata lagi, “Bagaimana kau tau ia tidak menyukaimu ya putriku tersayang?” “Ayah, dia tak pernah mau melihatku, dia enggan bercakap-cakap denganku, dia bahkan tidak pernah tersenyum padaku, sepanjang yang aku ingat ia hanya tersenyum padaku… tiga tahun yang lalu!” jawab Fatimah lagi dengan ekspresi wajahnya yang lucu. Dengan bijak Rasulullah menenangkan hati putrinya, “Ya putriku, Fatimah cahaya hatiku, Ali itu memang sudah kaku wajahnya karena terlalu sering menunggang kuda,” Mendengar ini pula Fatimah yang berganti tertawa, gelak tawanya memenuhi kamar dan menghangatkan suasana. “Ya betul, ia memang terlalu sibuk dengan kuda. Ia bahkan hafal semua nama kuda yang ada di kota Makkah ini. Ia tau kuda ini milik siapa dan kuda itu milik siapa. Ia juga mungkin pernah menyisir setiap rambut kuda yang ada di kota ini ya ayahanda?” sahutnya lagi dengan mata yang bercahaya. Melihat ini lah Rasulullah semakin yakin hatinya, bahwa apa yang ia lihat dan perkirakan selama ini adalah benar. Satu sama lain mereka adalah melengkapi. Ali telah dilahirkan untuk menjaga Fatimah putrinya sebagaimana Fatimah dilahirkan untuk menemani Ali dalam perjuangannya.

Rasulullah kemudian berkata, “Ya putriku, Fatimah, cobalah kau lihat lebih dalam ke dalam sanubari seorang Ali. Ali itu seorang pejuang sejati. Tidak ada orang yang seperti ia di muka bumi ini. Dunia beserta isinya ini tidak ada yang lebih berharga dari seorang Ali. Ia selalu mengikuti aku, menjaga aku, membela aku, sesungguhnya bebannya sangatlah berat, sedemikian berat sehingga ia tak akan bisa memikulnya sendiri jika ia tidak engkau temani. Sepanjang ia bersamaku, tak sekalipun juga aku mendengar ia menyebut nama perempuan selain namamu, meski kata-katanya tak kan cukup menggambarkan tapi perasaannya dan rasa sayangnya adalah milikmu, putriku.” Mendengar ini Fatimah tertegun, meski dalam hati ia tak yakin apakah Ali benar menyayanginya sebagaimana yang dikatakan ayahandanya, namun pilihan dan keinginan ayahandanya tentulah yang terbaik bagi dirinya.

Sementara itu, Ali telah berhasil menjual baju besi kebanggaannya dengan harga sekian dirham. Ali pun datang menemui Fatimah untuk menanyakan permintaan maharnya. Dari balik tabir waktu itu ia berkata, “Di tanganku ada sekian dirham yang menjadi hakmu wahai putri Rasulullah yang mulia, apakah yang kau inginkan sebagai maharmu” tanyanya lirih. Mendengar suara Ali itu Fatimah yang tadinya tidak yakin dengan ketulusan Ali semakin tidak yakin dirinya. Dalam keresahan hatinya, Fatimah menjawab, “Belikan saja aku kain putih,” katanya dengan suara pelan hampir tak terdengar. Mendengar itu Ali pula yang tidak percaya diri. Semakin ia gundah hatinya terhadap rencana pernikahan ini. Fatimah terdengar sedih dan tidak bahagia dengan keinginan Rasulullah tersebut. Apakah Fatimah merasa berat hatinya, apakah Fatimah terpaksa akan dirinya atas permintaan ayahandanya, apakah Fatimah tidak menyukainya? Ali pun meninggalkan Fatimah dengan perasaan yang sama dengan yang dirasakan oleh Fatimah di balik tabir.

Jikalau dalam setiap pernikahan ada kegembiraan, senyum dan tawa canda, pernikahan Ali dan Fatimah adalah pernikahan yang berbeda. Fatimah ditemani ibu asuhnya, Saudah r.a, dengan dandanan yang sangat sederhana, duduk di kerumunan paling belakang dari undangan wanita pada waktu itu. Wajahnya selalu tertunduk di balik hijabnya yang panjang. Sementara Ali mengucapkan akad di depan Rasulullah juga dengan wajah yang sangat kaku dan hampir tanpa senyum. Beberapa bisikan-bisikan undangan pun sempat terdengar kalau pernikahan ini adalah keinginan Rasulullah saja, sementara Fatimah maupun Ali sama-sama terpaksa menjalaninya. Rasulullah sendiri sangat masam wajahnya pada hari itu, karena berita fitnah yang sempat tertangkap oleh telinganya dan ketidakmengertiannya akan sikap Fatimah maupun Ali. Kesudahan acara berlangsung sangat sederhana. Tanpa adat istiadat, tanpa acara makan-makan besar, tanpa riuh rendah suara menyorakkan “pengantin baru, pengantin baru!” sebagaimana lazimnya upacara pernikahan pada waktu itu.

