on December 12, 2011 by admin in Hikayat, Comments (0)

Hikayat Keluarga Muhammad

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Rasulullah Muhammad (SAW) adalah makhluk ALLAH yang mulia. Dilahirkan di tengah-tengah kejahiliyahan bangsa Quraisy, Muhammad tumbuh sebagai anak yang terkenal jujur, baik akhlaknya sehingga diberi gelar al-amin (yang terpercaya) oleh teman dan kerabatnya. Dengan sifat jujur dan keuletannya dalam bekerja, Muhammad yang tadinya bekerja sebagai penjaga dan pengembala hewan ternak pamannya, mulai diajak oleh pamannya tersebut untuk membantunya berdagang bahan pakaian di pasar. Bakat pedagang dari almarhum ayahandanya Abdulullah bin Abdul Muthallib ternyata juga melekat di diri Muhammad, sehingga dengan cepat ia dapat menguasai ilmu berdagang dan dipercaya pula untuk menjaga barang dagangan pamannya tadi.

Sebagai seorang pedagang, Muhammad al-amin, tidak pernah merugikan pamannya (sebagai pemilik dagangan) tetapi juga tidak pernah mengecewakan para pembelinya. Muhammad menjual barang dagangan sedikit di atas harga beli barang dan tidak melebihi sepertiga dari harga beli barang itu. Misalnya harga beli barang adalah 1000, Muhammad akan menjualnya di sekitar harga 1100 atau 1250, sehingga untung yang didapatkan tidak mencapai sepertiga harga beli barangnya. Barang-barang yang ia jual juga barang-barang dengan kualitas bagus dan bermutu, seperti dikisahkan pada beberapa riwayat, jika terdapat barang yang cacat atau rusak, Muhammad sama sekali tidak akan menjualnya. Pada suatu kesempatan pernah ada barang dagangannya yang rusak dan Muhammad menjualnya separuh harga beli barangnya dengan seizin pamannya sebagai pemilik dan dengan sepengetahuan pembelinya mengenai kondisi dan keadaan barang tersebut. Kejujuran dan perilakunya yang elok terhadap pembeli menyebabkan dagangan Muhammad hampir tidak pernah sepi dari pembeli. Muhammad juga menjaga dan merawat barang dagangan milik pamannya itu sebagaimana ia menjaga dan merawat barangnya sendiri, yang membuat pamannya semakin sayang dan semakin mempercayainya.

Berita kejujuran dan keuletan Muhammad dalam berdagang ini pada suatu hari terdengar oleh seorang saudagar wanita kaya raya keturunan bangsawan terkemuka dari suku Quraisy yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang penasaran dan ingin tahu pun mendatangi toko dagangan milik paman Muhammad dan meilihat sendiri bagaimana Muhammad bekerja melayani para pembelinya dengan sabar dan ramah. Khadijah merasa tertarik pada laki-laki itu, sampai-sampai ia berfikir kalau saja laki-laki itu juga bekerja padanya maka dagangannya pula akan maju pesat melebihi dari yang sudah ada pada saat itu.

Khadijah lalu menyuruh salah seorang pembantunya untuk menemui Muhammad dan menawarkan pekerjaan baru di salah satu tokonya dengan imbalan gaji yang lebih besar dari yang Muhammad dapatkan dari pamannya. Namun Muhammad menolak dengan halus, dengan alasan bahwa ia bekerja untuk pamannya sebagai bagian keluarganya dan gaji yang ia dapat dari pamannya sudah melebihi dari apa yang ia butuhkan sehari-hari.

Pembantu tersebut akhirnya kembali ke Khadijah dan menyampaikan berita penolakan Muhammad atas tawarannya. Terang saja Khadijah merasa heran dan juga semakin takjub dengan sosok seorang Muhammad. Bagi suku Quraisy yang terkenal sebagai pedagang-pedagang ulung, tawaran sebagaimana yang diberikan Khadijah adalah kesempatan yang jarang dan langka. Karena itu masih dengan rasa penasarannya, Khadijah kembali menyuruh pembantunya untuk membujuk Muhammad agar mau bekerja padanya dengan imbalan gaji dua kali lipat dari yang pernah ia tawarkan pertama. Namun tawaran ini pula kembali ditolak oleh Muhammad.

