on November 22, 2011 by admin in Hikmah, Risalah, Comments (0)

Sin

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sin, adalah salah satu dari huruf utama dalam huruf Arab. Di dalam AlQur’an tidak satupun surat dikepalai dengan huruf Sin (sebagaimana ada surat yang dikepalai dengan huruf Shad, Nun, Qaf), huruf Sin hanya satu disebutkan secara khusus dalam AlQur’an yaitu di awal surat Yaasin.

Ayat “Yaa siin” di surat Yaasin sendiri tidak banyak ulama ahli tafsir yang berhasil menemukan makna di balik kandungan dua huruf itu. Tetapi di dalam salah satu kitab tafsir tua di Iran disebutkan kalau dua huruf “Yaa” dan “Siin” menjadi perlambang untuk “Yaa” yang berarti “Wahai” dan “Siin” yang berarti “Sayatin” (Syaitan).

Tidak banyaknya surat yang memuat khusus huruf Sin diawal suratnya sebenarnya dapat mencuatkan satu pertanyaan dalam akal kita. Apakah Sin yang menjadi perlambang syaitan ini tidaklah penting dalam kehidupan manusia sementara Rasulullah sendiri dalam hadits shahihnya menyebutkan kalau syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Keberadaan syaitan, iblis dan turunannya di muka bumi sudah ada sejak sebelum bumi diciptakan. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ketika ALLAH menciptakan Adam, maka seluruh penghuni langit dan bumi sujud (menghormati) Adam kecuali iblis. Dan keingkaran iblis ini pula yang menyebabkannya menjadi makhluk yang dimurka ALLAH yang kelak di yaumul akhir akan mendapatkan balasan dan siksa atas keingkarannya itu.

Syaitan, iblis dan turunannya merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Meskipun kenyataan yang dimaksud bukanlah kenyataan wujud atau fisiknya namun kenyataan syaitan, iblis dan turunannya itu berupa kehadirannya di setiap sisi kehidupan manusia, baik dalam amalnya apalagi dalam maksiyatnya.

Syaitan, iblis dan turunannya sebagaimana janji dan tawar menawarnya pada ALLAH ketika kejadian penciptaan Adam, akan tetap menyesatkan manusia dari jalan ALLAH, sehingga kelak beramai-ramai dapat menjadi teman mereka di dalam neraka. Sehingga jangankan dalam setiap perbuatan amal baik manusia, dalam perbuatan maksiyat saja pun syaitan, iblis dan turunannya akan tidak mau meninggalkan manusia. Satu dosa yang diperbuat manusia akan diupayakan mereka dengan tipu daya sedemikian rupa agar menjadi dua, dan dua pun akan menjadi tiga, dan tiga pun akan menjadi banyak. Karena itu pantaslah Rasulullah selalu mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi diri dari dosa, baik dosa kecil apalagi dosa besar. Dosa sekecil apapun yang dilakukan akan memancing muncul atau terciptanya dosa yang lebih besar, dan dosa yang lebih besar akan berhujung pada maksiyat yang menjadikan manusia itu sebagai teman, budak dan bagian dari tentara mereka (syaitan, iblis dan turunannya).

Tidak banyaknya surat yang memuat khusus huruf Sin diawal suratnya sebenarnya dapat mencuatkan satu pertanyaan dalam akal kita. Apakah Sin yang menjadi perlambang syaitan ini tidaklah penting dalam kehidupan manusia sementara Rasulullah sendiri dalam hadits shahihnya menyebutkan kalau Syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Ketika kita mentadabburi isi kandungan AlQur’an atau ketika mengingat hakikat penciptaan kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ALLAH berikan untuk kita, tentunya kita akan dapat bisa mengenal bagaimanakah Sin ini sebenarnya terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga dengannya mudah-mudahan kita tercepat ingat.

Manusia diciptakan ALLAH sebagai makhluk yang bersifat lemah, harap dan takut. Lemah artinya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, harap artinya manusia dalam hatinya penuh pengharapan atas kehidupan yang baik (dunia dan akhirat) dan harap atas pertolongan ALLAH senantiasa, takut artinya manusia memiliki rasa takut dalam hatinya baik takut terhadap kematian atau takut ditinggal sendirian atau takut terhadap bahaya yang mengancam.

Sifat manusia inilah yang menjadi modal bagi syaitan, iblis dan turunannya dalam menyesatkan manusia. Dengan sifat lemah manusia, mereka (syaitan, iblis dan turunannya) mencari peluang dan setiap kesempatan untuk masuk membisiki dada anak manusia. Ketika mereka sendirian mereka akan mengajak manusia berangan-angan, angan-angan panjang yang dapat melupakan dan bahkan tanpa disadari mengajak manusia untuk terjun kepada perbuatan maksiyat (apakah itu khayalan untuk mendapatkan harta, wanita atau tahta). Karena itu Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang suka berandai-andai dan melamun. Karena berandai-andai dan melamun adalah pintu masuknya syaitan dan turunannya ke dalam dada anak manusia.

Ketika manusia berada dalam kelompoknya, mereka (syaitan, iblis dan turunannya) pula tidak akan tinggal diam membiarkan manusia hidup dalam kedamaian dan jalinan silaturahmi yang indah. Mereka akan mencari celah dan setiap kesempatan untuk mengadu domba manusia dalam kelompoknya sehingga akan muncul pertengkaran, persiteruan, dan permusuhan. Pintu terhadap perbuatan maksiyat lain pun akan terbuka dari sana, akan muncul perkelahian, saling menyakiti satu sama lain sampai pembunuhan menjadi jalan lain atas dendam dan sakit hati yang muncul dalam adu domba yang dimotori oleh syaitan, iblis dan turunannya tadi yang notabene akan memberi cap/tanda pada mereka sebagai teman dan budak syaitan (baca: ahli neraka).