Ali dan Fatimah kembali ke rumah Rasulullah secara terpisah. Fatimah sudah lebih dahulu pulang ditemani Saudah r.a ketika Ali bersama dengan Rasulullah masih di tempat akad (pada waktu itu ada sebuah rumah yang ditunjuk untuk tempat penyelenggaraan acara pernikahan). Ketika para undangan sudah pulang, Rasulullah pun mengajak Ali bicara empat mata mengenai fitnah yang ia dengar selama acara akad tadi. Lama Ali tertegun mendengarkan penuturan Rasulullah, namun tak kuasa juga ia memberikan penjelasan mengenai apa yang berkecamuk dalam dadanya. Rasulullah pula sedemikian bijaksana melihat beban di wajah Ali, tidak ingin ia menambahkan kegundahan padanya meskipun pada saat itu ia sangat kecewa terhadap sikap kaum muslimin.

Sesampainya di rumah, Ali dengan keresahan hatinya tidak cukup berani mengetuk atau masuk ke dalam kamar di mana Fatimah telah menunggunya. Sampai akhirnya maghrib menjelang, Ali hanya duduk di depan kamar dan melihat pintu kamar terbuka. Fatimah melihat suaminya dan langsung mencium tangannya. Didikan Rasulullah pada Fatimah memang tidak perlu diragukan, meski pada saat yang sama, keresahan pula masih mengisi hati putri Rasulullah itu. “Mari shalat,” kata Ali singkat.

Jikalau dalam setiap malam pertama sepasang pengantin baru akan menghabiskan malam dengan bercumbu atau bermesraan, tidak demikian halnya dengan Ali dan Fatimah. Malam itu adalah malam terpanjang yang pernah Ali lewati, demikian juga Fatimah. Dalam kamar yang diterangi pelita kecil itu Ali melihat dengan dekat dan sangat jelas sekali seorang Fatimah yang sebenarnya, seorang perempuan dewasa, istrinya. Kecantikannya, kemolekannya, suaranya, meski cuma sesekali ia bicara menyuruh Ali untuk naik ke peraduan, Fatimah memang tidak ternilai harganya di dunia ini. Putri Rasulullah, junjungannya yang mulia. Fatimah yang sekarang tidak sama dengan Fatimah yang dulu, Fatimah yang selalu ingin tahu itu.. Fatimah yang banyak maunya itu.. Fatimah yang tak kenal menyerah itu.. Fatimah yang ini dan Fatimah yang itu.. benaknya dipenuhi oleh bayangan-bayangan masa lalu dengan segenap perasaannya yang semakin terasa kuat, Ali tak kuasa menahan jantungnya untuk tidak berdegup keras. Malam berlalu sedemikian panjang, kapankah akan pagi?

Sementara Fatimah, dengan keresahan hatinya pula merasa tidak tenang. Mencoba menebak isi kepala Ali tapi ia tak mampu. Mencoba menerka isi hatinya pula ia tak kuasa. Ali tak mau mendekatinya, Ali tak mau melihatnya kecuali sebentar. Ah, Ali ini, sungguh ia tidak mengerti. Sesekali Fatimah mencoba mengisi kekosongan suasana dengan bercerita. Tentang masa kecil mereka, tentang teman-temannya. Sesekali pula ia bertanya kepada Ali tentang perjalanannya di hari-hari kemarin, tapi Ali hanya menanggapi dengan jawaban yang singkat-singkat. Begitu seterusnya hingga pelita itu padam. Hening dan tak terdengar suara apa-apa, Fatimah sudah tertidur sementara Ali masih mereka-reka apa yang sedang dilakukan istrinya dalam kegelapan. Ketika akhirnya ia memanggil Fatimah dan tak mendengar suara, Ali berjalan mendekati Fatimah dan mendapati ia telah tertidur. Ali pun berbaring di sisinya yang paling jauh. Mencoba lelap meskipun tak kuasa matanya hingga ufukpun tiba.

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>