Hampir setiap malam, ketika sudah pulang ke rumah Khadijah memikirkan Muhammad, sosok laki-laki yang menawan hatinya dengan kejujuran, keuletan dan kesabaran yang terpancar dari raut wajahnya yang bersih. Khadijah yang pada saat itu berstatus janda akhirnya memberanikan diri untuk menyuruh salah satu pembantu terpercayanya untuk menyelidiki Muhammad. Khadijah sangatlah ingin tahunya mengenai siapa sebenarnya seorang Muhammad, siapa ibu dan ayahnya, keturunan suku apa, dan bagaimana ia sehari-harinya.

Berita yang dibawa oleh pembantunya tadi tidaklah banyak. Muhammad ternyata seorang yatim piatu, berayah Abdulullah bin Abdul Muthallib seorang pedagang dari turunan Quraisy yang meninggal di dalam safar perniagaannya dan beribunda Aminah dari suku Bani Hasyim yang meninggal dunia 2 bulan setelah Muhammad dilahirkan. Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthallib sampai usianya sekitar 5 tahun dan kakeknya itu pula meninggal dunia sehingga Muhammad diasuh oleh pamannya. Muhammad mengambil suku Bani Hasyim dari ibunya sebagai sukunya, karena ketidak sukaannya terhadap budaya dan kebiasaan suku Quraisy yang ia lihat, meskipun darah quraisy juga mengalir dalam tubuhnya. Meski dengan sanad yang jauh, Muhammad ternyata masih memiliki hubungan kerabat jauh dengan Khadijah dari pihak pamannya.

Membayangkan bagaimana Muhammad dibesarkan sebagai seorang yatim piatu, namun dapat terpelihara akhlak dan budinya, jujur dan santun perilakunya, serta rajin dalam bekerja, Khadijah semakin kagum dan tertawan hatinya.Sosok Muhammad adalah sosok laki-laki sejati yang ia idam-idamkan, terlebih pancaran wajahnya yang bersinar itu yang membuat Khadijah tidak bisa melupakannya.

Suatu hari, Khadijah pun kembali mengutus pembantunya tadi untuk menemui Muhammad dan menanyakan padanya beberapa pertanyaan rahasia.

“Muhammad, apakah saat ini ada wanita yang sedang kau sukai?” tanya pembantu Khadijah.
Muhammad tidak menjawab dan membalasi dengan senyuman.
“Kalau tidak, apakah kau mau aku kenalkan dengan seorang wanita yang cantik dan baik?” tanya pembantu itu lagi.
Muhammad kembali tersenyum, dan menjawab, “Aku tidak akan mampu membeli maharnya,”
“Soal mahar tidak usah kau pikirkan, kalau kau mau aku akan mengenalkanmu dengan wanita itu,”

Pada hari yang telah disepakati, Muhammad pun dibawa untuk menemui Khadijah. Alangkah kagetnya Muhammad demi melihat wanita di hadapannya adalah Khadijah binti Khuwailid, saudagar kaya raya yang memilki hampir separuh perniagaan besar yang ada di kota Makkah. Muhammad pun tak kuasa tertunduk dan tak berani mengangkat mukanya karena malu. Bagaimana bisa ia sedemikian berani untuk menemui Khadijah dan bermaksud untuk mencuri hatinya andaisaja wanita itu juga menyukainya.

Sebaliknya Khadijah yang melihat ekspresi Muhammad juga merasa sungkan. Kepercayaan dirinya pun roboh demi memikirkan kalau Muhammad mungkin tidak tertarik padanya karena tidak mau melihat wajahnya. Tapi karena sudah terlanjur bertemu, Khadijah pun memberanikan diri untuk bicara,”

“Wahai Muhammad yang anak pamanku, aku melihatmu dari kejauhan dan aku merasa tertarik padamu. Wajahmu yang bersinar pula telah menawan hatiku. Apakah kau bersedia untuk menjadi pemimpin di rumahku?”

Mendengar ini Muhammad terkejut dan hampir saja ia jatuh karena bergetar kakinya. Namun dengan suaranya yang sangat kecil, Muhammad menjawab, “Wahai Khadijah, anak bangsawan Quraisy yang murah hati, bagaimana mungkin saya bisa membayar maharmu,”

Khadijah yang mendengar itu langsung tertawa kecil, karena jawaban Muhammad di luar dari apa yang ia perkirakan, dan Khadijah pula menjawab dengan senyum kerendahan, “Hartaku hanyalah hiasan bagiku, harta itu milikku tapi juga akan menjadi milikmu, bagaimana mungkin kau memberikan padaku apa yang menjadi milikku?” Sangat bijaksana jawaban Khadijah ini yang menggambarkan kecerdasan dan kemuliaan hati seorang Khadijah. Muhammad yang tadinya merasa kecil hati menjadi kuat semangatnya dan melihat sosok Khadijah sebagai seorang wanita sempurna yang dapat menjadi pendamping hidupnya.

