on August 30, 2011 by admin in Hikmah, Tarbiyah, Comments (0)

Akhir Ramadhan, Bermulanya Syawal

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Suka cita ummat Islam di seluruh dunia pada hari ini, tidak dirasakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia yang mengikuti “Lebaran Pemerintah” yang ditetapkan jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Keputusan tersebut diambil berdasarkan suara terbanyak dengan argumen penguat bahwa hilal belum cukup 2 derajat untuk dinyatakan berakhirnya Ramadhan dan bermulanya Syawal. Ormas Islam yang lain, dengan ijma’ (kesepakatan ulama) nya yang telah melihat hilal di 1,3 derajat dan merujuk ke hadits Nabi bahwa sudah mencukupi syarat untuk dikatakan Syawal apabila sudah terlihat bulan meskipun segaris, sepakat untuk merayakan Idul Fitri hari ini.

Dari Rasulullah (SAW), “Diwajibkan atasmu berbuka dan menyudahi Ramadhan apabila telah terlihat olehmu bulan meskipun segaris.” (Muttafaq ‘alaih)

Diwajibkan berbuka dan menyudahi puasa Ramadhan apabila telah terlihat bulan meskipun segaris, adalah dasar hukum terkuat yang semestinya menjadi acuan ulama yang dipercaya pemerintah untuk mengambil keputusan yang akan diikuti ummat. Namun berbagai dalil dan tinjauan astronomi yang sebenarnya malah merancukan, membuat ulama yang dipercaya ini sibuk dengan hitungan derajat dan lupa akan adanya ijma’ ulama yang bisa dipercaya (dari negara-negara Islam lain) yang mungkin sudah melihat hilal. Misalnya Arab Saudi, Mekkah Al-Mukarramah yang selama ini menjadi kiblat shalat, arah pemersatu, yang menyudahi Ramadhan di tanggal 30 Agustus karena telah melihat hilal.

Akhir Ramadhan dan bermulanya Syawal, yang ditandai dengan melihat bulan meskipun segaris tadi, pada masa Rasulullah berbeda jauh dengan yang dipraktekkan ummat Islam saat ini. Dimana-mana orang berbondong-bondong berbelanja baju baru, membuat berbagai makanan dan hidangan, serta menghiasi rumah sehingga cenderung menjadi konsumtif dan berlebih-lebihan. Padahal sunnah Idul Fitri adalah bersilaturrahmi.

Kegembiraan yang sangat, yang dirasakan ummat sekarang jauh berbeda dengan kegembiraan generasi binaan Rasulullah ketika mendapati Syawal, sebagai bulan yang dirasakan sama dengan bulan-bulan yang lain. Mendapati Syawal sebagai akhir Ramadhan bukanlah berita yang menggembirakan, namun terkandung rahmat dan berkah ALLAH di dalamnya, dimana tiap orang yang berhasil lulus dalam ‘madrasah tarbiyah’ selama Ramadhan akan kembali kepada fitrahnya, kembali dari nol lagi dalam menjalani kehidupannya untuk satu tahun ke depan ia diharapkan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sisa-sisa Ramadhan adalah keteguhan hati, kekuatan iman, ketahanan terhadap godaan dan kekuatan benteng diri dalam membatasi perbuatan ma’siyat. Nilai yang jauh menyimpang dari apa yang sekarang sedang ummat Islam laksanakan. Meski demikian, akhir Ramadhan dan bermulanya Syawal tetaplah memiliki nilai tersendiri, minimal ukhuwah dan silaturrahmi dengan seluruh anggota keluarga baik yang jauh maupun yang dekat, saling berbagi rezeki dan saling berbagi maaf.

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Tags: , , , , , , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>