on December 20, 2011 by admin in Hikmah, Comments (0)

Zaman

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Waktu adalah bagian yang membangun zaman sebagaimana hari, minggu, bulan, tahun, abad yang merangkai bagian daripada zaman. Manusia adalah makhluk ALLAH yang melewati waktu dan hidup pada salah satu zaman. Keberlangsungan zaman yang seolah tanpa batas menyimpan sejarah masing-masing pelaku zaman yang semestinya dapat menjadi pelajaran. Dalam Al-Qur’an, sebagai kitab penuntun banyak sekali disebutkan riwayat orang-orang terdahulu meliputi zaman Adam dan penciptaan yang pertama, Ibrahim sebagai bapak manusia, Musa dan perlawanannya terhadap Fir’aun, Isa dan kisah misteriusnya, Nuh dan keingkaran kaumnya, Luth dengan kekejian kaumnya, A’ad dan Tsamud dengan keingkarannya, Sa’ba dan ke ingkarannya, Al-Kahf dan ujian keimanannya, Lukman dan ajaran tauhid putranya, Bangsa Romawi dan kejatuhan peradabannya, Rasulullah Muhammad (SAW) dan ujian yang dihadapinya, serta kisah-kisah lain yang masih terselubung dan terus ditelaah oleh para ahli tafsir di berbagai belahan bumi.

Kisah dan riwayat orang terdahulu, yang menjadi pelaku zaman pada masanya, sarat pelajaran dan hikmah yang dapat dijadikan tauladan. Bagaimana kita diajak untuk berfikir dan merenungi hakikat penciptaan kita sebagai manusia dalam kisah Adam dan penciptaan yang pertama, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30-35 yang mencakup:
1. Kehendak ALLAH atas penciptaan Adam setelah malaikat, jin, dan alam semesta
2. Kesempurnaan ciptaan ALLAH atas Adam dengan akal yang membedakan ia dengan makhluk ALLAH yang lain, sehingga ia dapat mengenali benda-benda di sekelilingnya.
3. Kepatuhan dan keta’atan malaikat dan keingkaran iblis terhadap perintah ALLAH.
4. Hakikat keberadaan Adam di muka bumi yang kelak akan berkelompok-kelompok dan menjadi khalifah di antara kelompoknya, memimpin di bumi terhadap kelompoknya itu sebagai bagian dari barisan ‘abid ALLAH di muka bumi, yang menyelenggarakan kehidupannya pula tetap menjaga fitrahnya sebagai ciptaan ALLAH yang senantiasa mengingat dan beribadah hanya pada NYA.
5. Kesalahan Adam dalam membuat pilihan akalnya, dengan nafsu dan godaan Iblis yang berjanji akan menyesatkan ia dan anak cucu keturunannya, adalah bagian dari penciptaannya sebagai manusia dengan pintu ampunan ALLAH yang akan selalu terbuka atas taubatnya.

Bagaimana pengajaran tauhid dan kuatnya keyakinan seorang Ibrahim sehingga dikucilkan dan disiksa oleh kaumnya tidak sedikitpun menggoyahkan keimanannya terhadap ALLAH sebagaimana yang dialami oleh Musa dan perjuangannya terhadap kebiadaban Fir’aun. Bagaimana Nuh dapat bertahan dengan keimanannya pada ALLAH sebagai satu-satunya pencipta, dan diselamatkan ALLAH yang murka akan kekejian dan keingkaran kaum serta kerabat Nuh dengan menghanyutkan mereka semua dalam banjir besar, pula merupakan pelajaran yang dapat kita ambil dan amalkan. Bagaimana kaum A’ad dan Tsamud, yang diberkahi ALLAH dengan rezeki berlimpah-limpah namun mereka melupakan Ar-RAHMAN Ar-RAHIM yang menurunkan rezeki itu dengan memberikan tanah yang subur serta hujan yang membasahi dan mengairi tiap ladang mereka, dimurkai ALLAH dengan menghanyutkan setiap jengkal ladang mereka dengan hujan yang turun terus menerus, juga adalah cerminan yang dapat kita ambil hikmah dan pelajarannya. Bagaimana kaum Luth dengan kekejiannya melacurkan diri dan tenggelam dalam kebudayaan hedonisme (pecandu kenikmatan) dibinasakan ALLAH dengan penyakit wabah yang tak diketahui asal muasalnya, juga mengandung pelajaran bagi kaum-kaum sesudahnya.