Muhammad pun kemudian berkata, “Lalu apa yang engkau minta padaku wahai Khadijah yang berhati mulia, sebagai laki-laki aku tetap harus memberikan sesuatu padamu.”

Khadijah terdiam sebentar kemudian kembali menjawab, “Dunia seisinya ini tidaklah sebanding dengan keberadaan engkau di sisi ku kelak, itu saja sudah cukup bagiku.” jawab Khadijah pula.

Muhammad kembali terkesan dengan tutur bahasa Khadijah, yang sangat jujur dengan isi hatinya dan ikhlas menerima ia apa adanya. Muhammad pula, mengangguk dengan penuh kepastian dan menjawab, “Insya ALLAH, kalau begitu pada hari ketiga bulan safar yang akan datang aku akan datang ke rumahmu bersama pamanku.”

Begitulah, satu bulan kemudian Muhammad dan kedua pamannya (Abu Jahal dan Abu Lahab) mendatangi rumah Khadijah dan menjadi wakil keluarga pihak Muhammad. Disebutkan dalam riwayat kalau Muhammad berhasil membeli seekor onta yang dihadiahkannya sebagai mahar kepada Khadijah, namun pada riwayat yang lain menyebutkan sepuluh onta dan tiga puluh kambing. Pernikahan Muhammad dan Khadijah berlangsung sangat sederhana, sebagaimana permintaan Khadijah sendiri dan kesepakatan dari pihak Muhammad, meskipun baik Khadijah dan kedua paman Muhammad yang kaya bersedia mengadakan pesta besar-besaran bagi kedua mempelai.

Setelah menikah, Muhammad kemudian menjalankan sebagian besar peniagaan Khadijah baik yang di dalam kota Makkah maupun yang di luar kota Makkah. Dengan keahlian dan pengalaman Muhammad dalam berdagang, perniagaan Khadijah pun berkembang pesat, sementara Khadijah sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sebagai istri yang memang diminta sendiri oleh Muhammad agar tidak terlalu menyibukkan diri dalam berniaga kecuali kalau memang Khadijah menginginkannya. Jadi secara halus Muhammad sebagai suami menginginkan Khadijah untuk di rumah saja tidak berlelah-lelah dalam berniaga tapi Muhammad juga tidak membatasi gerak istrinya dalam berniaga. Muhammad percaya istrinya itu sangatlah handal dan cakap dalam membagi waktu dan kepentingannya. Sehingga tidak sekalipun Muhammad pulang ke rumah tanpa adanya Khadijah di rumah, dengan makanan dan pakaian yang sudah tersedia dan disiapkan, meskipun Khadijah sebelumnya ada urusan perniagaan atau urusan dengan keluarganya yang lain di luar rumah.

Keadaan dan kehidupan masyarakat di kota Makkah pada saat itu sebenarnya sering Muhammad keluhkan kepada Khadijah. Betapa Muhammad tidak menyukai adat istiadat, kebiasaan dan ragam kehidupan masyarakat kota Makkah. Masyarakat kota Makkah yang sebagian besar adalah pedagang, hampir setiap hari sepulang berniaga di pasar atau dari luar daerah menghabiskan waktu mereka untuk kumpul-kumpul dan mabuk-mabukan, perlakuan mereka terhadap istri-istri mereka ketika mabuk juga sangat tidak beradab. Dan kebiasaan membuang anak perempuan yang dianggap akan membawa sial dan aib juga masih dipraktekkan di tengah-tengah masyarakat kota Makkah meski sudah banyak pula yang mengecam perilaku keji itu. Khadijah pula menganggapi setiap perkataan suaminya dengan lebih banyak mendengarkan dan sesekali mengucapkan doa-doa, semoga kelak keadaan berubah atau semoga kelak anak-anak mereka terhindar dan dijauhkan dari perbuatan sedemikian.

