on December 19, 2011 by admin in Hadits, Hikmah, Comments (0)

Waktu

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Perputaran waktu antara pagi dan malam kemudian kembali lagi kepada pagi berlangsung sedemikian cepat, tanpa terasa. Berbagai aktivitas dan kesibukan yang kita lakoni sehari-hari pula menyebabkan perputaran hari dari senin ke selasa hingga minggu dan kembali lagi ke senin berlalu tanpa terkira. Terkadang sering malah, pada suatu kesibukan yang sangat, kita bisa melupakan hari, tanggal bahkan bulan apa yang sedang kita tempuhi saat itu.

Perputaran waktu berjalan sedemikian cepat, sebagaimana pula perputaran zaman yang mengiringinya. Padahal jika kita melihat ke belakang dari perjalanan waktu yang telah kita lewati itu, otak kita mungkin tidak banyak bisa mengingat peristiwa-peristiwa di masa lalu kecuali sedikit gambaran dan beberapa peristiwa penting saja yang pernah kita alami. Misalnya ketika kita masuk sekolah baru, ketika kita memperoleh penghargaan tertinggi atas prestasi, ketika kita menikah, ketika kita melahirkan atau memiliki anak pertama, ketika ada kemalangan yang menyebabkan hati sedemikian terasa sedih atau pilu. Padahal kalau dihitung-hitung, misalnya usia kita saat ini adalah 20 tahun, terhitung sejak kita baligh (umur 8 tahun) ada 12 tahun waktu yang telah kita jalani dengan 12 x 365 hari yang telah kita habiskan. Dalam kurun waktu 12 tahun itu berapa banyak kejadian dan peristiwa yang kita alami, mungkin tak banyak yang bisa kita ingat, meskipun mungkin kita memiliki catatan perjalanan (diary) yang merekam kejadian yang kita alami pada masa itu.

Kalau hal ini kita telusuri secara medis, jawaban sederhana yang akan kita dapatkan yaitu otak manusia memiliki kemampuan untuk long term memory (memori jangka panjang) dan short term memory (memory jangka pendek). Long term memory meliputi peristiwa yang benar-benar dianggap otak kita sebagai peristiwa sangat penting untuk disimpan, sementara short term memory mencakup peristiwa atau kejadian-kejadian yang biasa kita alami sehari-hari. Ketika istri kita melahirkan anak pertama, maka suka cita kelahiran anak itu akan direkam dan disimpan otak kita sebagai long term memory yang kapan pun kita dapat mengingatnya, sementara aktivitas harian kita seperti bertemu kenalan lama di jalan atau membeli suatu barang akan dikelompokkan otak kita sebagai short term memory yang hanya akan kita ingat selama beberapa hari. Jadi tidaklah heran kalau ketika kita sedang membongkar tumpukan barang lama atau koleksi kita, kita akan terheran-heran ketika kita mendapati telah membeli ini dan itu sementara kita tidak ingat persis kapan kita membeli barang ini dan itu tadi.

Kejadian mengingat dan proses mengingat manusia merupakan ilmu yang tidak dapat ditelusuri dengan alat ukur dan metode ukur apapun sampai saat ini. Demikian pula perputaran waktu dan perjalanan waktu. Meskipun ada kesepakatan rentang waktu antar benua yang dimulai dari titik nol di Greenwich (+0) namun seberapapun beda derajat dan menit yang tercipta di antaranya, tidak ada yang tahu persis apakah waktu itu berjalan konstan detik demi detik, atau jam demi jam nya, karena jarum jam yang berputar juga hanya alat bantu untuk mengukur perputaran waktu tadi.

Perputaran waktu berjalan sedemikian cepat, sehingga pagi menjadi malam kemudian kembali lagi kepada pagi. Waktu yang meliputi rangkaian detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dalam hitungan manusia adalah bagian dari kesempurnaan penciptaan alam dan mutlak iradah (kehendak) ALLAH. Sebagaimana disebutkan berulang-ulang dalam Al-Qur’an, bagaimana ALLAH menciptakan segala sesuatunya dengan seimbang, bagaimana ALLAH melengkapi segala ciptaannya dengan sempurna, sebagaimana juga waktu yang tidak satupun makhluk-NYA di muka bumi ini bisa mencuri, mengakali atau lari dari waktu. ALLAH menciptakan malam atas siang seperti terang di atas gelap dan mencukupkan perputaran malam dan siang sebagai waktu untuk manusia menyelenggarakan kehidupannya. Dari bangun tidur, mandi, bekerja, makan, beristirahat, berkumpul bersama keluarga sampai kemudian kembali beristirahat lagi dalam bagian waktu yang ALLAH ciptakan tadi, siang maupun malam. Sehingga apapun yang terjadi di antara aktivitas kehidupan tadi adalah terpulang kepada kita, yang telah diberikan waktu, yang berjalan sangatlah singkat. Apakah dalam perjalanan waktu kita, kita menjadi makhluk yang memperoleh untung atau malah sebaliknya. Apakah dalam perjalanan waktu kita, kita semakin takwa atau malah sebaliknya. Rasulullah SAW pernah berkata, “Orang yang beruntung adalah orang yang pintar menghargai waktu,” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Waktu itu ibarat pedang, sedikit saja terlewat ia dapat menebas batang lehermu,”

Hadits di atas menggambarkan bagaimana Rasulullah (SAW) mengingatkan kita akan pentingnya menghargai waktu dan mencermati waktu dalam kehidupan kita. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang beruntung dengan waktu yang kita punyai dan bagaimana kita bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk menjadi orang yang lebih baik dan tidak merugi.

Perputaran waktu berjalan sedemikian cepat, sebagaimana pula perputaran zaman yang mengiringinya. Jika kita mengingat kembali perjalanan kita sedari kecil hingga dewasa sekarang, mungkin satu pikiran yang terlintas di kepala, “Tidak terasa saya sudah begini, tidak terasa dulu padahal saya masih sekolah, tidak terasa ini dan itu.” Sedemikian cepatnya waktu berlalu, sebagaimana pula zaman yang mengiringinya, umur yang sedang kita tempuhi sekarang pun tidak terasa akan cepat bertambah. Hitungan 20 akan tidak terasa menjadi 25, kemudian menjadi 30 dan menjadi 35 dan begitu seterusnya. Sementara apabila kita masih belum mengenal diri kita dan hakikat penciptaan kita, usia yang telah berlalu itu mungkin tak banyak membawa manfaat buat kita kecuali dalam hal menumpuk harta, mengejar kekuasaan dan mencari kesenangan dunia. Sehingga pada setiap pergantian tahun, atau setiap berulang tahun, yang akan kita hitung adalah jumlah saldo tabungan kita atau jumlah emas yang kita punya atau harapan, ambisi dan rencana untuk mengembangkan usaha agar lebih maju lagi di masa hadapan. Padahal hitungan 35 dan seterusnya dari usia kita sampai maut yang tidak tahu pasti kapan menjemput, akan terus berlalu begitu saja, sedemikian cepat dengan keinginan dan ambisi akan dunia yang tak akan pernah habis dan berujung. Sungguh yang sedemikian inilah yang dimaksud Rasulullah (SAW) dengan golongan orang yang merugi, yang akan kembali ke akhirat tanpa bekal yang cukup.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>