on November 17, 2011 by admin in Risalah, Comments (0)

M a l u

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Berkata Rasulullah (SAW): “Sebaik-baik pakaian adalah malu” (HR. Muslim)

Malu yang dimaksud dalam hadits di atas bukan sekedar perasaan malu untuk melakukan sesuatu karena takut nama baik tercemar, takut orang lain yang melihat menganggap rendah terhadap perbuatan kita, atau karena takut dianggap jelek karena perbuatan tadi.

Misalnya seorang pejabat pemerintah malu untuk melakukan korupsi karena takut namanya tercemar, takut khalayak ramai akan mengetahui sehingga jelek dan rendahlah dirinya di hadapan mereka.

Malu yang dimaksud di dalam hadits di atas bukan pula merujuk kepada sifat malu atau pemalu, dimana pada keadaan tertentu seseorang yang sifatnya tertutup enggan untuk lebih membuka diri atau berinteraksi dengan orang di sekelilingnya.

Misalnya seorang laki-laki, Ahmad terkenal pemalu di antara teman-temannya. Ahmad selalu menundukkan pandangannya ketika berbicara karena malunya. Ahmad tidak bisa banyak bercerita tentang dirinya, keluarganya, hobi atau kesukaannya atau aktivitasnya sehari-hari karena sifat pemalunya. Malu yang sedemikian bukan pula yang dimaksud dalam hadits di atas.

“Sebaik-baik pakaian adalah malu”
Mau yang dimaksud adalah malu untuk melakukan maksiyat terhadap ALLAH, malu untuk melakukan perbuatan dosa baik kecil apalagi besar, malu untuk tidak ikut bersama barisan jamaah Islam dalam berbuat kebaikan. Malu yang sedemikian inilah yang diibaratkan Rasulullah (SAW) lebih mahal harganya dari pakaian bebenang sutera.

Sifat malu seperti ini hanya dapat kita capai dengan landasan iman yang kuat. Iman yang kuat dimotori oleh pemahaman tauhid yang sempurna. Tauhid yang semurna hanya satu, LA ILA HA ILLA ALLAH, tiada Ilah selain ALLAH.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>