Demikian juga dengan Al-Kafh yang sangat fenomenak kisahnya atau ajaran tauhid terhadap Lukman yang tidak mengenal perbedaan usia,dan tentu saja berbagai hikmah atas kejadian seputar kehidupan Rasulullah Muhammad (SAW) yang juga sarat hikmah dan pelajaran. Al-Qur’an dengan hampir 90% kandungannya baik dalam bentuk perintah, larangan, dan kisah orang terdahulu semata-mata tiada lain adalah mengajarkan dan mengingatkan kita akan tauhid, ALLAH sebagai satu-satunya kekuatan yang MAHA berkehendak, ALLAH sebagai satu-satunya Pencipta yang wajib kita sembah.

Zaman sebagaimana waktu memiliki karakteristiknya sendiri. Jika waktu cepat berlalu, zaman seolah berlalu tanpa batas. Bagi kaum atheis atau scientist yang menelaah zaman dan waktu dari pemahaman mereka yang dangkal, zaman ini tidak akan berakhir sampai bumi menjadi benar-benar tua, keropos dan hancur perlahan-lahan. Sehingga untuk mempersiapkan kehancuran atau kekeroposan bumi tadi, mereka mencari segala cara mencoba menciptakan ‘tempat lain’ yang dapat ditinggali setelah kelak bumi tidak ada. Sebut saja ekspedisi penelitian terhadap planet-planet lain di antariksa, dari Mars sampai Jupiter yang paling jauh pun telah diteliti kelayakannya untuk ditinggali. Namun tidaklah pernah terpikir di benak mereka, meski sejauh apa planet yang akan mereka tinggali kelak, ada kehidupan lain yang mereka tak akan bisa lari daripadanya, yaitu kehidupan setelah kematian dan akhir dari zaman itu sendiri (yaumul akhir).

Zaman memiliki pelaku zaman yang terkenal dengan perilakunya masing-masing, sebagaimana disebutkan di atas, masing-masing pelaku dan perilaku itu dapat dijadikan contoh dan pelajaran, bagi orang-orang yang berfikir dan mengambil pelajaran.

Zaman memiliki sifat yang konstan namun ia berulang. Pengulangan ini tak lain karena pelaku zaman di golongan manusia adalah manusia itu sendiri, yang dari zaman apapun ia memiliki dua kecenderungan saja. Kecenderungan akan kebaikan atau sebaliknya, kecenderungan terhadap takwa atau sebaliknya. Dengan inti ajaran yang sama (yaitu ajaran tauhid), pelaku zaman dari zaman apapun itu, akan kembali mengulang perilaku di zaman-zaman yang lain (zaman sebelumnya). Sehingga kalau dianalogikan dalam sebuah grafik, zaman dan perilaku pelaku zaman adalah sebuah garus lurus saja.

Ketika pada masa dahulu, kaum Luth dengan kekejian mereka melacurkan diri dan tenggelam dalam kehidupan penuh hedon, dibinasakan ALLAH dengan penyakit wabah yang tak diketahui asal muasalnya, pada zaman sekarang di tahun 2000 an ini HIV-AIDS adalah penyakit yang dinamai untuk wabah sejenis. Homoseksual pada saat ini adalah hal yang biasa, waria yang tidak jelas kelaminnya telah diakui keberadaannya, hubungan seksual di luar pernikahan juga bukan lagi aib.

Berbagai bencana yang terjadi di belahan bumi, dari Amerika sampai Jepang dan juga Indonesia juga menjadi cermin atas zaman yang berulang. Bagaimana bangsa ‘sebesar’ Amerika dapat dengan mudahnya porak poranda oleh badai dan hujan besar, bagaimana bangsa ‘sehebat’ Jepang dapat binasa seketika oleh air laut dan gempa, bagaimana bangsa ‘sepapa’ Indonesia menjadi semakin sengsara dengan letusan gunung dan musibah banjir yang tiada melihat musim. Maka apakah kita tidak dapat mengambil pelajaran dengan setiap kejadian yang dahulu dan sekarang yang diperlihatkan di depan mata?
Wallaahu ‘alam bish shawab.

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>