Ketika manusia berlainan jenis berdua-duaan, mereka akan membisikkan syahwat ke dalam dada keduanya. Sehingga semakin indahlah setiap jengkal ciptaan ALLAH pada kedua makhluk berlainan jenis tadi. Baik laki-laki maupun perempuan, apalagi yang tipis imannya dan tidak terlatih untuk membentengi dirinya dari maksiyat. Sehingga berzina akan menjadi pilihan yang biasa, dan aborsi menjadi satu-satunya pilihan ketika bisikan lain (sesudah dosa besar akan ada dosa besar lain) muncul dalam hatinya, ketidaksanggupan menahan malu atau bayangan-bayangan yang dibisikkan oleh syaitan dan turunannya akan beratnya berumah tangga atau menikah karena terpaksa.

Sifat manusia (lemah, harap, takut) yang menjadi modal bagi syaitan, iblis dan turunannya dalam menyesatkan manusia. Dengan sifat harapnya mereka membisikkan ke dada manusia untuk mencari kehidupan yang layak, kaya, senang dan hartawan. Dengan bayangan agar diterima di lingkungannya, agar dihormati, agar disanjung dan dipuja. Dengan itu pula bisikan untuk mencari harta sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan ajaran ISLAM pun akan menjadi hal yang biasa. Mengambil harta orang lain dengan riba, berjudi atau menyelenggarakan ajang judi, menumpuk harta dan enggan menyisihkan sebagian kecil daripadanya untuk anak yatim dan fakir miskin, malas berderma, dan membuat manusia tidak mau berinfak, bersedekah, dan berzakat. Mereka pula akan mencari celah untuk menyesatkan manusia dengan mencuri harapannya terhadap pertolongan ALLAH, membuat manusia putus asa dalam setiap masalah yang dihadapinya, membuat manusia lupa akan keberadaan ALLAH sebagai RABBUL ‘ALAMIN dan KHALIK yang menciptakan, menguasai, mengatur setiap penyelenggaraan peristiwa langit dan bumi, yang mengabulkan doa-doa, yang MAHA penolong dan MAHA pemberi kemudahan, yang MAHA melihat dan MAHA menyaksikan, yang MAHA mendengar dan MAHA mengampuni dosa hambanya yang mau bertaubat.

Dengan sifat takutnya, mereka (syaitan, iblis dan turunannya) akan mencari celah dan setiap kesempatan untuk membuat manusia lupa. Lupa akan ada hari akhir, lupa kalau usia itu berbatas, lupa kalau hidup adalah kefanaan yang sementara dengan akhirat yang menjadi kehidupan sebenarnya. Sehingga manusia akan tidak terasa menghabiskan umurnya dalam ambisi, dalam keinginan dan keserakahan (duniawi). Kematian hanya menjadi bayangan (yang mereka ciptakan) berupa “Suatu saat yang akan terjadi jika umur kamu 70 tahun, karena rata-rata manusia meninggal usia itu atau lebih” dan “Bersenang-senang dulu, menikmati hidup, bertaubat itu nanti jika sudah tua atau sudah naik haji” atau “Mati itu urusan ALLAH, yang penting kita berusaha memperbaiki diri.. semua itu tergantung hati, yang penting ada perbaikan sedikit demi sedikit..” (padahal masih bergelimang dengan maksiyat) atau “Paling tidak saya beragama ISLAM dan mengakui adanya ALLAH, walaupun nanti mendapat siksa (neraka) tapi pasti pada akhirnya saya masuk surga” Masya ALLAH.

Ketika manusia sudah mengenal dirinya dan mengetahui celah-celah pintu syaitan, iblis dan turunannya untuk masuk ke dalam dada manusia, maka dapatlah dimengerti jika:
1. Sifat ingkar manusia, itu adalah didikan syaitan
2. Sifat sombong manusia, itu adalah terapan syaitan
3. Sifat keras hati manusia, itu adalah bagian syaitan
4. Sifat durhaka manusia, itu adalah benih syaitan
5. Sifat takut manusia (terhadap hal yang tidak pasti), itu adalah bisikan syaitan
6. Sifat suka maksiyat manusia, itu adalah warisan syaitan
7. Sifat adu domba manusia, itu adalah titipan syaitan
8. Sifat suka bergunjing manusia, itu adalah perpanjangan bibir syaitan
9. Sifat suka mengurusi dan mencampuri orang lain, itu adalah sifat anak turunannya syaitan
10. Sifat enggan menolong orang dalam kebaikan, itu adalah mutlak isi hati syaitan

Tidak banyaknya surat yang memuat khusus huruf Sin diawal suratnya sebenarnya dapat mencuatkan satu pertanyaan dalam akal kita. Apakah Sin yang menjadi perlambang syaitan ini tidaklah penting dalam kehidupan manusia sementara Rasulullah sendiri dalam hadits shahihnya menyebutkan kalau Syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Namun dengan “tafahum fis-Sin” di atas, dengan mengenal musuh kita tadi, dapat diambil kesimpulan sederhana yaitu bahwa sesungguhnya meskipun ia musuh yang nyata namun tidaklah berbahaya apabila kita telah mengenali diri kita sendiri, mengenali RABB kita dan selalu membentengi diri dari tiap celah maksiyat dan perbuatan dosa (baik yang kecil apalagi yang besar).

Wallahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>