Tahun pertama kehidupan rumah tangga Muhammad dan Khadijah dihiasi dengan masa perkenalan yang membuat keduanya saling memahami satu sama lain. Baik Muhammad dan Khadijah hari demi hari semakin mencintai pasangannya. Muhammad melihat sosok istrinya sebagai wanita mulia yang ikhlas, cerdas dan bijaksana. Meskipun harta yang mereka miliki berasal dari Khadijah namun tidak sekalipun Khadijah memperlihatkan sikap sombong dan kepemilikan terhadap apa yang ia miliki itu. Sebaliknya Khadijah menyerahkan seluruh pengurusan hartanya kepada Muhammad sebagaimana yang pernah ia katakan dulu ketika pertama mereka dipertemukan. “Hartaku adalah perhiasan bagiku, milikku juga milikmu.” yang menjadikan Muhammad sebagai laki-laki dan sebagai suami tidak pernah terjengkali harga dirinya, yang menjadikan Muhammad tidak pernah merasa malu lagi atas kekurangan yang ia miliki sebelum menikahi Khadijah. Di sisi Khadijah sendiri, semakin ia mencintai suaminya yang benar-benar sempurna akhlaknya. Tidak pernah ia mengenal orang seperti Muhammad, yang berbuat baik terhadap siapa saja, yang berkata jujur kepada siapun juga, yang selalu menyantuni fakir miskin, yang selalu menghormati hak-haknya sebagai istri dengan menjaga perasaanya, menghargai setiap yang ia lakukan untuk menyenangkan hati suaminya, yang selalu merundingkan setiap keputusan yang akan ia ambil dengan dirinya, yang tidak pernah sekalipun membuat ia meneteskan air mata. Muhammad adalah sosok laki-laki dan suami yang sempurna.

Tahun kedua kehidupan rumah tangga Muhammad dan Khadijah semakin bersinar dengan kehamilan Khadijah. Putera yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir ke dunia dan diberi nama Qasim, sehingga kemudian Muhammad sering dipanggil al-amin abu Qasim. Namun Qasim tidak berumur panjang, ketika ada wabah penyakit yang melanda kota Makkah, Qasim meninggal dunia di 2 tahun usianya. Duka dan kemurungan Khadijah akan kehilangan putera tersayangnya tentu saja juga menjadi kesedihan Muhammad. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya Muhammad berhasil menyembunyikan kesedihannya ini dan selalu menghibur istrinya dengan candaannya. Demi melihat itu pula Khadijah menyadari kalau ia terlalu terbenam dalam duka yang sebenarnya malah juga menyusahkan hati suaminya. Khadijah pun kembali bangkit bersemangat, mengisi kesibukan sehari-hari seperti dahulu.

Tak lama berselang, berita baikpun sampai ke rumah tangga Muhammad dan Khadijah. Ketika akhirnya Khadijah kembali hamil dan lahirlah puteri kesayangan mereka yang benar-benar menjadi pelipur hati bagi kedua orang tuanya. Puteri kecil ini diberi nama Fatima. Segala kasih sayang Khadijah dan Muhammad tercurah bagi Fatima meskipun pada saat itu di kalangan bangsawan Quraisy tidak mengindahkan arti kelahiran anak perempuan dalam keluarga. Fatima dididik sebagaimana Khadijah dididik oleh ibundanya dahulu, Fatima diajarkan nilai-nilai kebaikan sebagaimana Muhammad dahulu mempelajari dan mengamalkannya. Meskipun sejatinya seorang anak perempuan, Fatima tumbuh sebagai anak yang berani, cerdas, dan tidak mengenal kata “menyerah” dalam setiap tantangan yang ia temui. Pada hari-hari tertentu Muhammad sering mengajak Fatima kecil berjalan di sekeliling pasar dan kota untuk melihat orang-orang di sekitarnya. Muhammad dengan caranya sendiri, membuat Fatima melihat bagaimana seseorang bekerja mencari nafkah yang secara tak langsung mengajarkannya tentang cara berhemat dan menghargai uang. Muhammad dengan caranya sendiri, membuat Fatima melihat bagaimana kesusahan seorang ibu merawat anaknya yang secara tak langsung mengajarkannya untuk lebih menyayangi dan menghormati ibundanya. Muhammad dengan caranya sendiri, membuat Fatima melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya dengan setiap pelajaran yang bisa diambil atau tidak bisa diambilnya. Sehingga pendidikan Fatima kecil, ditekankan pada pembentukan akhlak dan kecerdasan akalnya dalam menyaring informasi dan pelajaran yang ayahanda dan ibundanya berikan.

Keluarga kecil Muhammad yang juga diramaikan oleh Zainab, Ruqayah dan Ibnu Kaltsum menjadi sempurna memang dengan kehadiran Fatima dan menjadi lengkap dengan kehadiran Ali ketika Muhammad mengambilnya dari rumah Abi Thallib untuk kemudian membesarkannya bersama anak-anak mereka yang lain.

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>